Tabooo.id: Vibes – Di tengah linimasa yang lebih sering membicarakan drama politik dan beef selebritas, tiba-tiba muncul kabar dari dunia yang jarang masuk trending: Kraton Surakarta. Setelah kepergian Sinuhun Pakubuwono XIII pada Minggu (2/11/2025), mata publik kini beralih ke sosok muda yang akan menggantikannya Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Purbaya.
Namanya mungkin terdengar seperti mantra kuno, tapi wajahnya lebih dekat dengan generasi yang tumbuh bersama Instagram filter dan Spotify Wrapped. Di balik blangkon dan kebesaran adat, ada seseorang yang menulis status viral: “Nyesel gabung republik.” Kalimat sederhana, tapi meledak di jagat digital, menyalakan kembali obrolan lama tentang apa arti kerajaan di zaman demokrasi.
Jejak dari Balik Tembok Kraton
Kraton Surakarta punya kisah panjang bukan hanya sebagai pusat kebudayaan Jawa, tapi juga medan politik yang sunyi tapi tajam. Sejak perpecahan Mataram pada abad ke-18, Surakarta hidup dalam bayang-bayang: antara simbol kejayaan masa lalu dan perannya yang harus terus dicari di masa kini.
Ketika PB XIII naik tahta tahun 2004, konflik suksesi sempat membelah keluarga besar kraton. Maka, saat ia mengangkat putra bungsunya, Purbaya, sebagai putra mahkota pada 27 Februari 2022, banyak yang melihatnya sebagai langkah damai, bukan sekadar ritual adat. “Regenerasi ini penting,” kata KGPH Dipokusumo waktu itu. Di tengah tradisi yang penuh simbol, pengangkatan itu seperti pesan lembut untuk masa depan: perlu darah muda agar warisan tak membatu.
Purbaya sendiri, saat itu baru 21 tahun. Masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, tapi sudah memikul gelar panjang yang lebih berat dari toga wisuda mana pun: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Sudibyo Rojo Putra Narendra ing Mataram atau KGPAA Hamangkunagoro. Di pundaknya tergantung sejarah dan ekspektasi.
Antara Blangkon dan Timeline
Ketika unggahan “Nyesel gabung republik” muncul di Instagram @kgpaa_hamangkunegoro pada Maret 2025, jagat maya langsung terbakar. Banyak yang membaca itu sebagai sindiran, sebagian lagi sebagai keluhan bangsawan yang tak rela kehilangan masa lampau. Tapi lewat juru bicaranya, Purbaya menjelaskan: itu kritik sosial, bukan pemberontakan.
“Unggahan itu ekspresi kekecewaan terhadap tata kelola pemerintahan yang jauh dari nilai perjuangan para leluhur,” katanya. Dalam satu kalimat, ia seolah sedang menyalakan lilin kecil di tengah kegelapan: mengingatkan bahwa keraton bukan sekadar simbol, tapi juga nurani.
Lucunya, publik justru melihat hal yang jarang: seorang bangsawan yang bicara dalam bahasa digital, yang ngeriungdengan rakyat lewat caption Instagram, bukan pidato di balairung. Ia bukan pangeran dari masa lalu ia scrolling, ia typing, ia aware. Dalam dunia yang terfragmentasi, ini menarik: tradisi mencoba bicara dengan emoji.
Raja di Zaman yang Tak Percaya Raja
Apa arti menjadi raja di zaman di mana semua orang bisa jadi influencer? Ketika tahta tak lagi diukur dari darah biru, tapi dari jumlah followers?
Purbaya menghadapi paradoks itu. Di satu sisi, ia adalah simbol hierarki paling tua di Nusantara; di sisi lain, ia hidup di tengah generasi yang menertawakan konsep feodalisme. Tapi mungkin justru di situ maknanya: keberadaannya mengingatkan kita bahwa modernitas bukan berarti menghapus sejarah, melainkan berdialog dengannya.
Mungkin Purbaya bukan “raja” dalam pengertian klasik, melainkan kurator nilai seseorang yang menjaga jembatan antara adat dan algoritma, antara tembang macapat dan trending sounds TikTok. Ia bisa saja menjadi ikon baru dari generasi muda Jawa yang mencari cara mencintai warisan tanpa kehilangan kebebasan berpikir.
Sejarawan UNS, Susanto, sempat bilang: “Penunjukan putra mahkota ini langkah untuk mencegah perpecahan.” Tapi mungkin lebih dari itu ini juga upaya menjaga relevansi. Bahwa di tengah derasnya arus digital, Surakarta masih punya cerita. Masih punya vibe.
Kraton, Kini di Mode Reboot
Kini, setelah PB XIII berpulang, Surakarta bersiap untuk babak baru. Di tengah hiruk-pikuk politik nasional dan krisis identitas budaya, sosok Purbaya muncul seperti tab baru di browser sejarah Jawa. Usianya muda, pikirannya tajam, dan sorot matanya seolah berkata: tradisi bukan museum, tapi napas yang harus dihidupkan lagi.
Ia bisa memilih jalan yang aman: menjadi simbol seremonial. Tapi kalau benar ia setulus itu mencintai tanah dan rakyatnya, mungkin keratonnya bisa jadi ruang dialog, bukan sekadar upacara. Bukan hanya tempat wisata budaya, tapi pusat kesadaran baru tentang akar, etika, dan keindahan yang pelan-pelan hilang di layar ponsel.
Akhir yang Tak Benar-Benar Akhir
Surakarta kini menunggu. Antara duka dan harapan, antara masa lalu dan masa depan. Di langit malamnya, bintang-bintang masih sama seperti di masa PB X dulu tapi zaman telah berubah.
Dan di tengah perubahan itu, seorang pangeran muda bersiap mengenakan blangkon, bukan sekadar untuk melanjutkan garis keturunan, tapi untuk menjawab pertanyaan lama dengan bahasa baru:
Bagaimana menjadi raja di negeri yang memilih menjadi republik?
Barangkali jawabannya tak akan datang lewat takhta, tapi lewat tindakan kecil lewat cara ia mendengar rakyat, menulis status, atau sekadar tersenyum pada sejarah yang masih menunggu untuk ditulis ulang. (red)




