Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Artemis II Dituduh CGI: Kenapa Kita Lebih Percaya Konspirasi daripada Sains?

by dimas
April 9, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Di era ketika manusia bisa memotret galaksi, ironi justru muncul: semakin canggih teknologi, semakin banyak yang meragukan kenyataan.

Misi Artemis II yang membawa manusia kembali melintasi orbit Bulan harusnya jadi simbol kemajuan. Tapi di timeline media sosial, narasinya berubah. Bukan tentang pencapaian, melainkan tudingan “Itu cuma CGI.”

Di platform X hingga kolom komentar Instagram, suara skeptis berisik. Ada yang yakin rekaman astronaut hanyalah hasil studio. Ada juga yang menyebut ini sekadar “film mahal” versi pemerintah.

Lucunya, ini bukan cerita baru.

Konspirasi yang Tak Pernah Landing

Sejak misi Apollo 11 tahun 1969, teori bahwa manusia tidak pernah benar-benar mendarat di Bulan sudah beredar. Argumennya klasik: bendera yang tampak berkibar, langit tanpa bintang, hingga radiasi sabuk Van Allen.

Ini Belum Selesai

Gerwis: Dari Medan Revolusi Menuju Perjuangan Kesetaraan

Peristiwa Madiun 1948: Sejarah yang Belum Selesai

Masalahnya, semua itu sudah dijelaskan secara ilmiah berkali-kali. Tapi teori konspirasi tidak hidup dari bukti—ia hidup dari keyakinan.

Kini, narasi lama itu bangkit lagi. Artemis II hanya jadi “korban terbaru” dari cerita lama yang belum selesai.

Seolah-olah, bagi sebagian orang, lebih mudah percaya bahwa semuanya palsu daripada menerima bahwa manusia memang mampu sejauh itu.

Kenapa Kita Suka Teori Konspirasi?

Pertanyaan ini lebih dalam dari sekadar “siapa benar, siapa salah.”

Menurut Marshall Shepherd dari National Academy of Sciences, ada alasan psikologis di baliknya. Manusia cenderung percaya pada hal yang sesuai dengan keyakinannya.

“Jika sesuatu mendukung apa yang sudah mereka yakini, mereka akan membenarkannya dengan segala cara,” tulisnya.

Ia juga menyebut istilah reflexive open-mindedness kondisi ketika orang terlalu mudah percaya tanpa kemampuan menyaring klaim lemah.

Masalahnya, di era media sosial, semua informasi terlihat “setara”. Fakta ilmiah dan teori liar muncul di layar yang sama, dengan format yang sama menarik.

Dan algoritma? Ia tidak peduli mana yang benar. Ia hanya peduli mana yang ramai.

Dunia yang Terlalu Cepat untuk Dipahami

Eli Elster, kandidat doktor dari Universitas California, menambahkan perspektif lain manusia punya “jalan pintas mental” untuk memahami dunia.

Kita suka menganggap ada maksud besar di balik peristiwa acak. Kita ingin semuanya masuk akal meski harus menciptakan cerita sendiri.

“Orang sering melihat niat dan kecerdasan di balik peristiwa yang sebenarnya acak,” ujarnya.

Dalam konteks Artemis II, ini berarti satu hal: perjalanan luar angkasa yang kompleks justru terasa lebih “masuk akal” jika dianggap rekayasa.

Karena realitasnya terlalu besar untuk dicerna.

Konspirasi sebagai Identitas Sosial

Ada faktor lain yang lebih manusiawi: kebutuhan untuk merasa “berbeda” dan “punya komunitas”.

Percaya teori konspirasi bukan cuma soal benar atau salah. Kadang, itu soal identitas.

Ada rasa eksklusif ketika merasa tahu “kebenaran yang disembunyikan”. Ada komunitas yang saling menguatkan keyakinan, meski bertentangan dengan fakta.

Di sana, keraguan bukan kelemahan tapi badge of honor.

Ketika Fakta Kalah oleh Rasa

Yang paling menarik dari fenomena ini bukan soal apakah Artemis II nyata atau tidak. Tapi bagaimana kebenaran kini bersaing dengan emosi.

Fakta butuh waktu untuk dijelaskan. Konspirasi hanya butuh satu kalimat viral.

Fakta butuh data. Konspirasi cukup dengan kecurigaan.

Dan di dunia yang serba cepat, mana yang lebih mudah dikonsumsi?

Kita Percaya Apa yang Kita Pilih

Akhirnya, ini bukan soal NASA, bukan soal Bulan, bahkan bukan soal teknologi.

Ini soal manusia.

Tentang bagaimana kita memilih apa yang ingin kita percaya. Tentang bagaimana rasa takut, ketidakpercayaan, dan kebutuhan akan makna membentuk realitas versi kita sendiri.

Artemis II mungkin benar-benar melintasi orbit Bulan.

Tapi di Bumi, perdebatan justru tak pernah lepas landas.

Lalu, di tengah banjir informasi ini kamu lebih percaya sains, atau cerita yang terasa lebih nyaman? @dimas

Tags: BudayaDigitalGen ZHoaksinternetLiterasiMedia SosialnasaSains

Kamu Melewatkan Ini

Saat Kedai Jadi Perpustakaan: Budaya Membaca Sedang Mencari Rumah Baru

Saat Kedai Jadi Perpustakaan: Budaya Membaca Sedang Mencari Rumah Baru

by teguh
Juli 13, 2026

Di sudut sebuah kedai ramen di Kota Mojokerto, aroma kuah hangat bercampur dengan wangi kertas buku yang mulai menguning. Seorang...

Komunitas Membagikan Buku Gratis: Kenapa Akses Literasi Masih Bergantung pada Relawan?

Komunitas Membagikan Buku Gratis: Kenapa Akses Literasi Masih Bergantung pada Relawan?

by teguh
Juli 11, 2026

Membeli secangkir kopi hari ini jauh lebih mudah daripada menemukan perpustakaan yang hidup. Kedai-kedai baru bermunculan di hampir setiap sudut...

TABOOO Book Club: Dari Bedah Buku Menuju Ruang Dialog

TABOOO Book Club: Dari Bedah Buku Menuju Ruang Dialog

by dimas
Juli 10, 2026

TABOOO Book Club menghadirkan bedah buku Banteng Terakhir Kasultanan Yogyakarta, menghubungkan literasi, sejarah, dan dialog budaya di Madiun. Tabooo.id -...

Next Post
Film Ini Bicara Soal Luka yang Tak Terlihat: Ayah Ini Arahnya Kemana ya?

Film Ini Bicara Soal Luka yang Tak Terlihat: Ayah Ini Arahnya Kemana ya?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id