Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hompimpa: Permainan Anak atau Filosofi Hidup yang Kita Abaikan?

by jeje
April 11, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – “Hompimpa alaium gambreng…” Sekilas, kalimat ini terdengar seperti bagian dari masa kecil yang ringan. Namun, kalau dipikir lagi, kenapa kita tidak pernah benar-benar mempertanyakan artinya?

Padahal, di balik permainan sederhana itu, tersimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar menentukan siapa yang kalah.

Dari Permainan ke Kesepakatan

Dalam praktiknya, anak-anak menggunakan hompimpa untuk menentukan giliran. Mereka mengulurkan tangan, lalu secara bersamaan membuka telapak atau punggung tangan.

Setelah itu, hasil langsung terlihat. Siapa yang jumlahnya paling sedikit, dia kalah.

Menariknya, tidak ada perdebatan. Semua langsung menerima.

Ini Belum Selesai

Gerwis: Dari Medan Revolusi Menuju Perjuangan Kesetaraan

Peristiwa Madiun 1948: Sejarah yang Belum Selesai

Karena itu, hompimpa bukan sekadar permainan. Ia menjadi cara sederhana untuk mengambil keputusan bersama tanpa konflik.

Arti yang Sering Terlewat

Secara etimologis, banyak yang menyebut kalimat “hompimpa alaium gambreng” berasal dari bahasa Sanskerta.

Maknanya: “Dari Tuhan kembali ke Tuhan, ayo bermain.”

Di satu sisi, kalimat ini terdengar ringan. Namun di sisi lain, maknanya cukup dalam.

Menurut peneliti budaya tradisional, Zaini Alif, kata seperti Hom, Om, atau Hum merujuk pada Tuhan. Sementara itu, “alaihum” mengandung makna kembali.

Artinya, bahkan dalam permainan, manusia diingatkan tentang asal dan tujuan hidupnya.

Filosofi yang Diam-Diam Bekerja

Jika dilihat lebih dalam, hompimpa menyimpan beberapa nilai penting.

Pertama, permainan ini melatih penerimaan. Anak-anak langsung menerima hasil tanpa negosiasi ulang.

Kedua, hompimpa menciptakan musyawarah instan. Tanpa diskusi panjang, keputusan tetap terasa adil.

Selain itu, permainan ini juga menumbuhkan rasa kebersamaan. Semua pemain memiliki peluang yang sama sejak awal.

Dengan kata lain, hompimpa mengajarkan nilai yang justru sering hilang saat kita dewasa.

Versi Berbeda, Makna Tetap Sama

Di beberapa daerah, versi hompimpa berkembang lebih panjang. Misalnya di Betawi:

“Hompimpa alaium gambreng, Mpok Ipah pakai baju rombeng.”

Walaupun terdengar lebih jenaka, fungsinya tetap sama.

Perbedaan versi tidak mengubah esensi. Semua tetap bertujuan menentukan pilihan secara kolektif.

Yang Berubah Justru Kita

Seiring waktu, cara kita menghadapi hasil justru berubah.

Dulu, kita menerima kalah dengan mudah. Sekarang, kita sering mempertanyakan hasil.

Dulu, kita percaya pada kesepakatan. Sekarang, kita curiga pada sistem.

Ironisnya, pelajaran tentang keadilan dan penerimaan sudah kita kenal sejak kecil.

Namun, semakin dewasa, kita justru menjauh dari nilai itu.

Penutup: Pelajaran Kecil yang Terlalu Cepat Dilupakan

Hompimpa terlihat seperti permainan sederhana.

Namun sebenarnya, ia menyimpan filosofi tentang hidup, penerimaan, dan kebersamaan.

Masalahnya, kita sering menganggapnya sepele.

Lalu pertanyaannya:
kalau sejak kecil kita sudah belajar menerima hasil, kenapa saat dewasa justru kita paling sulit melakukannya? @jeje

Tags: Budaya Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Bukan Film Viral, Tapi Kisah Nyata yang Mengubah Cara Pandang

Bukan Film Viral, Tapi Kisah Nyata yang Mengubah Cara Pandang

by dimas
Juli 2, 2026

Film dokumenter tak mengejar viral, tetapi merekam kisah nyata yang mengubah cara pandang, menjaga ingatan, dan menghadirkan realitas yang sering...

Persaudaraan sebagai Modal Sosial di Tengah Masyarakat Modern

Persaudaraan sebagai Modal Sosial di Tengah Masyarakat Modern

by dimas
Juni 23, 2026

Suran Agung PSHW TM menunjukkan bahwa persaudaraan bukan sekadar tradisi, tetapi modal sosial yang memperkuat kepercayaan, karakter, dan solidaritas di...

Bukan Sekadar Dongeng: Si Pahit Lidah dan Cara Nusantara Menyimpan Sejarah

Bukan Sekadar Dongeng: Si Pahit Lidah dan Cara Nusantara Menyimpan Sejarah

by teguh
Juni 16, 2026

Di beberapa sudut Sumatra Selatan dan Lampung, batu-batu besar berdiri diam selama ratusan tahun. Sebagian orang melihatnya sebagai fenomena alam...

Next Post
Harley Bukan Satu-Satunya Raja: Rivalnya Sudah Ada Sejak 1901

Harley Bukan Satu-Satunya Raja: Rivalnya Sudah Ada Sejak 1901

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id