Sabtu, Mei 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Atlet Diminta Berprestasi, Tapi Harus Bayar Dulu: Sistem atau Ironi?

by dimas
April 7, 2026
in Reality, Sports
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Sport – Ironi ini terus berulang di olahraga Indonesia.
Kita menuntut atlet berprestasi, tapi mereka harus bayar dulu untuk berangkat.
Jadi, ini seleksi atlet atau seleksi dompet?

Gagal Tanding Bukan Karena Kalah

Nama I Gede Wahyu Surya Wiguna langsung viral. Atlet angkat berat asal Buleleng, Bali ini batal tampil di kejuaraan dunia di Druskininkai, Lithuania.

Ia tidak cedera.
Ia tidak kalah seleksi.
Ia terhenti karena uang.

Lewat media sosial, Wahyu mengaku belum mengantongi rekomendasi dan tidak sanggup memenuhi dana jaminan sebesar 20.000 dolar AS atau sekitar Rp339 juta.

“Pengurus meminta dana jaminan $20.000, Itu jadi syarat utama. Uang sebanyak itu dari mana?” tulisnya.

Ini Belum Selesai

Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

Ia menjelaskan, pengurus menggunakan dana itu sebagai jaminan jika terjadi pelanggaran atau denda selama kompetisi. Jika tidak ada masalah, mereka akan mengembalikan uang tersebut.

Masalahnya jelas tidak semua atlet punya Rp339 juta untuk sekadar berangkat.

Pengurus Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi) Buleleng membenarkan bahwa Wahyu menerima undangan dari International Powerlifting Federation (IPF).

Namun hingga batas akhir pendaftaran, pihak terkait tidak juga menerbitkan rekomendasi.

Sekretaris Pabersi Buleleng, Ketut Widi Sandiada, menyebut situasi ini juga menimpa atlet lain.
Artinya, masalah ini tidak berhenti di satu nama.

Ia juga menegaskan, pengurus tidak melakukan pungutan liar. Mereka menerapkan dana jaminan sesuai aturan tes doping dari World Anti-Doping Agency (WADA).

Aturan di Atas, Realita di Bawah

Di atas kertas, semua terlihat rapi.

Namun di lapangan, sistem memaksa atlet siap finansial sebelum bertanding.

Masalah ini bukan sekadar prosedur.
Sistem ini diam-diam menyaring atlet berdasarkan kemampuan ekonomi.

Di titik ini, olahraga bergeser arah dari adu kekuatan jadi adu akses.

Yang Hilang Sebelum Terlihat

Dampaknya terasa, bahkan buat kamu yang bukan atlet.

Banyak talenta terbaik gagal muncul bukan karena mereka lemah,
tapi karena mereka tidak punya biaya.

Akibatnya, panggung internasional tidak selalu menampilkan yang terbaik.
Panggung itu hanya menampilkan yang mampu bertahan secara finansial.

Berapa banyak “Wahyu” lain yang hilang sebelum sempat terlihat?

Prestasi Butuh Uang Dulu?

Sistem olahraga seharusnya membuka jalan, bukan menutup pintu.

Kita butuh aturan doping.
Kita butuh prosedur.

Tapi ketika biaya jadi syarat utama, kita harus jujur ini bukan meritokrasi.

Ini seleksi diam-diam.

Yang lebih pahit, kita baru mengakui atlet saat mereka menang.
Padahal, sebelum itu, mereka berjuang sendirian.

Mimpi yang Harus Dibayar di Awal

Kita selalu bangga saat atlet mengibarkan bendera di luar negeri.

Tapi kita jarang bertanya, berapa banyak yang gagal berangkat?

Kalau mimpi saja harus dibayar di awal, apakah kita benar-benar membangun prestasi atau hanya menjaga ilusi? @dimas

Tags: AtletbiayaIronikoniKrisis GlobalMimpiNasionalolahragaPerjuanganPrestasiRealitaSeleksiSistem

Kamu Melewatkan Ini

Socrates Tidak Mati, Kita yang Berhenti Bertanya

Filsafat Socrates: Mengapa Berpikir Kritis Semakin Langka di Era Digital

by jeje
Mei 22, 2026

Ada sesuatu yang terasa janggal di zaman ini. Informasi datang tanpa henti. Namun, manusia justru semakin sulit membedakan mana pengetahuan...

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

by jeje
Mei 20, 2026

Buruh diminta jangan terlalu banyak menuntut. Pengusaha jangan diperas. Itulah pesan blak-blakan Presiden Prabowo Subianto saat berbicara di Rapat Paripurna...

Rupiah Rp16.800, Ekonomi 6,5%: Janji Fiskal atau Ujian Realitas 2027

Rupiah Rp16.800, Ekonomi 6,5%: Janji Fiskal atau Ujian Realitas 2027

by jeje
Mei 20, 2026

Rupiah masih bergerak di wilayah yang bikin banyak orang waswas. Harga kebutuhan belum terasa ringan, biaya hidup makin terasa sempit,...

Next Post
Satu Penolakan, Satu Kematian: Jejak TNI dalam Skema Gelap Bankir

Satu Penolakan, Satu Kematian: Jejak TNI dalam Skema Gelap Bankir

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

Perlawanan Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Perlawanan Dari Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Mei 21, 2026

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Mei 22, 2026

Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

Mei 21, 2026

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

Mei 22, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id