Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

SK Trimurti: Dari Penjara Kolonial ke Suara Buruh yang Tak Pernah Diam

by dimas
April 18, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di sebuah masa ketika perempuan hanya diharapkan diam di rumah, Soerastri Karma Trimurti justru memilih jalan sebaliknya. Ia keluar dari ruang kelas, meninggalkan profesi guru, dan melangkah ke dunia yang penuh risiko: politik, jurnalisme, dan perlawanan.

Semua bermula dari satu hal sederhana namun mengubah hidupnya pidato Soekarno. Dari sana, kesadarannya tumbuh. Ia tidak lagi melihat penjajahan sebagai sesuatu yang jauh, tetapi sebagai luka yang harus dilawan.

Keputusan bergabung dengan Partindo pada 1933 bukan sekadar pilihan organisasi. Itu adalah titik balik. Ia menolak takdir sosial yang membatasi perempuan. Ia memilih menjadi bagian dari sejarah.

Pena yang Lebih Tajam dari Senjata

Trimurti tidak membawa senjata. Ia membawa pena.

Namun di masa kolonial, tulisan bisa lebih berbahaya daripada peluru. Pamflet antipenjajah yang ia sebarkan membuatnya dipenjara pada 1936 di Semarang. Bukan sekali. Ia keluar-masuk penjara selama bertahun-tahun.

Ini Belum Selesai

Ketika Riset Jadi Tiket Liburan ke Denmark

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Alih-alih mundur, ia justru menguat.

Setelah bebas, ia masuk ke dunia jurnalistik. Ia menulis dengan nama samaran untuk menghindari sensor Belanda. Tapi pesannya tetap jelas: melawan ketidakadilan.

“Bagi Trimurti, pers bukan sekadar media. Ini alat perjuangan,” tulis salah satu kajian tentang dirinya.

Bersama suaminya, Sayuti Melik, ia mendirikan koran Pesat. Mereka menulis, mencetak, hingga mendistribusikan sendiri. Hidup mereka sederhana, bahkan sering kekurangan. Tapi satu hal tidak pernah kurang: keberanian.

Buruh, Perempuan, dan Negara yang Baru Lahir

Setelah Indonesia merdeka, perjuangan Trimurti tidak berhenti. Ia justru masuk ke dalam sistem.

Ia menjadi Menteri Tenaga Kerja pertama Indonesia pada 1947. Di posisi ini, ia membawa satu misi besar memperjuangkan hak buruh.

Di tengah negara yang masih rapuh, isu buruh sering dianggap nomor dua. Tapi tidak bagi Trimurti. Ia melihat buruh sebagai tulang punggung bangsa.

Ia mendorong kebijakan yang lebih adil. Ia memperjuangkan kesejahteraan pekerja. Ia menolak eksploitasi yang selama ini dianggap “normal”.

Masalahnya, perjuangan ini tidak pernah mudah.

Negara baru sering kali sibuk dengan stabilitas politik. Sementara itu, suara buruh tetap di pinggir. Di sinilah Trimurti berdiri: sebagai jembatan antara kekuasaan dan rakyat.

Perempuan yang Melawan Batas

Trimurti tidak hanya bicara soal buruh. Ia juga bicara soal perempuan.

Ia memimpin Gerakan Wanita Sedar, yang kemudian menjadi cikal bakal Gerwani. Ia percaya perempuan tidak boleh hanya jadi penonton dalam sejarah.

Pada masa itu, perempuan berpolitik masih dianggap tabu. Tapi Trimurti menabrak batas itu.

Ia menunjukkan bahwa perempuan bisa berpikir, memimpin, dan melawan.

“Perempuan dan laki-laki punya hak yang sama untuk maju,” adalah prinsip yang ia jalani, bukan sekadar ucapkan.

Tiga Zaman, Satu Perlawanan

Trimurti hidup dalam tiga zaman kolonial Belanda, pendudukan Jepang, dan Indonesia merdeka.

Di setiap fase, ia tidak pernah berhenti melawan.

Ia menyaksikan perang di Semarang. Ia ikut menyebarkan berita kemerdekaan. Ia menjadi bagian dari KNIP, membantu jalannya negara yang baru lahir.

Bahkan di usia senja, ia masih aktif. Ia ikut menandatangani Petisi 50 pada 1980, bentuk kritik terhadap kekuasaan.

Ini bukan sekadar perjalanan hidup. Ini adalah konsistensi.

Warisan yang Masih Relevan

SK Trimurti wafat pada 20 Mei 2008. Tapi pertanyaannya apakah perjuangannya sudah selesai?

Jawabannya belum.

Hari ini, isu buruh masih muncul. Ketimpangan masih ada. Perempuan masih berjuang untuk ruang yang setara.

Trimurti bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah cermin.

Bahwa perubahan tidak datang dari diam. Tapi dari keberanian untuk bicara, menulis, dan melawan.

Dan mungkin, pertanyaan terbesarnya adalah, kalau Trimurti masih hidup hari ini, di pihak mana ia berdiri? @dimas

Tags: buruh IndonesiaPerempuan MelawanPerjuangan BuruhSejarah Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Saujana Malam dan Monumen Perahu Penjaga Sejarah Mojokerto

Saujana Malam dan Monumen Perahu Penjaga Sejarah Mojokerto

by teguh
Juni 5, 2026

Malam perlahan menyelimuti Kota Mojokerto. Sisa cahaya senja tenggelam di balik cakrawala. Lampu-lampu jalan mulai mengambil alih tugas matahari dan...

Majapahit Tidak Dikalahkan Musuh, Tapi Ego Elitnya Sendiri

Majapahit Tidak Dikalahkan Musuh, Tapi Ego Elitnya Sendiri

by teguh
Juni 4, 2026

Kendaraan melintas tanpa henti. Klakson bersahutan di bawah terik matahari. Aktivitas ekonomi bergerak seperti biasa. Di tengah kesibukan itu, satu...

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

by teguh
Juni 4, 2026

Suara mesin bus meraung memecah siang. Debu beterbangan mengikuti langkah para penumpang yang datang dan pergi di sebuah terminal. Matahari...

Next Post
Slank Naik Volume Kritik: Ini Masih Musik atau Sindiran Terbuka?

“PPN 12%”: Lagu Slank yang Menyentil Judi Online dan Legalitas yang Abu-abu

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id