Tabooo.id: Vibes – Di era ketika manusia bisa memotret galaksi, ironi justru muncul: semakin canggih teknologi, semakin banyak yang meragukan kenyataan.
Misi Artemis II yang membawa manusia kembali melintasi orbit Bulan harusnya jadi simbol kemajuan. Tapi di timeline media sosial, narasinya berubah. Bukan tentang pencapaian, melainkan tudingan “Itu cuma CGI.”
Di platform X hingga kolom komentar Instagram, suara skeptis berisik. Ada yang yakin rekaman astronaut hanyalah hasil studio. Ada juga yang menyebut ini sekadar “film mahal” versi pemerintah.
Lucunya, ini bukan cerita baru.
Konspirasi yang Tak Pernah Landing
Sejak misi Apollo 11 tahun 1969, teori bahwa manusia tidak pernah benar-benar mendarat di Bulan sudah beredar. Argumennya klasik: bendera yang tampak berkibar, langit tanpa bintang, hingga radiasi sabuk Van Allen.
Masalahnya, semua itu sudah dijelaskan secara ilmiah berkali-kali. Tapi teori konspirasi tidak hidup dari bukti—ia hidup dari keyakinan.
Kini, narasi lama itu bangkit lagi. Artemis II hanya jadi “korban terbaru” dari cerita lama yang belum selesai.
Seolah-olah, bagi sebagian orang, lebih mudah percaya bahwa semuanya palsu daripada menerima bahwa manusia memang mampu sejauh itu.
Kenapa Kita Suka Teori Konspirasi?
Pertanyaan ini lebih dalam dari sekadar “siapa benar, siapa salah.”
Menurut Marshall Shepherd dari National Academy of Sciences, ada alasan psikologis di baliknya. Manusia cenderung percaya pada hal yang sesuai dengan keyakinannya.
“Jika sesuatu mendukung apa yang sudah mereka yakini, mereka akan membenarkannya dengan segala cara,” tulisnya.
Ia juga menyebut istilah reflexive open-mindedness kondisi ketika orang terlalu mudah percaya tanpa kemampuan menyaring klaim lemah.
Masalahnya, di era media sosial, semua informasi terlihat “setara”. Fakta ilmiah dan teori liar muncul di layar yang sama, dengan format yang sama menarik.
Dan algoritma? Ia tidak peduli mana yang benar. Ia hanya peduli mana yang ramai.
Dunia yang Terlalu Cepat untuk Dipahami
Eli Elster, kandidat doktor dari Universitas California, menambahkan perspektif lain manusia punya “jalan pintas mental” untuk memahami dunia.
Kita suka menganggap ada maksud besar di balik peristiwa acak. Kita ingin semuanya masuk akal meski harus menciptakan cerita sendiri.
“Orang sering melihat niat dan kecerdasan di balik peristiwa yang sebenarnya acak,” ujarnya.
Dalam konteks Artemis II, ini berarti satu hal: perjalanan luar angkasa yang kompleks justru terasa lebih “masuk akal” jika dianggap rekayasa.
Karena realitasnya terlalu besar untuk dicerna.
Konspirasi sebagai Identitas Sosial
Ada faktor lain yang lebih manusiawi: kebutuhan untuk merasa “berbeda” dan “punya komunitas”.
Percaya teori konspirasi bukan cuma soal benar atau salah. Kadang, itu soal identitas.
Ada rasa eksklusif ketika merasa tahu “kebenaran yang disembunyikan”. Ada komunitas yang saling menguatkan keyakinan, meski bertentangan dengan fakta.
Di sana, keraguan bukan kelemahan tapi badge of honor.
Ketika Fakta Kalah oleh Rasa
Yang paling menarik dari fenomena ini bukan soal apakah Artemis II nyata atau tidak. Tapi bagaimana kebenaran kini bersaing dengan emosi.
Fakta butuh waktu untuk dijelaskan. Konspirasi hanya butuh satu kalimat viral.
Fakta butuh data. Konspirasi cukup dengan kecurigaan.
Dan di dunia yang serba cepat, mana yang lebih mudah dikonsumsi?
Kita Percaya Apa yang Kita Pilih
Akhirnya, ini bukan soal NASA, bukan soal Bulan, bahkan bukan soal teknologi.
Ini soal manusia.
Tentang bagaimana kita memilih apa yang ingin kita percaya. Tentang bagaimana rasa takut, ketidakpercayaan, dan kebutuhan akan makna membentuk realitas versi kita sendiri.
Artemis II mungkin benar-benar melintasi orbit Bulan.
Tapi di Bumi, perdebatan justru tak pernah lepas landas.
Lalu, di tengah banjir informasi ini kamu lebih percaya sains, atau cerita yang terasa lebih nyaman? @dimas







