Minggu, April 19, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Roehana Koeddoes: Tokoh atau Blueprint Kesadaran Perempuan Indonesia?

April 15, 2026
in Figures
A A
Home Figures
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Figures – Roehana Koeddoes tidak berpidato di panggung besar. Ia tidak menggerakkan massa di jalan, atau mengguncang dunia lewat revolusi terbuka.

Namun justru di situlah letak bahayanya. Roehana memilih bergerak di ruang sunyi. Ia masuk ke pikiran orang-orang sebelum mereka sadar berubah.

Kamu mungkin mengira perubahan selalu lahir dari teriakan keras. Namun seringkali sejarah bergerak diam-diam.

Sejarah tumbuh dari buku yang orang baca diam-diam. Ia menyebar lewat tulisan yang jarang disorot. Dan Ia hidup dari perempuan yang mulai berpikir berbeda.

Roehana Koeddoes membuktikan satu hal. Perubahan paling kuat tidak terlihat di permukaan. Perubahan itu bekerja pelan, tapi mengubah cara manusia berpikir.

BacaJuga

Muchtar Pakpahan: Saat Membela Buruh Berarti Menantang Negara

Joko Anwar: Anak Medan yang Mengubah Wajah Film Horor Indonesia

Kehidupan Roehana Koeddoes

1884–1890: Lahir di Sistem yang Membatasi, Tapi Tidak Menyerah

Roehana lahir pada 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Sumatera Barat.

Ia tumbuh di lingkungan Minangkabau yang secara adat memuliakan perempuan, tetapi tetap membatasi akses pendidikan formal.

Namun, sejak kecil, ia tidak menerima batas itu begitu saja.

Ayahnya, seorang pejabat kolonial, justru membuka akses literasi yang tidak dimiliki perempuan lain.

Akibatnya, sejak usia sangat dini, Roehana sudah hidup di dua dunia, tradisi yang membatasi dan pengetahuan yang membebaskan.

1890–1900: Belajar Tanpa Sekolah, Tapi Melampaui Sistem Pendidikan

Saat anak lain masuk sekolah, Roehana belajar di rumah.

Namun ironisnya, ia justru belajar lebih luas dibanding banyak siswa formal.

Ia mempelajari huruf Latin, Arab, dan Jawi secara paralel.

Sementara itu, ia membaca koran dan majalah Belanda yang jarang diakses masyarakat pribumi.

Di usia sekitar 8 tahun, ia mulai membaca berita keras-keras di depan warga.

Ini bukan sekadar aktivitas anak kecil, melainkan bentuk awal distribusi informasi dalam diri Roehana.

Tanpa sadar, ia sudah menjadi “media berjalan”.

1900–1910: Dari Pembaca Menjadi Pengajar

Memasuki usia remaja, Roehana tidak berhenti pada konsumsi ilmu.

Ia mulai mengajarkan anak-anak di sekitarnya membaca dan menulis.

Dia membuka kelas kecil di teras rumah, hanya dengan tikar sebagai alas.

Namun dari ruang sederhana itu, ia mulai membangun sesuatu yang lebih besar.

Masalahnya bukan sekadar buta huruf, tapi siapa yang punya akses terhadap pengetahuan.

Dan Roehana mulai memecahkan itu.

1911: Mendirikan Kerajinan Amai Setia

Pada 11 Februari 1911, Roehana mendirikan Kerajinan Amai Setia (KAS).

KAS bukan sekadar sekolah perempuan, tapi juga merancang sistem pendidikan yang terintegrasi.

Di tempat ini, perempuan belajar membaca, keterampilan, dan mempelajari ekonomi.

Melalui KAS, Roehana tidak hanya mengajarkan ilmu. Ia juga membangun kemandirian.

1912: Mendirikan Soenting Melajoe

Setahun setelah KAS berdiri, Roehana melangkah lebih jauh. Ia mendirikan surat kabar Soenting Melajoe pada 1912.

Surat kabar ini adalah media perempuan pertama dengan redaksi perempuan. Namun yang lebih penting, ini adalah alat kontrol narasi.

Roehana tidak lagi hanya mendidik perempuan. Tapi, ia juga memberi mereka ruang untuk berbicara dan berpikir secara publik.

Di sinilah perubahan mulai menyebar, bukan hanya tumbuh.

1915–1919: Pengakuan Sistem dan Legitimasi Kekuasaan

Pada 1915, KAS mendapatkan pengakuan hukum dari pemerintah kolonial. Kemudian pada 1919, mereka membangun gedung sekolah sendiri.

Ini bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan bukti bahwa sistem yang ia bangun mulai diakui bahkan oleh struktur kolonial.

Ironisnya, sistem yang ia ciptakan justru bekerja di dalam sistem yang menindasnya.

1916: Krisis

Namun, tidak semua berjalan mulus. Pada 1916, Roehana menghadapi tuduhan penyelewengan dana dari muridnya sendiri.

Ia harus menghadapi pengadilan, dan mempertahankan reputasi yang ia bangun bertahun-tahun.

Pengadilan akhirnya membuktikan Roehana tidak bersalah. Namun luka sosial itu tidak hilang begitu saja.

1916–1920: Mundur dari Jabatan, Tapi Tidak dari Perjuangan

Setelah bebas, Roehana menolak kembali memimpin KAS. Ia memilih meninggalkan posisi yang ia bangun sendiri.

Keputusan ini terlihat aneh. Namun di balik itu, ada satu hal, ia tidak ingin sistem bergantung pada dirinya.

Roehana pindah ke Bukittinggi dan mendirikan Roehana School. Ia mulai lagi dari nol dengan pola yang sama.

1920–1930: Ekspansi ke Medan

Pada 1920, Roehana pindah ke Medan. Kota ini adalah pusat ekonomi dan politik yang lebih kompleks.

Di sana, ia memimpin surat kabar Perempoean Bergerak. Tulisan-tulisannya mulai menyoroti isu buruh, eksploitasi, dan perdagangan perempuan.

Perjuangannya berubah skala, dari lokal menjadi regional.

1930–1972: Konsistensi Tanpa Sorotan

Di fase ini, Roehana tidak lagi menjadi headline. Namun, ia tetap aktif mengajar dan menulis hingga usia tua.

Ia tidak mengejar popularitas. Namun menjaga sistem yang sudah ia bangun tetap hidup.

Ia wafat pada 17 Agustus 1972. Ironisnya, pengakuan nasional datang puluhan tahun setelah itu.

2019: Pengakuan Negara, Tapi Sistem Sudah Lama Hidup

Pada 8 November 2019, pemerintah resmi menetapkan Roehana sebagai Pahlawan Nasional.

Namun jika kamu melihat timeline ini dengan jujur… pengakuan itu datang sangat terlambat.

Karena sistem yang ia bangun sudah bekerja jauh sebelum negara menyadarinya.

Roehana Bukan Hanya Tokoh Perempuan

Banyak orang melihat Roehana sebagai “tokoh perempuan”. Namun sebenarnya, ia adalah pembangun sistem sosial.

Roehana tidak sekadar melawan. Dia menciptakan cara baru untuk berpikir, belajar, dan hidup.

Ini bukan sekadar perjalanan hidup seorang Roehana Koeddoes. Ini adalah pola bagaimana perubahan sosial bekerja, pelan, sistematis, dan sering tidak terlihat.

Roehana tidak melawan dengan kekerasan. Ia melawan dengan sistem. Dan sistem selalu lebih kuat dari individu.

Sekarang pertanyaannya, Kalau kamu hidup di zaman ini… kamu mau jadi suara yang keras atau sistem yang mengubah segalanya diam-diam? @tabooo

Tags: emansipasi perempuanjurnalisme perempuanRoehana KoeddoesSejarah IndonesiaSoenting MelajoeTabooo Figurestokoh perempuan

REKOMENDASI TABOOO

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

by dimas
April 19, 2026

Tempat sakral sering terasa penuh misteri. Pagar putih, batu hitam, dan ritual tahunan hadir sebagai bagian dari cerita lama yang...

Tanpa Kartini, Ketimpangan Bisa Jadi Normal Sampai Hari Ini

Tanpa Kartini, Ketimpangan Bisa Jadi Normal Sampai Hari Ini

by eko
April 19, 2026

Bayangkan dunia tanpa satu suara yang pernah mengganggu sunyi sejarah: RA Kartini tidak pernah menulis, tidak pernah bertanya, dan tidak...

Soeara Boeroeh 1947: Mimpi Buruh yang Masih Relevan di 2026

Soeara Boeroeh 1947: Mimpi Buruh yang Masih Relevan di 2026

by Tabooo
April 19, 2026

Soeara Boeroeh 1947 bukan sekadar dokumen tua yang tersimpan dalam arsip sejarah. Ia adalah jejak dari sebuah momen ketika buruh...

Next Post
Video Bambu Berdiri Sendiri Viral: Keajaiban atau Fisika?

Video Bambu Berdiri Sendiri Viral: Keajaiban atau Fisika?

Recommended

Serial Baru Netflix Ini Buktikan Film Kuliner Bisa Punya Cerita Dalam

Serial Baru Netflix Ini Buktikan Film Kuliner Bisa Punya Cerita Dalam

April 18, 2026
Mengapa Klub Indonesia Sering Miskin di Balik Nama Besar?

Mengapa Klub Indonesia Sering Miskin di Balik Nama Besar?

April 15, 2026

Popular

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

April 19, 2026

The Mummy Versi Baru: Horor Keluarga atau Trauma yang Bangkit?

April 17, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id