Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kedelai Naik, Tahu-Tempe Menyusut: Bertahan atau Pelan-Pelan Tumbang?

by teguh
April 8, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Lonjakan harga kedelai impor hingga Rp 10.900 per kilogram bukan sekadar angka. Di Bekasi, ini berubah jadi tekanan nyata bagi perajin tahu dan tempe usaha kecil yang selama ini jadi penopang dapur rakyat. Pertanyaannya sederhana tapi menohok kalau bahan baku terus naik, sampai kapan mereka bisa bertahan?

Para perajin di Kabupaten Bekasi kini harus memutar otak. Mereka tak hanya menghadapi kenaikan kedelai, tapi juga biaya plastik kemasan yang ikut meroket. Dampaknya terasa langsung ukuran produk diperkecil, tenaga kerja dikurangi, dan margin keuntungan makin tipis.

Ukuran Diperkecil, Pekerja Dikurangi

Deden (55), perajin tahu di Cikarang Barat, memilih langkah pahit demi menjaga usahanya tetap hidup. Ia mengecilkan ukuran tahu dan mengurangi jumlah pekerja.

“Saya ingin menyelamatkan usaha yang sudah sejak lama saya rintis. Terpaksa dilakukan biar bisa terus produksi,” ujar Deden di Cikarang, Selasa (07/04/2026).

Ia bahkan harus merumahkan hampir separuh karyawannya.

“Jumlah pekerja dibatasi. Hampir 50 persen pekerja dirumahkan, tapi hanya untuk sementara. Saat permintaan besar, baru semua karyawan dipekerjakan. Dalam satu minggu ada sekitar tiga hari di mana karyawan masuk semua. Alhamdulillah mereka semua memahami,” tambahnya, Selasa (07/04/2026).

Langkah ini bukan soal efisiensi biasa ini soal bertahan hidup.

Ini Belum Selesai

Tragedi Sibolangit: Empat Nyawa Melayang di Jalur Medan-Berastagi

Vivo T5 Lite Resmi Meluncur, Bawa Baterai 6.500 mAh dan Fast Charging 44W

Harga Naik Tiap Kiriman, Tanpa Jeda

Sukhep (51), perajin tempe di Serang Baru, menghadapi situasi serupa. Ia menyebut harga kedelai kini menyentuh Rp 10.900 per kilogram, naik dari kisaran Rp 10.000.

“Kalau biasanya satu kuintal kedelai harganya Rp 1 juta, sekarang sudah tembus Rp 1.090.000,” jelas Sukhep, Selasa (07/04/2026).

Masalahnya bukan cuma kenaikan, tapi ketidakpastian. Harga bisa berubah setiap hari.

“Pokoknya setiap kali turun dari truk, harga naik Rp 10.000 per kuintal. Besok juga bisa saja naik lagi Rp 10.000,” ujarnya.

Artinya, perajin tidak pernah benar-benar tahu berapa biaya produksi besok pagi.

Plastik Ikut Naik, Beban Makin Berat

Tekanan tak berhenti di kedelai. Harga plastik kemasan juga melonjak dari Rp 270.000 menjadi Rp 380.000 per rol. Sukhep melihat ini sebagai efek domino dari kondisi global.

“Saya menduga lonjakan harga ini dipicu ketidakstabilan kondisi global. Menurut informasi karena efek dari konflik di Timur Tengah,” katanya.

Di tengah situasi ini, ia memilih tidak menaikkan harga jual. Sebagai gantinya, ukuran tempe diperkecil.

“Ukuran tempe diperkecil. Tetapi kalau yang lain pada naik, bisa juga harga naik. Yang jelas kalau keadaan seperti ini, produksi juga bisa turun karena ukuran tempe menyusut,” imbuhnya.

Pilihan ini terdengar sederhana, tapi dampaknya besar konsumen mungkin tak sadar, tapi mereka sebenarnya membeli “lebih sedikit” dengan harga yang sama.

Pemerintah: Stok Aman, Harga Masih Normal

Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi mengakui adanya kenaikan harga bahan baku. Namun, mereka memastikan kondisi pasar masih terkendali.

“Info dari petugas pemantauan harga, sampai saat ini harga tempe dan tahu masih dalam kondisi normal,” kata Kepala Bidang Bapokting, Helmy Yenti.

Ia juga menilai langkah perajin mengecilkan ukuran produk sebagai respons wajar di tengah tekanan global.

Yang Terlihat Stabil, Belum Tentu Aman

Di permukaan, harga tahu dan tempe memang masih “normal”. Tapi di balik itu, ada realitas yang pelan-pelan berubah ukuran mengecil, produksi menurun, dan pekerja kehilangan jam kerja.

Ini bukan sekadar cerita soal kedelai. Ini tentang bagaimana usaha kecil bertahan di tengah gejolak global yang bahkan tak mereka kendalikan.

Lalu pertanyaannya sekarang kalau harga terus naik dan solusi hanya “mengecilkan”, sampai kapan tahu dan tempe tetap jadi makanan rakyat bukan kemewahan diam-diam?. @teguh

Tags: bekasiGlobalHarga NaikKondisiOtakPerajinPHKplastikProduksi

Kamu Melewatkan Ini

Pemerintah Janji Redam PHK, Tapi Industri Sudah Kehilangan Napas

Pemerintah Janji Redam PHK, Tapi Industri Sudah Kehilangan Napas

by teguh
Juni 28, 2026

Langit di Timur Tengah mungkin terasa sangat jauh dari kawasan industri di Indonesia. Namun setiap ledakan yang mengguncang wilayah itu...

Pemerintah Janji Redam PHK, Tapi Industri Sudah Mulai Berguguran

Pemerintah Janji Redam PHK, Tapi Industri Sudah Mulai Berguguran

by teguh
Juni 28, 2026

Pemerintah janji redam PHK tapi Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) terus menekan sejumlah sektor industri nasional. Kenaikan biaya produksi membuat...

Papua 65 Tahun Konflik: Kenapa Luka Ini Tak Pernah Selesai?

Papua 65 Tahun Konflik: Kenapa Luka Ini Tak Pernah Selesai?

by jeje
Mei 18, 2026

“Papua bukan soal keamanan semata. Papua adalah soal keadilan, sejarah, dan rasa dipercaya.” Kalimat itu terus muncul dalam diskusi para...

Next Post
Vasektomi Bukan Kebiri: Kenapa Tubuh Pria Justru Tetap Normal?

Vasektomi Bukan Kebiri: Kenapa Tubuh Pria Justru Tetap Normal?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id