Tabooo.id: Vibes – “Hompimpa alaium gambreng…” Sekilas, kalimat ini terdengar seperti bagian dari masa kecil yang ringan. Namun, kalau dipikir lagi, kenapa kita tidak pernah benar-benar mempertanyakan artinya?
Padahal, di balik permainan sederhana itu, tersimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar menentukan siapa yang kalah.
Dari Permainan ke Kesepakatan
Dalam praktiknya, anak-anak menggunakan hompimpa untuk menentukan giliran. Mereka mengulurkan tangan, lalu secara bersamaan membuka telapak atau punggung tangan.
Setelah itu, hasil langsung terlihat. Siapa yang jumlahnya paling sedikit, dia kalah.
Menariknya, tidak ada perdebatan. Semua langsung menerima.
Karena itu, hompimpa bukan sekadar permainan. Ia menjadi cara sederhana untuk mengambil keputusan bersama tanpa konflik.
Arti yang Sering Terlewat
Secara etimologis, banyak yang menyebut kalimat “hompimpa alaium gambreng” berasal dari bahasa Sanskerta.
Maknanya: “Dari Tuhan kembali ke Tuhan, ayo bermain.”
Di satu sisi, kalimat ini terdengar ringan. Namun di sisi lain, maknanya cukup dalam.
Menurut peneliti budaya tradisional, Zaini Alif, kata seperti Hom, Om, atau Hum merujuk pada Tuhan. Sementara itu, “alaihum” mengandung makna kembali.
Artinya, bahkan dalam permainan, manusia diingatkan tentang asal dan tujuan hidupnya.
Filosofi yang Diam-Diam Bekerja
Jika dilihat lebih dalam, hompimpa menyimpan beberapa nilai penting.
Pertama, permainan ini melatih penerimaan. Anak-anak langsung menerima hasil tanpa negosiasi ulang.
Kedua, hompimpa menciptakan musyawarah instan. Tanpa diskusi panjang, keputusan tetap terasa adil.
Selain itu, permainan ini juga menumbuhkan rasa kebersamaan. Semua pemain memiliki peluang yang sama sejak awal.
Dengan kata lain, hompimpa mengajarkan nilai yang justru sering hilang saat kita dewasa.
Versi Berbeda, Makna Tetap Sama
Di beberapa daerah, versi hompimpa berkembang lebih panjang. Misalnya di Betawi:
“Hompimpa alaium gambreng, Mpok Ipah pakai baju rombeng.”
Walaupun terdengar lebih jenaka, fungsinya tetap sama.
Perbedaan versi tidak mengubah esensi. Semua tetap bertujuan menentukan pilihan secara kolektif.
Yang Berubah Justru Kita
Seiring waktu, cara kita menghadapi hasil justru berubah.
Dulu, kita menerima kalah dengan mudah. Sekarang, kita sering mempertanyakan hasil.
Dulu, kita percaya pada kesepakatan. Sekarang, kita curiga pada sistem.
Ironisnya, pelajaran tentang keadilan dan penerimaan sudah kita kenal sejak kecil.
Namun, semakin dewasa, kita justru menjauh dari nilai itu.
Penutup: Pelajaran Kecil yang Terlalu Cepat Dilupakan
Hompimpa terlihat seperti permainan sederhana.
Namun sebenarnya, ia menyimpan filosofi tentang hidup, penerimaan, dan kebersamaan.
Masalahnya, kita sering menganggapnya sepele.
Lalu pertanyaannya:
kalau sejak kecil kita sudah belajar menerima hasil, kenapa saat dewasa justru kita paling sulit melakukannya? @jeje







