Tabooo.id: Deep – Di tengah dunia yang makin panas oleh konflik, satu klaim muncul dan terasa menenangkan. Indonesia masuk daftar negara paling aman jika Perang Dunia III terjadi.
Namun, benarkah itu realita? Atau justru narasi yang kita pilih untuk percaya?
Indonesia di “Papan Atas” Versi Presiden
Presiden Prabowo Subianto menempatkan Indonesia di kasta atas dalam hal keamanan global. Ia menyampaikan pernyataan itu dalam rapat kerja pemerintah di Istana Merdeka.
“Kalau terjadi Perang Dunia III, negara mana yang aman? Indonesia termasuk papan atas,” ujar Prabowo.
Selain itu, ia menunjuk fenomena banyaknya warga Rusia dan Ukraina yang tetap tinggal di Bali. Menurutnya, kondisi itu mencerminkan rasa aman yang dirasakan warga dari negara konflik.
Kritik: Optimisme yang Terlalu Jauh
Namun, para pengamat langsung mempertanyakan klaim tersebut. Direktur Eksekutif PARA Syndicate, Virdika Rizky Utama, melihat pernyataan itu lebih sebagai retorika.
“Indonesia menghadapi banyak kerentanan, dari Laut China Selatan hingga ketergantungan ekonomi,” jelasnya.
Di sisi lain, Tangguh Chairil dari Binus University menilai posisi geografis Indonesia justru membuka potensi risiko. Letaknya strategis, tetapi sekaligus berada di jalur persilangan kepentingan global.
Sistem Pertahanan: Bergerak, Tapi Belum Kuat
Sementara itu, pemerintah terus mendorong modernisasi militer melalui strategi Perisai Trisula Nusantara. Langkah ini menandai perubahan besar dalam pendekatan pertahanan.
Namun demikian, capaian sebelumnya belum maksimal. Program Minimum Essential Force (MEF) hanya mencapai sekitar 65 persen dari target.
Lebih rinci, kekuatan tiap matra masih timpang:
- TNI AU baru mencapai sekitar 51 persen
- TNI AL sekitar 59 persen
- TNI AD sekitar 76 persen
Karena itu, Indonesia masih mengejar ketertinggalan dalam banyak aspek.
Perang Modern: Bukan Sekadar Senjata
Di era sekarang, kekuatan militer tidak lagi bergantung pada jumlah alutsista semata. Sebaliknya, integrasi sistem dan kecerdasan teknologi justru menjadi penentu utama.
Indonesia mulai mengarah ke sana. Negara ini tidak hanya mengumpulkan senjata, tetapi juga membangun sistem yang saling terhubung.
Meski begitu, proses tersebut belum selesai. Di titik ini, kesiapan masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Ini Bukan Soal Aman, Ini Soal Persepsi
Sekilas, narasi “Indonesia aman” memang terasa menenangkan. Namun, realitanya jauh lebih kompleks.
Dalam perang modern, serangan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Sebaliknya, ancaman bisa datang lewat ekonomi, siber, hingga gangguan rantai pasok global.
Akibatnya, meskipun tidak diserang langsung, dampaknya tetap menghantam dari berbagai arah.
Ini Dampaknya Buat Kamu
Jika perang global benar-benar pecah, kamu mungkin tidak melihat ledakan di kota.
Namun, kamu akan langsung merasakan efeknya.
Harga kebutuhan bisa melonjak. Ekonomi bisa goyah. Bahkan, stabilitas pekerjaan ikut terancam.
Dengan kata lain, keamanan hari ini tidak hanya soal militer. Lebih dari itu, ini soal daya tahan negara menghadapi efek domino global.
Analisis: Optimisme vs Kesiapan Nyata
Memang, optimisme penting untuk membangun kepercayaan publik. Namun, rasa terlalu aman justru bisa menyesatkan.
Sejarah menunjukkan satu hal negara yang siap bukan yang merasa aman, tetapi yang sadar akan kelemahannya.
Karena itu, prinsip lama tetap relevan, si vis pacem, para bellum. Jika ingin damai, maka bersiaplah menghadapi perang.
Closing
Jadi, apakah Indonesia benar-benar aman saat Perang Dunia III?
Atau kita hanya merasa aman karena belum melihat ujian yang sesungguhnya? @dimas







