Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gengsi atau Jebakan? Kelas Menengah Dipaksa Terlihat Kaya

by dimas
April 7, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernah merasa harus terlihat sukses padahal kondisi keuangan lagi seret?
Fenomena ini bukan sekadar perasaan ini realita yang makin sering terjadi.

Di tengah tekanan sosial, banyak orang dari kelas menengah bawah mengejar gaya hidup konsumtif. Mereka tidak selalu mampu, tetapi tetap memaksakan diri. Dorongan terbesar datang dari lingkungan dan media sosial yang terus memamerkan standar “kehidupan ideal”.

Pertanyaannya, siapa sebenarnya yang mereka kejar?

Konsumsi Berubah Jadi Citra

Dulu orang belanja karena butuh. Kini, banyak orang belanja supaya terlihat.

Dalam sosiologi, fenomena ini dikenal sebagai conspicuous consumption dan symbolic consumption. Artinya, orang membeli barang untuk menunjukkan status, bukan sekadar fungsi.

Ini Belum Selesai

Karhutla Meluas, Tanggung Jawab Korporasi Jadi Sorotan

Suap HGB Terbongkar, Sistem Pertanahan Jadi Sorotan

Ambil contoh sederhana. Gadget lama masih berfungsi, tetapi tetap diganti demi tren. Motor lama masih layak jalan, namun tetap ditukar agar terlihat naik kelas.

Lebih jauh lagi, sebagian orang bahkan rela berutang demi menjaga citra. Pada titik ini, konsumsi kehilangan makna rasional dan berubah menjadi simbol sosial.

Ekonomi Bergantung, Tapi Juga Rentan

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kelas menengah dan calon kelas menengah mencapai 66,35% populasi. Mereka menyumbang sekitar 81,49% konsumsi nasional.

Angka ini menegaskan satu hal ekonomi Indonesia bertumpu pada kelompok ini.

Ironisnya, posisi mereka justru rapuh. Laporan Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan sebagian besar berada di lapisan bawah yang rentan. Guncangan kecil seperti PHK, kenaikan harga, atau cicilan bisa langsung menggoyahkan kondisi finansial mereka.

Gaya Hidup yang Tidak Sejalan

Sayangnya, realitas ekonomi tidak selalu sejalan dengan gaya hidup yang ditampilkan.

Struktur ekonomi Indonesia belum sepenuhnya mendukung mobilitas naik kelas. Banyak pekerjaan tersedia, tetapi sebagian besar bersifat informal dengan pendapatan terbatas.

Hasilnya jelas: penghasilan cukup untuk bertahan, tetapi sulit untuk berkembang.

Sementara itu, standar hidup terus meningkat. Media sosial mendorong orang tampil lebih mapan. Lingkungan sekitar juga memperkuat ekspektasi tersebut.

Kombinasi ini menciptakan tekanan yang tidak terlihat, tetapi terasa nyata.

Orang Kaya Justru Lebih Rasional

Menariknya, pola ini justru berbanding terbalik dengan kebiasaan orang kaya.

Berdasarkan laporan Yahoo Finance, mereka cenderung menghindari pengeluaran non-esensial. Fokus utama mereka ada pada nilai dan keberlanjutan finansial.

Alih-alih mengikuti tren, mereka mempertimbangkan fungsi. Mereka juga menghindari cicilan panjang untuk barang konsumtif.

Bahkan dalam pendidikan, mereka tidak sekadar mengejar gengsi institusi. Pertimbangan utama tetap pada prospek dan manfaat jangka panjang.

Saatnya Ubah Cara Main

Kondisi ini seharusnya menjadi alarm bagi kelas menengah.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah membedakan kebutuhan dan keinginan. Setelah itu, penting untuk mengurangi konsumsi non-esensial yang hanya bersifat simbolik.

Sebagai tambahan, membangun kebiasaan menabung juga menjadi kunci. Dana darurat bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dasar.

Contohnya sederhana. Jika HP Rp2 juta sudah cukup, tidak perlu memaksakan yang lebih mahal. Jika kendaraan lama masih layak, menggantinya bukan prioritas mendesak.

Pilihan kecil seperti ini justru menentukan ketahanan finansial jangka panjang.

Penutup: Mau Terlihat atau Bertahan?

Pada akhirnya, semua kembali pada keputusan pribadi.

Sebagian orang mungkin tetap memilih mengejar citra. Namun, ada juga yang mulai menyadari pentingnya keamanan finansial.

Pilihan itu sederhana, tetapi dampaknya besar ingin terlihat sukses, atau benar-benar bertahan? @dimas

Tags: Ekonomi IndonesiaFinansialGaya HidupGengsiKelas MenengahKeuanganLiterasiMedia SosialNasional

Kamu Melewatkan Ini

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

by Tabooo
September 1, 2026

Kementerian Kebudayaan merilis lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Lebih dari 5.000 halaman membawa pembaca dari...

Satu Video, Dua Narasi: Hercules dan Perang Tafsir di Tengah Kericuhan

Satu Video, Dua Narasi: Hercules dan Perang Tafsir di Tengah Kericuhan

by teguh
Agustus 30, 2026

Malam 27/08/2026 menyisakan banyak rekaman dari situasi demonstrasi yang memanas di Jakarta. Salah satu video memperlihatkan Rosario de Marshall alias...

Kericuhan Pejompongan Makan Korban, Seorang Pedagang Cermin Tewas

Kericuhan Pejompongan Makan Korban, Seorang Pedagang Cermin Tewas

by Tabooo
Agustus 28, 2026

Kericuhan di Pejompongan, Jakarta Pusat, menelan korban jiwa. Bambang Setiawan (59), pedagang cermin asal Bendungan Hilir, meninggal setelah dianiaya saat...

Next Post
Damkar, Jagung, dan Kemarau: Saat Harapan Bukan dari Langit, Tapi dari Sirine

Damkar, Jagung, dan Kemarau: Saat Harapan Bukan dari Langit, Tapi dari Sirine

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id