Minggu, April 19, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

SK Trimurti: Dari Penjara Kolonial ke Suara Buruh yang Tak Pernah Diam

April 18, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di sebuah masa ketika perempuan hanya diharapkan diam di rumah, Soerastri Karma Trimurti justru memilih jalan sebaliknya. Ia keluar dari ruang kelas, meninggalkan profesi guru, dan melangkah ke dunia yang penuh risiko: politik, jurnalisme, dan perlawanan.

Semua bermula dari satu hal sederhana namun mengubah hidupnya pidato Soekarno. Dari sana, kesadarannya tumbuh. Ia tidak lagi melihat penjajahan sebagai sesuatu yang jauh, tetapi sebagai luka yang harus dilawan.

Keputusan bergabung dengan Partindo pada 1933 bukan sekadar pilihan organisasi. Itu adalah titik balik. Ia menolak takdir sosial yang membatasi perempuan. Ia memilih menjadi bagian dari sejarah.

Pena yang Lebih Tajam dari Senjata

Trimurti tidak membawa senjata. Ia membawa pena.

Namun di masa kolonial, tulisan bisa lebih berbahaya daripada peluru. Pamflet antipenjajah yang ia sebarkan membuatnya dipenjara pada 1936 di Semarang. Bukan sekali. Ia keluar-masuk penjara selama bertahun-tahun.

BacaJuga

37% ODHIV Tak Terdeteksi: Krisis HIV Indonesia

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

Alih-alih mundur, ia justru menguat.

Setelah bebas, ia masuk ke dunia jurnalistik. Ia menulis dengan nama samaran untuk menghindari sensor Belanda. Tapi pesannya tetap jelas: melawan ketidakadilan.

“Bagi Trimurti, pers bukan sekadar media. Ini alat perjuangan,” tulis salah satu kajian tentang dirinya.

Bersama suaminya, Sayuti Melik, ia mendirikan koran Pesat. Mereka menulis, mencetak, hingga mendistribusikan sendiri. Hidup mereka sederhana, bahkan sering kekurangan. Tapi satu hal tidak pernah kurang: keberanian.

Buruh, Perempuan, dan Negara yang Baru Lahir

Setelah Indonesia merdeka, perjuangan Trimurti tidak berhenti. Ia justru masuk ke dalam sistem.

Ia menjadi Menteri Tenaga Kerja pertama Indonesia pada 1947. Di posisi ini, ia membawa satu misi besar memperjuangkan hak buruh.

Di tengah negara yang masih rapuh, isu buruh sering dianggap nomor dua. Tapi tidak bagi Trimurti. Ia melihat buruh sebagai tulang punggung bangsa.

Ia mendorong kebijakan yang lebih adil. Ia memperjuangkan kesejahteraan pekerja. Ia menolak eksploitasi yang selama ini dianggap “normal”.

Masalahnya, perjuangan ini tidak pernah mudah.

Negara baru sering kali sibuk dengan stabilitas politik. Sementara itu, suara buruh tetap di pinggir. Di sinilah Trimurti berdiri: sebagai jembatan antara kekuasaan dan rakyat.

Perempuan yang Melawan Batas

Trimurti tidak hanya bicara soal buruh. Ia juga bicara soal perempuan.

Ia memimpin Gerakan Wanita Sedar, yang kemudian menjadi cikal bakal Gerwani. Ia percaya perempuan tidak boleh hanya jadi penonton dalam sejarah.

Pada masa itu, perempuan berpolitik masih dianggap tabu. Tapi Trimurti menabrak batas itu.

Ia menunjukkan bahwa perempuan bisa berpikir, memimpin, dan melawan.

“Perempuan dan laki-laki punya hak yang sama untuk maju,” adalah prinsip yang ia jalani, bukan sekadar ucapkan.

Tiga Zaman, Satu Perlawanan

Trimurti hidup dalam tiga zaman kolonial Belanda, pendudukan Jepang, dan Indonesia merdeka.

Di setiap fase, ia tidak pernah berhenti melawan.

Ia menyaksikan perang di Semarang. Ia ikut menyebarkan berita kemerdekaan. Ia menjadi bagian dari KNIP, membantu jalannya negara yang baru lahir.

Bahkan di usia senja, ia masih aktif. Ia ikut menandatangani Petisi 50 pada 1980, bentuk kritik terhadap kekuasaan.

Ini bukan sekadar perjalanan hidup. Ini adalah konsistensi.

Warisan yang Masih Relevan

SK Trimurti wafat pada 20 Mei 2008. Tapi pertanyaannya apakah perjuangannya sudah selesai?

Jawabannya belum.

Hari ini, isu buruh masih muncul. Ketimpangan masih ada. Perempuan masih berjuang untuk ruang yang setara.

Trimurti bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah cermin.

Bahwa perubahan tidak datang dari diam. Tapi dari keberanian untuk bicara, menulis, dan melawan.

Dan mungkin, pertanyaan terbesarnya adalah, kalau Trimurti masih hidup hari ini, di pihak mana ia berdiri? @dimas

Tags: buruh IndonesiaGerakan PerempuanInspirasi TokohJurnalisme PerlawananPerempuan MelawanPerjuangan BuruhSejarah Indonesiasejarah pergerakanSK TrimurtiTokoh Nasional

REKOMENDASI TABOOO

Tanpa Kartini, Ketimpangan Bisa Jadi Normal Sampai Hari Ini

Tanpa Kartini, Ketimpangan Bisa Jadi Normal Sampai Hari Ini

by eko
April 19, 2026

Bayangkan dunia tanpa satu suara yang pernah mengganggu sunyi sejarah: RA Kartini tidak pernah menulis, tidak pernah bertanya, dan tidak...

Soeara Boeroeh 1947: Mimpi Buruh yang Masih Relevan di 2026

Soeara Boeroeh 1947: Mimpi Buruh yang Masih Relevan di 2026

by Tabooo
April 19, 2026

Soeara Boeroeh 1947 bukan sekadar dokumen tua yang tersimpan dalam arsip sejarah. Ia adalah jejak dari sebuah momen ketika buruh...

Kenapa 1 Mei Hari Buruh? Karena Hak Kerja Dibayar Nyawa

Kenapa 1 Mei Hari Buruh? Karena Hak Kerja Dibayar Nyawa

by eko
April 19, 2026

Tabooo.id: News - Setiap 1 Mei, banyak pekerja menikmati hari libur. Namun, tanggal ini bukan sekadar waktu santai. Di baliknya,...

Next Post
Slank Naik Volume Kritik: Ini Masih Musik atau Sindiran Terbuka?

“PPN 12%”: Lagu Slank yang Menyentil Judi Online dan Legalitas yang Abu-abu

Recommended

Serial Baru Netflix Ini Buktikan Film Kuliner Bisa Punya Cerita Dalam

Serial Baru Netflix Ini Buktikan Film Kuliner Bisa Punya Cerita Dalam

April 18, 2026
Mengapa Klub Indonesia Sering Miskin di Balik Nama Besar?

Mengapa Klub Indonesia Sering Miskin di Balik Nama Besar?

April 15, 2026

Popular

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

April 19, 2026

The Mummy Versi Baru: Horor Keluarga atau Trauma yang Bangkit?

April 17, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id