Kamis, April 9, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Vibes

Artemis II Dituduh CGI: Kenapa Kita Lebih Percaya Konspirasi daripada Sains?

April 9, 2026
in Vibes
A A
Artemis II Dituduh CGI: Kenapa Kita Lebih Percaya Konspirasi daripada Sains?

Para astronaut juga memotret foto 'Earthset'. Foto ini dinamai 'Earthset' karena Bumi seolah-olah akan terbenam di balik Bulan. (Foto: NASA/Handout via REUTERS)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Di era ketika manusia bisa memotret galaksi, ironi justru muncul: semakin canggih teknologi, semakin banyak yang meragukan kenyataan.

Misi Artemis II yang membawa manusia kembali melintasi orbit Bulan harusnya jadi simbol kemajuan. Tapi di timeline media sosial, narasinya berubah. Bukan tentang pencapaian, melainkan tudingan “Itu cuma CGI.”

Di platform X hingga kolom komentar Instagram, suara skeptis berisik. Ada yang yakin rekaman astronaut hanyalah hasil studio. Ada juga yang menyebut ini sekadar “film mahal” versi pemerintah.

Lucunya, ini bukan cerita baru.

Konspirasi yang Tak Pernah Landing

Sejak misi Apollo 11 tahun 1969, teori bahwa manusia tidak pernah benar-benar mendarat di Bulan sudah beredar. Argumennya klasik: bendera yang tampak berkibar, langit tanpa bintang, hingga radiasi sabuk Van Allen.

BacaJuga

“Jangan Buang Ibu”: Kisah Haru atau Cermin Realita yang Kita Hindari?

“Songko”: Ketika Ketakutan Lama Kembali Hidup

Masalahnya, semua itu sudah dijelaskan secara ilmiah berkali-kali. Tapi teori konspirasi tidak hidup dari bukti—ia hidup dari keyakinan.

Kini, narasi lama itu bangkit lagi. Artemis II hanya jadi “korban terbaru” dari cerita lama yang belum selesai.

Seolah-olah, bagi sebagian orang, lebih mudah percaya bahwa semuanya palsu daripada menerima bahwa manusia memang mampu sejauh itu.

Kenapa Kita Suka Teori Konspirasi?

Pertanyaan ini lebih dalam dari sekadar “siapa benar, siapa salah.”

Menurut Marshall Shepherd dari National Academy of Sciences, ada alasan psikologis di baliknya. Manusia cenderung percaya pada hal yang sesuai dengan keyakinannya.

“Jika sesuatu mendukung apa yang sudah mereka yakini, mereka akan membenarkannya dengan segala cara,” tulisnya.

Ia juga menyebut istilah reflexive open-mindedness kondisi ketika orang terlalu mudah percaya tanpa kemampuan menyaring klaim lemah.

Masalahnya, di era media sosial, semua informasi terlihat “setara”. Fakta ilmiah dan teori liar muncul di layar yang sama, dengan format yang sama menarik.

Dan algoritma? Ia tidak peduli mana yang benar. Ia hanya peduli mana yang ramai.

Dunia yang Terlalu Cepat untuk Dipahami

Eli Elster, kandidat doktor dari Universitas California, menambahkan perspektif lain manusia punya “jalan pintas mental” untuk memahami dunia.

Kita suka menganggap ada maksud besar di balik peristiwa acak. Kita ingin semuanya masuk akal meski harus menciptakan cerita sendiri.

“Orang sering melihat niat dan kecerdasan di balik peristiwa yang sebenarnya acak,” ujarnya.

Dalam konteks Artemis II, ini berarti satu hal: perjalanan luar angkasa yang kompleks justru terasa lebih “masuk akal” jika dianggap rekayasa.

Karena realitasnya terlalu besar untuk dicerna.

Konspirasi sebagai Identitas Sosial

Ada faktor lain yang lebih manusiawi: kebutuhan untuk merasa “berbeda” dan “punya komunitas”.

Percaya teori konspirasi bukan cuma soal benar atau salah. Kadang, itu soal identitas.

Ada rasa eksklusif ketika merasa tahu “kebenaran yang disembunyikan”. Ada komunitas yang saling menguatkan keyakinan, meski bertentangan dengan fakta.

Di sana, keraguan bukan kelemahan tapi badge of honor.

Ketika Fakta Kalah oleh Rasa

Yang paling menarik dari fenomena ini bukan soal apakah Artemis II nyata atau tidak. Tapi bagaimana kebenaran kini bersaing dengan emosi.

Fakta butuh waktu untuk dijelaskan. Konspirasi hanya butuh satu kalimat viral.

Fakta butuh data. Konspirasi cukup dengan kecurigaan.

Dan di dunia yang serba cepat, mana yang lebih mudah dikonsumsi?

Kita Percaya Apa yang Kita Pilih

Akhirnya, ini bukan soal NASA, bukan soal Bulan, bahkan bukan soal teknologi.

Ini soal manusia.

Tentang bagaimana kita memilih apa yang ingin kita percaya. Tentang bagaimana rasa takut, ketidakpercayaan, dan kebutuhan akan makna membentuk realitas versi kita sendiri.

Artemis II mungkin benar-benar melintasi orbit Bulan.

Tapi di Bumi, perdebatan justru tak pernah lepas landas.

Lalu, di tengah banjir informasi ini kamu lebih percaya sains, atau cerita yang terasa lebih nyaman? @dimas

Tags: Artemis IIBudayaDigitalGen ZHoaksinternetLiterasiMedia SosialnasaSainsteori konspirasiThinking

REKOMENDASI TABOOO

Nathania Tuli, Dunia yang Bising: Siapa Sebenarnya yang Perlu Belajar Mendengar?

Nathania Tuli, Dunia yang Bising: Siapa Sebenarnya yang Perlu Belajar Mendengar?

by teguh
April 9, 2026

Tabooo.id: Life - Di ruangan yang ramai, suara biasanya jadi pusat segalanya. Orang berbicara, tertawa, lalu saling menimpali. Namun, bagi...

Benarkah Bahlil Paksa Warga Pakai Motor Listrik? Ini Faktanya

Benarkah Bahlil Paksa Warga Pakai Motor Listrik? Ini Faktanya

by eko
April 9, 2026

Tabooo.id: Check - Sebuah unggahan di Facebook menampilkan foto Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Unggahan itu...

Moto Pad (2026): Tablet Balik Lagi, Kali Ini Lebih Nyambung ke Hidup Digital Kamu

Moto Pad (2026): Tablet Balik Lagi, Kali Ini Lebih Nyambung ke Hidup Digital Kamu

by teguh
April 9, 2026

Tabooo.id: Teknologi - Motorola akhirnya kembali ke pasar tablet setelah lama “menghilang” sejak 2011. Kali ini, mereka tidak sekadar bernostalgia....

Next Post
Film Ini Bicara Soal Luka yang Tak Terlihat: Ayah Ini Arahnya Kemana ya?

Film Ini Bicara Soal Luka yang Tak Terlihat: Ayah Ini Arahnya Kemana ya?

Recommended

Benarkah Gencatan Iran-Israel Sudah Gagal Total? Ini Faktanya

Benarkah Gencatan Iran-Israel Sudah Gagal Total? Ini Faktanya

April 9, 2026
Tidur Gak Harus 8 Jam: Cara Nemuin Ritme Tubuhmu Sendiri

Tidur Gak Harus 8 Jam: Cara Nemuin Ritme Tubuhmu Sendiri

April 5, 2026

Popular

Penggeledahan Berlanjut: Kasus Maidi Mulai Seret Lingkar Dalam

Penggeledahan Berlanjut: Kasus Maidi Mulai Seret Lingkar Dalam

April 9, 2026

Siapa Ibu Sebenarnya? Teror Psikologis di Balik Legenda Malin Kundang

April 2, 2026

Kenapa Damai di Timur Tengah Selalu Rapuh?

April 9, 2026

Yogyakarta Hampir Jadi Kota Paling Maju 2025: Apa yang Kurang?

April 9, 2026

Benarkah Gencatan Iran-Israel Sudah Gagal Total? Ini Faktanya

April 9, 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.