Tabooo.id: Sports – Sepak bola biasanya bicara soal gol, strategi, dan euforia tribun. Tapi kali ini, Persis Solo justru terseret ke “pertandingan” lain urusan finansial. DPRD Kota Solo mengungkap klub kebanggaan itu menunggak sewa Stadion Manahan hingga Rp 2 miliar untuk periode 2024–2025.
Pertanyaannya sederhana tapi menusuk kalau klub tak mampu bayar rumah sendiri, bagaimana bisa tetap kompetitif di lapangan?
Tunggakan Terungkap, Cicilan Baru Seujung Kuku
Fakta ini mencuat dalam rapat kerja Komisi II DPRD Kota Solo bersama dinas terkait. Ketua Komisi II, Agung Harsakti Pancasila, terang-terangan kaget melihat angka tunggakan.
“Baru dicicil Rp 40 juta,” ujar Agung pada Senin, 13 April 2026.
Angka itu terasa kontras. Di satu sisi, miliaran rupiah menumpuk. Di sisi lain, cicilan baru setara “pemanasan ringan”. Dalam dunia olahraga profesional, ini bukan sekadar angka ini alarm.
DPRD Mendesak: Stadion Butuh Nafas, Bukan Janji
Agung tak ingin masalah ini berlarut. Ia langsung mendorong langkah tegas dari dinas terkait.
“Mengingatkan kepala dinas untuk segera menagih. Monggo pakai cara apa, yang penting uang masuk,” tegasnya.
Masalahnya jelas Stadion Manahan bukan cuma tempat bertanding. Ia butuh biaya perawatan besar rumput, fasilitas, hingga operasional harian. Tanpa pemasukan, stadion bisa jadi simbol megah yang pelan-pelan kehilangan nyawa.
Sepinya Tribun, Sepinya Kas Klub
Di balik angka tunggakan, ada cerita yang lebih sunyi penonton yang mulai menjauh. Kepala dinas menyebut penurunan jumlah penonton sebagai salah satu penyebab kondisi keuangan klub memburuk.
Agung mengamini hal itu. “Keuangan Persis Solo lagi tidak baik-baik saja,” katanya.
Sepak bola modern memang tak lagi hidup dari tiket saja. Tapi ketika tribun kosong, efek domino tak terhindarkan sponsor ragu, pemasukan seret, dan akhirnya utang menumpuk.
Manajemen Bungkam, Pemerintah Masih Mengecek
Sementara DPRD mulai bersuara keras, respons dari pihak lain masih dingin. Wali Kota Solo, Respati Ardi, mengaku belum mendapat laporan detail.
“Apa iya. Tak cek dulu,” ujarnya singkat.
Di sisi lain, Direktur Utama Persis, Ginda Ferachtriawan, memilih diam. Hingga Selasa, 14 April 2026, pesan dan panggilan tak mendapat respons. Dalam dunia olahraga yang penuh sorotan, diam sering kali lebih bising dari pernyataan.
Dari Lapangan ke Realita: Siapa yang Bertanggung Jawab?
Kasus ini membuka satu hal yang sering luput sepak bola bukan cuma soal passion, tapi juga manajemen. Ketika klub gagal menjaga finansial, dampaknya bukan cuma ke internal tapi juga ke publik, stadion, bahkan identitas kota.
Persis Solo bukan sekadar tim. Ia simbol kebanggaan. Tapi sekarang, simbol itu sedang diuji bukan oleh lawan di lapangan, tapi oleh angka di laporan keuangan.
Lalu pertanyaannya sekarang kalau klub sebesar Persis saja bisa goyah karena finansial, apakah sepak bola kita benar-benar sudah profesional atau masih sekadar euforia tanpa fondasi?. @teguh






