Tabooo.id: Regional – Hujan turun, air naik, dan masalah lama kembali muncul.
Warga Sukoharjo tidak lagi melihat ini sebagai kejadian baru. Mereka menghadapi siklus yang terus berulang.
Selasa malam seharusnya menjadi waktu istirahat. Namun, bagi sebagian warga, malam itu berubah menjadi awal kepanikan.
Sungai Meluap, 13 Desa Terdampak
Hujan deras yang mengguyur sejak Selasa (14/4/2026) sore memicu banjir di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
BPBD Jawa Tengah mencatat 13 desa di tiga kecamatan terdampak hingga Rabu (15/4/2026) pukul 04.00 WIB.
Tiga kecamatan tersebut meliputi Baki, Grogol, dan Kartasura.
Air sungai meluap dari Sungai Jenes, Kali Mranggen, Kali Kembang, dan Kali Pepe.
“Wilayah terdampak 13 desa, tiga kecamatan. Pengungsi 46 KK dan 109 jiwa,” tulis BPBD.
Genangan Meluas, Warga Cari Tempat Aman
Banjir merendam wilayah Baki seperti Gentan, Manang, Bakipandean, Menuran, dan Jetis.
Di Grogol, air menggenangi Sanggrahan, Banaran, Langenharjo, Madegondo, Kwarasan, Gedangan, dan Cemani.
Sementara itu, air juga masuk ke wilayah Makamhaji di Kartasura.
Warga langsung bergerak mencari tempat aman. Mereka mengungsi ke masjid di Desa Manang, rumah warga, ruko, hingga Kantor Desa Gentan dan wilayah Langenharjo.
Air belum surut hingga pagi hari. Hujan yang masih turun berpotensi memperluas genangan.
Warga: Air Datang Lebih Cepat dari Biasanya
Cindy Wijaya (24), warga Grogol, merasakan langsung kenaikan air sejak Selasa malam.
“Mulai hujan deras, air langsung memenuhi jalan perumahan sekitar jam 22.00,” ujarnya.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan sebelumnya.
“Dulu air cepat mengalir dan cepat surut. Sekarang tidak,” katanya.
Cindy menyoroti perubahan lingkungan di sekitar rumahnya.
“Jalan depan dicor, jadi air malah masuk ke perumahan. Tingginya sampai setengah betis,” jelasnya.
Penanganan Terus Berjalan
Tim BPBD terus melakukan penanganan di lapangan.
Mereka melakukan kaji cepat, berkoordinasi dengan berbagai pihak, mengevakuasi warga, dan menyalurkan bantuan logistik.
Petugas juga mendistribusikan matras dan selimut bagi warga terdampak.
“Evakuasi dan pelayanan warga terdampak masih berjalan,” tulis BPBD.
Ini Bukan Sekadar Banjir
Banjir memang dipicu hujan deras. Namun, kejadian yang terus berulang di lokasi yang sama menunjukkan pola yang lebih besar.
Pertanyaannya, kenapa ini terus terjadi?
Ketika air selalu masuk ke wilayah yang sama, masalahnya tidak lagi berdiri sendiri.
Kita melihat kombinasi antara curah hujan tinggi, perubahan tata ruang, dan sistem drainase yang belum optimal.
Ini bukan sekadar cuaca. Ini soal kesiapan.
Dampaknya Buat Warga
Ini dampaknya buat kamu: aktivitas berhenti, mobilitas terhambat, dan rasa aman terus menurun.
Warga tidak bisa keluar rumah. Anak-anak kesulitan beraktivitas. Pekerja kehilangan waktu produktif.
Yang paling terasa, ketidakpastian.
Apakah kondisi akan membaik, atau justru kembali terulang?
Refleksi: Sampai Kapan Siklus Ini Berulang?
Banjir di Sukoharjo bukan hanya peristiwa tahunan.
Ini peringatan yang terus muncul, tetapi belum sepenuhnya dijawab.
Jika pola ini terus berulang, mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya hujan.
Tetapi cara kita mengelola lingkungan dan mengantisipasi risiko. @dimas






