Tabooo.id: Deep –Pendidikan perempuan di awal abad ke-20 banyak dilihat sebagai upaya sederhana, yaitu mengajarkan membaca dan menulis. Namun realitanya jauh lebih dalam dari itu.
Di masa kolonial, akses terhadap pengetahuan bukan sekadar fasilitas, tetapi alat kontrol sosial. Pihak yang memahami informasi memiliki kuasa, sementara yang tidak memahami akan terus bergantung.
Pada masa itu, sistem secara sengaja menempatkan perempuan di luar akses pengetahuan formal. Sistem juga membentuk mereka untuk patuh, bukan untuk berpikir.
Ketika Roehana Koeddoes mulai mengajar, ia tidak hanya membuka kelas. Ia membuka akses terhadap cara memahami realitas.
Dan di titik itu, pendidikan berubah menjadi ancaman.
1900–1910: Ketika Pengetahuan Mulai Bocor dari Sistem
Awal abad ke-20 menjadi fase krusial dalam perubahan sosial di Hindia Belanda. Pendidikan mulai berkembang, tetapi tetap terbatas pada kelompok tertentu, terutama laki-laki dan elite.
Hal ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Perempuan yang sebelumnya hanya menerima realitas, kini mulai mempertanyakan.
Dari sini, pengetahuan mulai “bocor” dari sistem yang selama ini tertutup.
1911: Kerajinan Amai Setia — Sekolah atau Blueprint Perlawanan?
Namun jika dilihat lebih dalam, KAS adalah sistem pendidikan alternatif.
Di sana, Roehana tidak hanya mengajarkan perempuan menjahit atau menyulam. Ia juga mengajarkan mereka membaca situasi, mengelola hasil kerja, dan memahami nilai ekonomi.
Artinya, mereka tidak hanya menjadi “terampil”, tetapi juga mandiri secara finansial. Dan ketika seseorang mandiri secara ekonomi, ia mulai memiliki pilihan.
Pengetahuan Mendorong Kemandirian. Kemandirian Melemahkan Kontrol
Perubahan tidak terjadi secara instan. Namun pola mulai terlihat dengan jelas.
Perempuan yang belajar membaca, mulai memahami informasi. Alhasil, mereka pun mulai berpikir kritis. Karena meraka mampu berpikir kritis, akhirnya mulai bisa mengambil keputusan sendiri.
Dan dari situ, struktur lama mulai retak.
Sistem sosial tradisional bergantung pada ketidakseimbangan informasi. Selama satu pihak tidak tahu, pihak lain bisa mengatur.
Namun ketika pengetahuan menyebar, kontrol menjadi tidak stabil. Inilah titik di mana sistem mulai merasa terancam.
Tidak Ada Revolusi, Tapi Ada Pergeseran Kekuasaan
Tidak ada demonstrasi besar ataupun konflik terbuka.
Namun perubahan tetap terjadi. Dan justru lebih berbahaya karena tidak terlihat.
Perempuan mulai mengambil peran dalam ekonomi keluarga. Mereka mulai berpendapat dalam ruang sosial. Mereka pun mulai memiliki suara.
Perubahan ini tidak langsung menghancurkan sistem lama. Namun perlahan, ia menggeser fondasinya.
Revolusi paling kuat sering terjadi tanpa suara.
Kenapa Sistem Takut? Karena Kontrol Mulai Hilang
Setiap sistem kekuasaan memiliki satu fondasi utama: kontrol. Kontrol terhadap informasi, peran sosial, dan juga terhadap cara berpikir.
Ketika perempuan mulai belajar, ketiga kontrol itu mulai goyah. Mereka tidak lagi menerima narasi begitu saja. Mereka pun mulai menguji, membandingkan, dan mempertanyakan.
Dan di titik itu, kekuasaan tidak lagi absolut. Sistem tidak takut pada pendidika, tapi takut pada kesadaran.
Pola yang Masih Terjadi Hingga Saat Ini
Apa yang dilakukan Roehana bukan hanya relevan di masanya. Pola yang sama masih terjadi hari ini.
Akses terhadap informasi masih menjadi alat kekuasaan. Perbedaan hanya terletak pada bentuknya.
Dulu, akses dibatasi secara fisik. Sekarang, akses dibanjiri informasi, tapi tidak semua membantu kamu memahami.
Dan pertanyaannya tetap sama, siapa yang benar-benar mengerti, dan siapa yang hanya menerima? @tabooo






