Tabooo.id: Nasional – Ketika perang di Timur Tengah memanas, efeknya terasa sampai ke dapur rumah tangga. Harga energi naik, rantai pasok terganggu, dan tekanan fiskal makin terasa. Pertanyaannya sederhana Indonesia benar-benar kuat, atau cuma terlihat kuat?
Kalau lihat angka, jawabannya mungkin optimistis. Tapi kalau dengar para ekonom, ceritanya nggak sesederhana itu.
Stabil di Permukaan, Bergelombang di Dalam
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Muhammad Faisal, melihat kondisi makro Indonesia masih cukup aman. Pertumbuhan ekonomi tetap jalan, konsumsi rumah tangga masih hidup, dan perdagangan bahkan mencatat surplus.
“Kalau melihat indikator makro seperti pertumbuhan PDB, konsumsi, investasi, hingga perdagangan, kita masih relatif cukup resilien,” ujarnya.
Artinya, secara kasat mata, ekonomi Indonesia masih berdiri tegak. Konsumsi domestik jadi “tameng utama” di tengah tekanan global.
Tapi masalahnya tidak berhenti di situ.
APBN Jadi Titik Lemah
Faisal justru menyoroti satu hal yang mulai mengkhawatirkan: kondisi fiskal.
Defisit APBN melebar cepat. Hingga Maret 2026, angkanya sudah menyentuh Rp240 triliun. Dalam waktu tiga bulan, tekanan itu terasa signifikan.
“Yang agak riskan itu memang dari sisi belanja pemerintah,” katanya.
Di sinilah dilema muncul. Pemerintah ingin menjaga daya beli masyarakat dengan menahan harga BBM. Tapi konsekuensinya, subsidi membengkak. APBN jadi korban.
Pertanyaannya: sampai kapan strategi ini bisa dipertahankan?
Lebih Tahan dari Tetangga, Tapi Tetap Rentan
Kalau dibandingkan negara lain, posisi Indonesia sebenarnya “di tengah”. Tidak paling kuat, tapi juga tidak paling lemah.
Dari sisi energi, Indonesia memang masih bergantung pada impor minyak. Tapi ketergantungan ke Timur Tengah hanya sekitar 20 persen. Bandingkan dengan Malaysia yang mencapai 70 persen atau Filipina hingga 95 persen.
Artinya, risiko gangguan pasokan mungkin lebih kecil.
Tapi harga minyak dunia tetap tidak bisa dilawan. Ketika harga tembus US$100 per barel, dampaknya langsung terasa ke inflasi dan subsidi.
Belum lagi defisit transaksi berjalan yang mulai melebar lagi. Ini sinyal klasik: tekanan eksternal mulai mengetuk pintu.
“Aman” yang Semu?
Pandangan lebih tajam datang dari Bhima Yudhistira, Direktur Celios. Ia tidak sepakat kalau kondisi ini disebut kuat.
“Indonesia sedang bertahan tapi semu,” ujarnya.
Menurutnya, stabilitas saat ini punya “harga mahal”. Pemerintah menahan kenaikan BBM dan LPG, tapi konsekuensinya defisit APBN melebar drastis—bahkan naik sekitar 140 persen dibanding tahun lalu.
Bhima menyebut situasi ini sebagai “senyap sebelum badai”.
Kalimat yang mungkin terdengar dramatis. Tapi masuk akal.
Karena tekanan global belum sepenuhnya terasa di sektor riil. Ketika nanti terasa, dampaknya bisa datang sekaligus: inflasi, pelemahan rupiah, dan daya beli yang makin tergerus.
Kebijakan: Tepat atau Terlambat?
Di satu sisi, kebijakan pemerintah tidak sepenuhnya salah. Menjaga defisit di bawah 3 persen PDB penting untuk kepercayaan investor. Menahan harga BBM juga krusial untuk stabilitas sosial.
Faisal bahkan menilai langkah ini perlu.
“Ini penting untuk menjaga konsumsi domestik dan stabilitas sosial politik,” katanya.
Tapi di sisi lain, ada kritik serius: kebijakan masih terlalu jangka pendek.
Bhima menilai Indonesia terlalu santai menghadapi risiko krisis energi. Negara lain mulai beradaptasi menaikkan harga energi atau mendorong transisi. Indonesia? Masih fokus menahan harga.
Masalah lainnya, cadangan energi kita tergolong tipis. BBM hanya cukup sekitar 25 hari, LPG bahkan 11 hari.
Ini bukan sekadar angka. Ini soal ketahanan.
Ekonomi yang Bertahan atau Menunda Masalah?
Di titik ini, kita harus jujur Indonesia memang belum krisis. Tapi juga belum sepenuhnya aman.
Ada stabilitas, tapi ada juga tekanan yang ditunda. Ada pertumbuhan, tapi ada risiko yang mengintai.
Kondisi ini seperti menahan napas panjang. Masih bisa bertahan, tapi tidak selamanya.
Pertanyaan akhirnya bukan lagi “apakah kita kuat?”
Tapi kalau badai benar-benar datang, kita siap atau baru sadar saat semuanya sudah terlambat? @dimas






