Senin, November 2, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

SK Trimurti: Dari Penjara Kolonial ke Suara Buruh yang Tak Pernah Diam

by dimas
April 18, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di sebuah masa ketika perempuan hanya diharapkan diam di rumah, Soerastri Karma Trimurti justru memilih jalan sebaliknya. Ia keluar dari ruang kelas, meninggalkan profesi guru, dan melangkah ke dunia yang penuh risiko: politik, jurnalisme, dan perlawanan.

Semua bermula dari satu hal sederhana namun mengubah hidupnya pidato Soekarno. Dari sana, kesadarannya tumbuh. Ia tidak lagi melihat penjajahan sebagai sesuatu yang jauh, tetapi sebagai luka yang harus dilawan.

Keputusan bergabung dengan Partindo pada 1933 bukan sekadar pilihan organisasi. Itu adalah titik balik. Ia menolak takdir sosial yang membatasi perempuan. Ia memilih menjadi bagian dari sejarah.

Pena yang Lebih Tajam dari Senjata

Trimurti tidak membawa senjata. Ia membawa pena.

Namun di masa kolonial, tulisan bisa lebih berbahaya daripada peluru. Pamflet antipenjajah yang ia sebarkan membuatnya dipenjara pada 1936 di Semarang. Bukan sekali. Ia keluar-masuk penjara selama bertahun-tahun.

Ini Belum Selesai

Banjir Aceh Barat: 12 Desa Terendam, Infrastruktur Terkikis, Mitigasi Kembali Diuji

Dua Korporasi Tersangka Karhutla, Ancaman Kerusakan Hutan Berlanjut

Alih-alih mundur, ia justru menguat.

Setelah bebas, ia masuk ke dunia jurnalistik. Ia menulis dengan nama samaran untuk menghindari sensor Belanda. Tapi pesannya tetap jelas: melawan ketidakadilan.

“Bagi Trimurti, pers bukan sekadar media. Ini alat perjuangan,” tulis salah satu kajian tentang dirinya.

Bersama suaminya, Sayuti Melik, ia mendirikan koran Pesat. Mereka menulis, mencetak, hingga mendistribusikan sendiri. Hidup mereka sederhana, bahkan sering kekurangan. Tapi satu hal tidak pernah kurang: keberanian.

Buruh, Perempuan, dan Negara yang Baru Lahir

Setelah Indonesia merdeka, perjuangan Trimurti tidak berhenti. Ia justru masuk ke dalam sistem.

Ia menjadi Menteri Tenaga Kerja pertama Indonesia pada 1947. Di posisi ini, ia membawa satu misi besar memperjuangkan hak buruh.

Di tengah negara yang masih rapuh, isu buruh sering dianggap nomor dua. Tapi tidak bagi Trimurti. Ia melihat buruh sebagai tulang punggung bangsa.

Ia mendorong kebijakan yang lebih adil. Ia memperjuangkan kesejahteraan pekerja. Ia menolak eksploitasi yang selama ini dianggap “normal”.

Masalahnya, perjuangan ini tidak pernah mudah.

Negara baru sering kali sibuk dengan stabilitas politik. Sementara itu, suara buruh tetap di pinggir. Di sinilah Trimurti berdiri: sebagai jembatan antara kekuasaan dan rakyat.

Perempuan yang Melawan Batas

Trimurti tidak hanya bicara soal buruh. Ia juga bicara soal perempuan.

Ia memimpin Gerakan Wanita Sedar, yang kemudian menjadi cikal bakal Gerwani. Ia percaya perempuan tidak boleh hanya jadi penonton dalam sejarah.

Pada masa itu, perempuan berpolitik masih dianggap tabu. Tapi Trimurti menabrak batas itu.

Ia menunjukkan bahwa perempuan bisa berpikir, memimpin, dan melawan.

“Perempuan dan laki-laki punya hak yang sama untuk maju,” adalah prinsip yang ia jalani, bukan sekadar ucapkan.

Tiga Zaman, Satu Perlawanan

Trimurti hidup dalam tiga zaman kolonial Belanda, pendudukan Jepang, dan Indonesia merdeka.

Di setiap fase, ia tidak pernah berhenti melawan.

Ia menyaksikan perang di Semarang. Ia ikut menyebarkan berita kemerdekaan. Ia menjadi bagian dari KNIP, membantu jalannya negara yang baru lahir.

Bahkan di usia senja, ia masih aktif. Ia ikut menandatangani Petisi 50 pada 1980, bentuk kritik terhadap kekuasaan.

Ini bukan sekadar perjalanan hidup. Ini adalah konsistensi.

Warisan yang Masih Relevan

SK Trimurti wafat pada 20 Mei 2008. Tapi pertanyaannya apakah perjuangannya sudah selesai?

Jawabannya belum.

Hari ini, isu buruh masih muncul. Ketimpangan masih ada. Perempuan masih berjuang untuk ruang yang setara.

Trimurti bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah cermin.

Bahwa perubahan tidak datang dari diam. Tapi dari keberanian untuk bicara, menulis, dan melawan.

Dan mungkin, pertanyaan terbesarnya adalah, kalau Trimurti masih hidup hari ini, di pihak mana ia berdiri? @dimas

Tags: buruh IndonesiaPerempuan MelawanPerjuangan BuruhSejarah Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Sumpah Pemuda: Sejarah Persatuan yang Melampaui Perbedaan

Sumpah Pemuda: Sejarah Persatuan yang Melampaui Perbedaan

by dimas
Oktober 27, 2026

Sumpah Pemuda menjadi tonggak persatuan bangsa. Dari perbedaan identitas, para pemuda pada 1928 merajut satu tanah air, satu bangsa, dan...

Hari Kesaktian Pancasila: Ketika Sejarah Menjadi Ingatan Negara

Hari Kesaktian Pancasila: Ketika Sejarah Menjadi Ingatan Negara

by dimas
Oktober 1, 2026

Hari Kesaktian Pancasila menjadi ruang mengingat peristiwa 1965, perjalanan sejarah, dan perubahan cara bangsa Indonesia membaca masa lalu setelah Reformasi....

Film G30S/PKI Pernah Catatkan Diri sebagai Film Termahal

Film G30S/PKI Pernah Catatkan Diri sebagai Film Termahal

by eko
September 30, 2026

Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer tercatat menghabiskan Rp800 juta dan menjadi film termahal pada dekade 1980-an. Film...

Next Post
Slank Naik Volume Kritik: Ini Masih Musik atau Sindiran Terbuka?

“PPN 12%”: Lagu Slank yang Menyentil Judi Online dan Legalitas yang Abu-abu

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id