Profesi penari di Indonesia selalu tampil di panggung kehormatan, tapi jarang mendapat tempat dalam sistem pekerjaan yang layak. Di tengah pengakuan budaya yang terus digaungkan, realita ekonomi bagi pekerjaan penari di indonesia justru masih tertinggal.
Tabooo.id: Deep – Tari selalu hadir di panggung besar. Ia tampil dalam acara negara, festival budaya, hingga promosi pariwisata. Namun di balik semua itu, satu pertanyaan terus muncul, jika tari begitu penting, kenapa kita tidak pernah benar-benar menganggap penari sebagai profesi?
Budaya Diakui, Profesi Dipertanyakan
Pengakuan ini terlihat jelas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tari menjadi simbol identitas, warisan budaya, bahkan alat diplomasi. Namun ketika pembicaraan bergeser ke status pekerjaan, posisi penari langsung berubah menjadi tidak jelas.
Kita mengakui mereka saat tampil, tetapi kita mengabaikan mereka saat mereka membicarakan hak.
Data Tidak Pernah Bohong
Laporan UNESCO menunjukkan bahwa hanya sekitar 9 persen pekerja seni di dunia yang memiliki perlindungan ekonomi dan sosial yang memadai. Artinya, sebagian besar hidup dalam kondisi yang tidak stabil.
Di Indonesia, angka tenaga kerja ekonomi kreatif mencapai 27,40 juta orang. Namun di balik angka besar itu, mayoritas bekerja secara informal.
Banyak penari hidup tanpa kontrak tetap, tanpa jaminan kesehatan, dan tanpa kepastian pendapatan.
Industri terlihat besar, tapi fondasinya rapuh.
Sistem yang Menganggap Seni Bukan Kerja
Masalah utama bukan pada tari, melainkan pada cara masyarakat melihatnya. Kita sering memposisikan seni sebagai ekspresi, passion, atau hobi, bukan sebagai pekerjaan dengan standar profesional.
Akibatnya, orang memberi honorarium tanpa standar jelas, mengabaikan kontrak, dan menganggap kerja keras bertahun-tahun sebagai dedikasi yang tak perlu dibayar layak.
Di titik ini, sistem tidak pernah benar-benar memberi ruang bagi penari untuk berdiri sebagai pekerja.
Industri Tumbuh, Tapi Tidak Menyentuh Penari
Pemerintah dan industri terus mendorong ekonomi kreatif sebagai sektor masa depan. Angkanya tumbuh, kontribusinya terhadap ekonomi meningkat, dan narasinya selalu positif. Namun distribusi nilai tidak merata.
Sebagian besar keuntungan justru mengalir ke platform digital, promotor besar, dan brand. Sementara penari yang menjadi inti dari pertunjukan hanya mendapatkan bagian kecil dari ekosistem tersebut.
Ini menciptakan pola yang terus berulang: industri berkembang, pelaku bertahan.
Era Digital: Kesempatan atau Ilusi
Media sosial membuka peluang baru bagi tari. Gerakan bisa viral dalam hitungan jam dan menjangkau jutaan orang.
Namun di balik itu, cara menilai seni ikut berubah. Algoritma kini lebih menyukai konten yang cepat, sederhana, dan mudah ditiru.
Tari profesional yang kompleks sering kalah oleh tren yang lebih ringan.
Di saat yang sama, perkembangan kecerdasan buatan mulai menekan sektor kreatif. UNESCO memprediksi penurunan pendapatan signifikan dalam industri ini dalam beberapa tahun ke depan.
Teknologi membuka panggung, tapi juga mengubah aturan main.
Negara Hadir, Tapi Belum Menjangkau
Selain itu, ada juga Dana Indonesiana yang dirancang untuk mendukung pelaku budaya.
Namun implementasi masih menjadi tantangan. Banyak penari tidak memiliki status kerja formal, sehingga tidak bisa mengakses perlindungan yang tersedia.
Negara hadir, tapi belum menyentuh semua.
Realita yang Tidak Terlihat
Di balik panggung, banyak penari harus menanggung biaya sendiri. Latihan, kostum, hingga produksi sering berasal dari kantong pribadi.
Beberapa tampil tanpa bayaran yang layak. Yang lain harus memiliki pekerjaan tambahan untuk bertahan hidup.
Kalimat yang paling sering terdengar tetap sama: kita masih menganggap tari sebatas hobi, bukan profesi.
Padahal mereka melatih tubuhnya sebagai alat kerja selama bertahun-tahun.
Cerminan Sistem Nilai Sosial
Jika kita lihat lebih dalam, masalah ini bukan hanya soal tari, tetapi cerminan sistem nilai sosial.
Kita menghargai hasil, tapi mengabaikan proses. Kita bangga pada budaya, tapi lupa pada manusianya.
Selama pola ini tidak berubah, posisi penari akan selalu berada di pinggir sistem.
Mungkin kamu menikmati tari sebagai hiburan.
Namun jika kondisi ini terus berlanjut, kualitas seni akan menurun, regenerasi akan terhambat, dan budaya perlahan kehilangan pelakunya.
Yang hilang bukan hanya penari, tapi juga pengalaman budaya yang selama ini dianggap berharga.
Tari tidak pernah berhenti bergerak. Namun sistem di sekitarnya masih diam.
Pertanyaannya sekarang sederhana, apakah kita benar-benar menghargai profesi penari, atau hanya menikmati tari tanpa peduli siapa yang menarikan?
Selama penari dibayar dengan “exposure”, profesi ini tidak akan pernah dianggap serius. @tabooo





