Sabtu, Mei 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gengsi atau Jebakan? Kelas Menengah Dipaksa Terlihat Kaya

by dimas
April 7, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernah merasa harus terlihat sukses padahal kondisi keuangan lagi seret?
Fenomena ini bukan sekadar perasaan ini realita yang makin sering terjadi.

Di tengah tekanan sosial, banyak orang dari kelas menengah bawah mengejar gaya hidup konsumtif. Mereka tidak selalu mampu, tetapi tetap memaksakan diri. Dorongan terbesar datang dari lingkungan dan media sosial yang terus memamerkan standar “kehidupan ideal”.

Pertanyaannya, siapa sebenarnya yang mereka kejar?

Konsumsi Berubah Jadi Citra

Dulu orang belanja karena butuh. Kini, banyak orang belanja supaya terlihat.

Dalam sosiologi, fenomena ini dikenal sebagai conspicuous consumption dan symbolic consumption. Artinya, orang membeli barang untuk menunjukkan status, bukan sekadar fungsi.

Ini Belum Selesai

Kalau Niatnya Baik, Masih Salah Pakai Nama Yakuza?

Reformasi Gagal, Mengapa Sekarang Kembali Digelorakan?

Ambil contoh sederhana. Gadget lama masih berfungsi, tetapi tetap diganti demi tren. Motor lama masih layak jalan, namun tetap ditukar agar terlihat naik kelas.

Lebih jauh lagi, sebagian orang bahkan rela berutang demi menjaga citra. Pada titik ini, konsumsi kehilangan makna rasional dan berubah menjadi simbol sosial.

Ekonomi Bergantung, Tapi Juga Rentan

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kelas menengah dan calon kelas menengah mencapai 66,35% populasi. Mereka menyumbang sekitar 81,49% konsumsi nasional.

Angka ini menegaskan satu hal ekonomi Indonesia bertumpu pada kelompok ini.

Ironisnya, posisi mereka justru rapuh. Laporan Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan sebagian besar berada di lapisan bawah yang rentan. Guncangan kecil seperti PHK, kenaikan harga, atau cicilan bisa langsung menggoyahkan kondisi finansial mereka.

Gaya Hidup yang Tidak Sejalan

Sayangnya, realitas ekonomi tidak selalu sejalan dengan gaya hidup yang ditampilkan.

Struktur ekonomi Indonesia belum sepenuhnya mendukung mobilitas naik kelas. Banyak pekerjaan tersedia, tetapi sebagian besar bersifat informal dengan pendapatan terbatas.

Hasilnya jelas: penghasilan cukup untuk bertahan, tetapi sulit untuk berkembang.

Sementara itu, standar hidup terus meningkat. Media sosial mendorong orang tampil lebih mapan. Lingkungan sekitar juga memperkuat ekspektasi tersebut.

Kombinasi ini menciptakan tekanan yang tidak terlihat, tetapi terasa nyata.

Orang Kaya Justru Lebih Rasional

Menariknya, pola ini justru berbanding terbalik dengan kebiasaan orang kaya.

Berdasarkan laporan Yahoo Finance, mereka cenderung menghindari pengeluaran non-esensial. Fokus utama mereka ada pada nilai dan keberlanjutan finansial.

Alih-alih mengikuti tren, mereka mempertimbangkan fungsi. Mereka juga menghindari cicilan panjang untuk barang konsumtif.

Bahkan dalam pendidikan, mereka tidak sekadar mengejar gengsi institusi. Pertimbangan utama tetap pada prospek dan manfaat jangka panjang.

Saatnya Ubah Cara Main

Kondisi ini seharusnya menjadi alarm bagi kelas menengah.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah membedakan kebutuhan dan keinginan. Setelah itu, penting untuk mengurangi konsumsi non-esensial yang hanya bersifat simbolik.

Sebagai tambahan, membangun kebiasaan menabung juga menjadi kunci. Dana darurat bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dasar.

Contohnya sederhana. Jika HP Rp2 juta sudah cukup, tidak perlu memaksakan yang lebih mahal. Jika kendaraan lama masih layak, menggantinya bukan prioritas mendesak.

Pilihan kecil seperti ini justru menentukan ketahanan finansial jangka panjang.

Penutup: Mau Terlihat atau Bertahan?

Pada akhirnya, semua kembali pada keputusan pribadi.

Sebagian orang mungkin tetap memilih mengejar citra. Namun, ada juga yang mulai menyadari pentingnya keamanan finansial.

Pilihan itu sederhana, tetapi dampaknya besar ingin terlihat sukses, atau benar-benar bertahan? @dimas

Tags: Ekonomi IndonesiaFinansialGaya HidupGengsiKelas MenengahKeuanganLiterasiMedia SosialNasional

Kamu Melewatkan Ini

Purbaya vs Ekonom TikTok: Pertarungan Data dan Ketakutan Publik

Purbaya vs Ekonom TikTok: Pertarungan Data dan Ketakutan Publik

by dimas
Mei 22, 2026

Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadhewa menepis ketakutan krisis 1998 di tengah pelemahan rupiah. Namun di era TikTok, publik justru lebih...

Ekonomi Tumbuh, Publik Tetap Gelisah: Data Negara vs Realita TikTok

Ekonomi Tumbuh, Publik Tetap Gelisah: Data Negara vs Realita TikTok

by dimas
Mei 22, 2026

Data ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen, tetapi publik tetap merasa hidup semakin berat. Purbaya menilai media sosial ikut membentuk keresahan...

Socrates Tidak Mati, Kita yang Berhenti Bertanya

Filsafat Socrates: Mengapa Berpikir Kritis Semakin Langka di Era Digital

by jeje
Mei 22, 2026

Ada sesuatu yang terasa janggal di zaman ini. Informasi datang tanpa henti. Namun, manusia justru semakin sulit membedakan mana pengetahuan...

Next Post
Damkar, Jagung, dan Kemarau: Saat Harapan Bukan dari Langit, Tapi dari Sirine

Damkar, Jagung, dan Kemarau: Saat Harapan Bukan dari Langit, Tapi dari Sirine

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

Perlawanan Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Perlawanan Dari Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Mei 21, 2026

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Mei 22, 2026

Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

Mei 21, 2026

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

Mei 22, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id