Tabooo.id: Deep – Di sebuah masa ketika perempuan hanya diharapkan diam di rumah, Soerastri Karma Trimurti justru memilih jalan sebaliknya. Ia keluar dari ruang kelas, meninggalkan profesi guru, dan melangkah ke dunia yang penuh risiko: politik, jurnalisme, dan perlawanan.
Semua bermula dari satu hal sederhana namun mengubah hidupnya pidato Soekarno. Dari sana, kesadarannya tumbuh. Ia tidak lagi melihat penjajahan sebagai sesuatu yang jauh, tetapi sebagai luka yang harus dilawan.
Keputusan bergabung dengan Partindo pada 1933 bukan sekadar pilihan organisasi. Itu adalah titik balik. Ia menolak takdir sosial yang membatasi perempuan. Ia memilih menjadi bagian dari sejarah.
Pena yang Lebih Tajam dari Senjata
Trimurti tidak membawa senjata. Ia membawa pena.
Namun di masa kolonial, tulisan bisa lebih berbahaya daripada peluru. Pamflet antipenjajah yang ia sebarkan membuatnya dipenjara pada 1936 di Semarang. Bukan sekali. Ia keluar-masuk penjara selama bertahun-tahun.
Alih-alih mundur, ia justru menguat.
Setelah bebas, ia masuk ke dunia jurnalistik. Ia menulis dengan nama samaran untuk menghindari sensor Belanda. Tapi pesannya tetap jelas: melawan ketidakadilan.
“Bagi Trimurti, pers bukan sekadar media. Ini alat perjuangan,” tulis salah satu kajian tentang dirinya.
Bersama suaminya, Sayuti Melik, ia mendirikan koran Pesat. Mereka menulis, mencetak, hingga mendistribusikan sendiri. Hidup mereka sederhana, bahkan sering kekurangan. Tapi satu hal tidak pernah kurang: keberanian.
Buruh, Perempuan, dan Negara yang Baru Lahir
Setelah Indonesia merdeka, perjuangan Trimurti tidak berhenti. Ia justru masuk ke dalam sistem.
Ia menjadi Menteri Tenaga Kerja pertama Indonesia pada 1947. Di posisi ini, ia membawa satu misi besar memperjuangkan hak buruh.
Di tengah negara yang masih rapuh, isu buruh sering dianggap nomor dua. Tapi tidak bagi Trimurti. Ia melihat buruh sebagai tulang punggung bangsa.
Ia mendorong kebijakan yang lebih adil. Ia memperjuangkan kesejahteraan pekerja. Ia menolak eksploitasi yang selama ini dianggap “normal”.
Masalahnya, perjuangan ini tidak pernah mudah.
Negara baru sering kali sibuk dengan stabilitas politik. Sementara itu, suara buruh tetap di pinggir. Di sinilah Trimurti berdiri: sebagai jembatan antara kekuasaan dan rakyat.
Perempuan yang Melawan Batas
Trimurti tidak hanya bicara soal buruh. Ia juga bicara soal perempuan.
Ia memimpin Gerakan Wanita Sedar, yang kemudian menjadi cikal bakal Gerwani. Ia percaya perempuan tidak boleh hanya jadi penonton dalam sejarah.
Pada masa itu, perempuan berpolitik masih dianggap tabu. Tapi Trimurti menabrak batas itu.
Ia menunjukkan bahwa perempuan bisa berpikir, memimpin, dan melawan.
“Perempuan dan laki-laki punya hak yang sama untuk maju,” adalah prinsip yang ia jalani, bukan sekadar ucapkan.
Tiga Zaman, Satu Perlawanan
Trimurti hidup dalam tiga zaman kolonial Belanda, pendudukan Jepang, dan Indonesia merdeka.
Di setiap fase, ia tidak pernah berhenti melawan.
Ia menyaksikan perang di Semarang. Ia ikut menyebarkan berita kemerdekaan. Ia menjadi bagian dari KNIP, membantu jalannya negara yang baru lahir.
Bahkan di usia senja, ia masih aktif. Ia ikut menandatangani Petisi 50 pada 1980, bentuk kritik terhadap kekuasaan.
Ini bukan sekadar perjalanan hidup. Ini adalah konsistensi.
Warisan yang Masih Relevan
SK Trimurti wafat pada 20 Mei 2008. Tapi pertanyaannya apakah perjuangannya sudah selesai?
Jawabannya belum.
Hari ini, isu buruh masih muncul. Ketimpangan masih ada. Perempuan masih berjuang untuk ruang yang setara.
Trimurti bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah cermin.
Bahwa perubahan tidak datang dari diam. Tapi dari keberanian untuk bicara, menulis, dan melawan.
Dan mungkin, pertanyaan terbesarnya adalah, kalau Trimurti masih hidup hari ini, di pihak mana ia berdiri? @dimas






