Di beberapa sudut Sumatra Selatan dan Lampung, batu-batu besar berdiri diam selama ratusan tahun. Sebagian orang melihatnya sebagai fenomena alam biasa. Namun bagi masyarakat setempat, batu-batu itu menyimpan cerita yang jauh lebih tua daripada buku sejarah yaitu, Dongeng Si Pahit Lidah.
Tabooo.id – Namanya Si Pahit Lidah Tokoh legendaris yang konon mampu mengubah manusia, hewan, bahkan benda menjadi batu hanya melalui ucapan. Kedengarannya seperti dongeng. Namun jika kisah ini hanya khayalan, mengapa masyarakat masih terus menceritakannya hingga hari ini?
Pertanyaan itulah yang membuat legenda Si Pahit Lidah menarik untuk dibaca kembali.
Karena di balik cerita tentang kutukan, tersimpan jejak budaya, identitas, dan cara masyarakat Nusantara menyimpan sejarah sebelum mengenal internet, arsip digital, atau kecerdasan buatan.
Sebelum Ada Internet, Cerita Menjadi Arsip Peradaban
Hari ini manusia menyimpan foto di cloud, dokumen di server, dan kenangan di media sosial.
Namun ratusan tahun lalu, masyarakat Nusantara menggunakan cara yang berbeda Mereka menyimpan ingatan melalui cerita.
Generasi demi generasi mewariskan legenda Si Pahit Lidah dari mulut ke mulut. Melalui cerita itulah masyarakat menjaga nilai, sejarah, dan identitas daerahnya.
Di Sumatra Selatan dan Lampung, masyarakat mengenal tokoh ini dengan nama Serunting Sakti. Ia digambarkan sebagai sosok sakti yang memiliki kemampuan luar biasa. Konon, apa pun yang keluar dari mulutnya dapat menjadi kenyataan. Karena itulah masyarakat menjulukinya Si Pahit Lidah.
Dalam berbagai versi cerita rakyat, Serunting Sakti mampu mengubah manusia, hewan, atau benda menjadi batu ketika amarah menguasai dirinya. Kesaktian itu membuat banyak orang menghormati sekaligus takut kepadanya.
Namun legenda ini tidak hanya berbicara tentang kesaktian. Sebaliknya, cerita tersebut berbicara tentang manusia.
Batu-Batu yang Menjadi Penanda Ingatan
Salah satu alasan mengapa legenda Si Pahit Lidah terus hidup adalah keberadaan berbagai situs batu yang tersebar di Sumatra Selatan dan Lampung.
Masyarakat setempat menghubungkan batu-batu tersebut dengan perjalanan Serunting Sakti.
Karena itu, banyak batu unik yang tidak sekadar dipandang sebagai bentukan alam. Sebaliknya, masyarakat melihatnya sebagai bagian dari kisah yang mereka warisi selama berabad-abad.
Antropolog budaya Universitas Indonesia, Prof. Dr. Bambang Rudito, menilai fenomena tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat dalam membangun hubungan dengan lingkungannya.
“Legenda sering kali menjadi jembatan antara manusia dengan lanskap yang mereka huni.”
Menurutnya, masyarakat tradisional tidak hanya tinggal di sebuah wilayah. Mereka juga membangun ikatan emosional dengan alam melalui cerita yang terus mereka hidupkan.
Akibatnya, batu-batu itu tidak berhenti sebagai benda mati. Dalam ingatan kolektif masyarakat, batu tersebut berubah menjadi simbol sejarah, identitas, dan warisan budaya.
Mengapa Legenda Ini Tidak Pernah Hilang?
Teknologi terus berkembang Sementara itu, generasi datang dan pergi silih berganti. Bahkan cara manusia berkomunikasi berubah sangat cepat dalam dua dekade terakhir Namun Si Pahit Lidah tetap bertahan.
Di tengah derasnya arus digital, masyarakat masih menceritakan kisah ini kepada anak-anak mereka. Selain itu, sekolah, komunitas budaya, dan pegiat literasi terus memperkenalkan legenda tersebut kepada generasi baru.
Menurut sosiolog Universitas Gadjah Mada, Dr. Nurhadi, manusia selalu membutuhkan cerita untuk memahami dirinya sendiri.
“Teknologi mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi tidak mengubah kebutuhan manusia untuk memahami dirinya melalui cerita.”
Pendapat itu menjelaskan mengapa legenda tidak pernah benar-benar mati.
Selama manusia masih membutuhkan identitas, mereka akan terus mencari cerita yang menjelaskan siapa diri mereka dan dari mana mereka berasal.
Serunting Sakti dan Pelajaran Tentang Kekuasaan
Banyak orang mengingat Si Pahit Lidah karena kesaktiannya. Padahal inti cerita ini bukan terletak pada kekuatan magisnya.
Justru legenda tersebut mengajak masyarakat memahami konsekuensi dari kekuasaan yang tidak terkendali.
Dalam berbagai versi cerita, Serunting Sakti sering menggunakan kesaktiannya ketika menghadapi konflik. Kemarahan mendorongnya mengambil keputusan yang berdampak besar bagi orang lain.
Karena itu, legenda ini menghadirkan pesan moral yang masih relevan hingga sekarang. Kekuatan yang besar membutuhkan kebijaksanaan yang besar pula.
Budayawan Sumatra Selatan, Vebri Al Lintani, melihat banyak cerita rakyat Nusantara menyimpan kritik sosial yang halus namun tajam.
“Masyarakat masa lalu menggunakan mitos untuk mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan bisa menjadi bencana.”
Meski lahir ratusan tahun lalu, pesan tersebut tetap terasa dekat dengan kehidupan modern.
Hari ini manusia mungkin tidak memiliki kemampuan mengubah orang menjadi batu. Namun manusia tetap memiliki kekuasaan dalam berbagai bentuk.
Sebagian orang memperoleh kekuasaan melalui jabatan. Kelompok lain mendapat pengaruh melalui kekuatan ekonomi.
Sementara itu, generasi digital sering membangun kekuasaan melalui popularitas dan jangkauan media sosial.
Dan sejarah terus menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa kendali sering melahirkan masalah baru.
Ini Bukan Sekadar Kutukan. Ini Tentang Kata-Kata
Menariknya, legenda Si Pahit Lidah berpusat pada satu hal sederhana yaitu, ucapan. Dalam budaya Nusantara, kata-kata memiliki kekuatan yang sangat besar.
Ucapan dapat membangun kepercayaan Sebaliknya, ucapan juga dapat menghancurkan hubungan.
Karena itu, masyarakat masa lalu menggunakan tokoh Si Pahit Lidah untuk mengingatkan generasi berikutnya agar berhati-hati dalam berbicara. Pesan tersebut justru terasa semakin relevan hari ini.
Di era media sosial, satu unggahan dapat memicu konflik besar. Selain itu, satu komentar dapat menghancurkan reputasi seseorang dalam hitungan menit.
Ironisnya, banyak orang lupa bahwa kata-kata tetap memiliki dampak yang nyata. Mungkin kata-kata tidak mengubah manusia menjadi batu.
Namun kata-kata mampu melukai, menghakimi, bahkan mengasingkan seseorang dari lingkungannya.
Ini Bukan Sekadar Dongeng Tapi Ini Pola
Di sinilah lapisan yang sering luput dari perhatian. Banyak orang menganggap legenda sebagai cerita masa lalu. Padahal legenda merupakan teknologi penyimpanan pengetahuan pada zamannya.
Jauh sebelum manusia mengenal arsip digital, masyarakat menyimpan pengalaman hidup dalam cerita.
Kemudian mereka menciptakan mitos sebagai wadah untuk menyimpan pengetahuan kolektif.
Pada masa yang sama, legenda menjadi media untuk mewariskan nilai dan pengalaman lintas generasi.
Di dalam kisah Si Pahit Lidah tersimpan pesan tentang tanggung jawab.
Selain itu, cerita tersebut mengajarkan pentingnya pengendalian diri ketika seseorang memiliki kekuatan atau pengaruh.
Tak hanya itu, masyarakat masa lalu juga menitipkan pandangan mereka mengenai hubungan manusia dengan alam dan lingkungan sekitar.
Karena itulah legenda ini terus bertahan hingga sekarang. Alih-alih sekadar menghafalnya, masyarakat terus menemukan makna baru dalam setiap generasi.
Tantangan di Era Modern
Meski tetap hidup, legenda Si Pahit Lidah menghadapi tantangan baru.
Anak muda saat ini tumbuh di tengah banjir informasi global. Mereka mengenal banyak tokoh dari film, serial, atau media sosial internasional.
Namun di sisi lain, semakin sedikit generasi muda yang mengenal cerita rakyat dari daerahnya sendiri.
Padahal ketika sebuah legenda hilang, yang lenyap bukan hanya cerita.
Lebih dari itu, masyarakat kehilangan memori kolektif yang selama ini menjaga identitas mereka.
Pada saat yang sama, sebuah daerah perlahan kehilangan cara untuk mengenali akar budayanya sendiri.
Karena alasan itulah pemerintah, akademisi, budayawan, dan komunitas literasi terus mendorong pelestarian tradisi lisan di berbagai daerah.
Menjaga Cerita, Menjaga Jati Diri
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi selama beberapa tahun terakhir terus mengembangkan program pemajuan kebudayaan yang mencakup dokumentasi tradisi lisan dan cerita rakyat.
Langkah tersebut penting Sebab budaya tidak hanya hidup di museum Budaya akan tetapi bertahan melalui cerita yang terus diceritakan.
Selain itu, ingatan kolektif menjaga nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Hubungan antara masa lalu dan masa kini membuat identitas budaya tetap relevan bagi generasi muda.
Tanpa proses tersebut, akar budaya perlahan memudar dan kehilangan tempat dalam kehidupan masyarakat modern.
Ketika Batu Menjadi Cerita
Si Pahit Lidah mungkin tidak pernah hidup persis seperti yang digambarkan dalam legenda Namun jejaknya masih terasa hingga sekarang.
Masyarakat terus menjaga kisah tersebut melalui tradisi lisan, buku cerita, hingga berbagai kegiatan budaya.
Lebih penting lagi, masyarakat Sumatra tidak hanya mewariskan kisah tentang kutukan. Mereka juga meneruskan nilai tentang tanggung jawab, kebijaksanaan, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Ketika dunia sibuk menyimpan data di server digital, leluhur Nusantara memilih menyimpan pengalaman hidup dalam cerita. Karena itulah legenda Si Pahit Lidah tetap bertahan meski zaman terus berubah.
Pada akhirnya, kisah ini bukan sekadar dongeng tentang manusia yang mengubah batu. Legenda tersebut menjadi bukti bahwa budaya selalu menemukan cara untuk menjaga ingatan kolektif sebuah masyarakat. @teguh






