Tabooo.id: Regional – Banjir belum surut, tapi respons harus bergerak cepat. Rabu dini hari, 15 April 2026, Wali Kota Solo Respati Ardi turun langsung ke titik banjir di berbagai wilayah kota. Ia ingin memastikan warga tetap mendapat perlindungan di tengah situasi darurat.
Hujan lebat yang mengguyur Solo sejak Selasa sore, 14 April 2026, memicu luapan air. Air kemudian masuk ke rumah-rumah warga dan memaksa sebagian keluarga mencari tempat aman.
Laweyan Jadi Titik Kritis, Warga Mulai Bergerak
Respati mengawali peninjauan dari Kelurahan Bumi, Kecamatan Laweyan. Di wilayah ini, air sudah menggenangi permukiman dan mengganggu aktivitas warga.
Ia langsung menginstruksikan BPBD dan Dinas Sosial untuk mempercepat distribusi bantuan.
“Dini hari tadi saya berada di Laweyan, daerah terdampak banjir. Saya memastikan kebutuhan warga yang terdampak terpenuhi dulu. Saya sudah meminta BPBD dan Dinas Sosial untuk memenuhi kebutuhan logistik,” ujarnya, Rabu (15/04/2026).
Warga kini menempati masjid, balai warga, dan gedung sekolah sebagai lokasi pengungsian. Mereka beradaptasi cepat, meski kondisi masih jauh dari nyaman.
Evakuasi Berbasis Empati: Lansia dan Disabilitas Diutamakan
Respati menegaskan prioritas evakuasi harus jelas. Tim di lapangan harus lebih dulu membantu lansia dan penyandang disabilitas.
“Kami menyediakan bantuan berupa makanan untuk warga yang sedang dievakuasi. Lansia dan disabilitas yang nanti akan kita prioritaskan,” katanya.
Langkah ini penting. Dalam situasi banjir, kelompok rentan menghadapi risiko lebih besar dan membutuhkan bantuan lebih cepat.
Sebaran Banjir Meluas ke Tujuh Kelurahan
Data BPBD Kota Solo hingga pukul 04.00 WIB menunjukkan banjir menjangkau tujuh kelurahan.
Air menggenangi Pajang di beberapa RW, lalu merendam Joyosuran dengan 117 KK terdampak. Di Tipes, air menyebar ke empat RW. Sementara itu, di Kelurahan Bumi, kondisi cukup rentan karena terdapat 20 balita dan 50 lansia.
Selain itu, air juga masuk ke Joyotakan, Panularan, serta wilayah Sondakan dan Laweyan. Sebaran ini menunjukkan banjir tidak datang di satu titik saja, tetapi menyebar ke banyak ruang hidup warga.
Respons Cepat Diuji Waktu
Pemerintah Kota Solo terus mengerahkan upaya penanganan. Tim gabungan bergerak untuk mempercepat evakuasi dan distribusi logistik.
Namun, waktu jadi faktor penentu. Warga tidak hanya butuh bantuan mereka butuh kecepatan dan kepastian.
Banjir dan Realitas yang Berulang
Banjir memang datang dari hujan. Tapi dampaknya selalu kembali ke manusia.
Ketika pemerintah harus memprioritaskan lansia dan disabilitas, itu menunjukkan satu hal tidak semua warga punya kekuatan yang sama untuk bertahan.
Lalu, jika skenario ini terus berulang setiap tahun, kita perlu bertanya ini sekadar bencana, atau pola lama yang belum benar-benar kita ubah?. @teguh






