Tabooo.id: Edge – Hubungan antara Tan Malaka dan Syarifah Nawawi hanyalah cerita cinta yang tidak berakhir bahagia? Benarkah? Atau kita yang terlalu sering memandang sejarah sebagai kisah yang bisa dipahami dengan emosi sederhana. Padahal, jika ditarik lebih dalam, yang terjadi bukan sekadar kegagalan relasi personal, melainkan operasi sistem yang jauh lebih besar dari dua individu tersebut.
Kita diajarkan bahwa cinta adalah soal perasaan, namun sejarah membuktikan sebaliknya. Cinta adalah soal siapa yang punya kuasa, dan siapa yang tidak.
Dalam struktur masyarakat feodal pada masa Hindia Belanda, hubungan manusia tidak pernah berdiri di atas kesetaraan. Ia selalu berada di bawah bayang-bayang status, posisi sosial, dan kedekatan dengan kekuasaan. Dalam sistem seperti itu, cinta tidak pernah benar-benar bebas. Ia hanya bergerak sejauh yang diizinkan oleh struktur. Di titik inilah, kisah ini berubah dari narasi romantis menjadi studi tentang dominasi.
Syarifah Nawawi: Ketika Intelektualitas Tidak Mampu Melawan Struktur
Syarifah Nawawi adalah representasi dari perempuan modern yang lahir terlalu awal di dalam sistem yang belum siap menerimanya. Ia terdidik dalam sistem pendidikan Belanda, masuk ke Europeesche Lagere School, lalu menembus Kweekschool sebagai satu-satunya perempuan di antara puluhan laki-laki. Secara intelektual, ia berdiri sejajar, bahkan melampaui banyak pria pada zamannya.
Namun, ketika ia masuk ke dalam lingkaran kekuasaan feodal melalui pernikahannya dengan Wiranatakusumah V, semua keunggulan itu tidak lagi menjadi penentu utama. Sistem feodal tidak menilai manusia berdasarkan kapasitas intelektualnya, melainkan berdasarkan posisi dalam hierarki. Syarifah yang sebelumnya adalah subjek yang aktif, perlahan ditempatkan dalam struktur yang telah ditentukan. Ia menjadi bagian dari sistem, bukan lagi individu yang bebas menentukan arah hidupnya sepenuhnya.
Bupati dan Kolonialisme: Simbiosis Kekuasaan yang Tidak Terlihat
Untuk memahami kedalaman masalah ini, perlu dilihat posisi seorang bupati dalam sistem kolonial. Wiranatakusumah V bukan sekadar pejabat lokal. Ia adalah representasi dari kekuasaan ganda, feodal dan kolonial, yang saling menguatkan.
Dalam sistem Hindia Belanda, bupati diberi otoritas untuk mengelola masyarakat lokal dengan imbalan loyalitas terhadap pemerintah kolonial. Ini menciptakan struktur di mana kekuasaan lokal tidak benar-benar independen, tetapi tetap memiliki dominasi penuh terhadap masyarakat di bawahnya. Dalam ruang ini, relasi personal seperti pernikahan tidak pernah netral. Ia selalu membawa dimensi kekuasaan.
Ketika seorang bupati memilih pasangan, itu bukan hanya keputusan pribadi. Itu adalah perpanjangan dari posisi sosial yang ia miliki. Dan dalam konteks ini, Syarifah tidak hanya menjadi istri, tetapi juga bagian dari konstruksi simbolik kekuasaan tersebut.
Telegram 1924: Ketika Relasi Manusia Direduksi Menjadi Instruksi
Peristiwa perceraian melalui telegram pada tahun 1924 sering dipahami sebagai tragedi personal. Namun jika dilihat lebih tajam, ia adalah manifestasi paling telanjang dari feodalisme. Tanpa kehadiran fisik, tanpa dialog, tanpa ruang negosiasi, sebuah relasi manusia diputuskan melalui satu pesan singkat.
Tindakan ini bukan hanya melukai secara emosional, tetapi juga menunjukkan bahwa dalam sistem tersebut, manusia dapat diperlakukan seperti objek yang bisa dilepas kapan saja. Reaksi keras dari tokoh seperti Agus Salim menunjukkan bahwa bahkan dalam standar moral saat itu, tindakan tersebut dianggap melampaui batas. Namun, kecaman tidak mengubah struktur. Sistem tetap berjalan seperti sebelumnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Tan Malaka: Dari Pengalaman Pribadi ke Kesadaran Ideologis
Dalam pembacaan sejarah yang dilakukan oleh Harry A. Poeze, pengalaman hidup Tan Malaka tidak bisa dipisahkan dari pembentukan ideologinya. Ia tidak hanya memahami feodalisme sebagai konsep teoritis, tetapi juga sebagai realitas yang ia lihat dan rasakan sendiri.
Ketika ia menyaksikan bagaimana seseorang yang ia cintai menjadi bagian dari sistem yang mengekangnya, dan kemudian dihancurkan oleh sistem yang sama, pemahamannya tentang ketidakadilan menjadi konkret. Dalam Madilog, kritik terhadap feodalisme tidak lagi sekadar abstraksi filosofis. Ia menjadi serangan langsung terhadap struktur yang dianggapnya melanggengkan ketimpangan dan ketundukan.
Di titik ini, ideologi tidak lagi berdiri sebagai hasil pembacaan buku, tetapi sebagai respons terhadap pengalaman hidup yang tidak bisa dinegosiasikan.
Feodalisme Tidak Pernah Hilang
Ada kecenderungan untuk menganggap feodalisme sebagai sesuatu yang telah selesai bersama berakhirnya era kolonial. Namun, jika dilihat dari perspektif struktur sosial, feodalisme tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk, menyesuaikan diri dengan konteks zaman.
Hierarki tetap ada, hanya dengan wajah yang berbeda. Relasi kuasa tetap bekerja, meskipun tidak lagi dibungkus dalam istilah yang sama. Penilaian terhadap manusia masih sering ditentukan oleh posisi, akses, dan status. Dalam bentuk modern, feodalisme bisa hadir dalam relasi politik, dalam distribusi kekuasaan ekonomi, bahkan dalam cara masyarakat membangun relasi sosial sehari-hari.
Kisah ini menjadi relevan bukan karena ia terjadi di masa lalu, tetapi karena polanya masih bisa dikenali hari ini.
Syarifah Nawawi: Perlawanan dalam Batas yang Tersedia
Setelah perceraian, Syarifah Nawawi tidak berhenti sebagai korban. Ia membangun kembali hidupnya dengan cara yang mungkin dilakukan dalam ruang yang tersedia. Melalui Yayasan Panti Wanita dan keterlibatannya dalam organisasi perempuan seperti PERWARI, ia menciptakan dampak sosial yang nyata.
Namun penting untuk dipahami bahwa perlawanan ini terjadi dalam batasan yang sudah ditentukan oleh sistem. Ia berhasil menciptakan ruang, tetapi tidak sepenuhnya mengubah struktur yang membatasi ruang tersebut sejak awal. Ini menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, individu tidak benar-benar bebas, melainkan bergerak dalam kemungkinan-kemungkinan yang tersedia.
Ini Bukan Masa Lalu, Melainkan Pola yang Terus Berulang
Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah tentang dua individu. Ia adalah refleksi tentang bagaimana sistem bekerja dalam menentukan nasib manusia. Dalam kasus Tan Malaka dan Syarifah Nawawi, relasi personal tidak bisa dipisahkan dari struktur sosial yang lebih besar.
Feodalisme tidak hanya mengatur kekuasaan. Ia mengatur kemungkinan. Ia menentukan siapa yang bisa memilih dan siapa yang harus menerima. Ia tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya nyata.
Tan Malaka merespons dengan ideologi yang keras. Syarifah merespons dengan kerja sosial yang konkret. Namun sistem itu sendiri tidak benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk dan terus beroperasi dalam cara yang lebih halus.
Dan mungkin, pertanyaan yang lebih relevan hari ini bukan lagi tentang apa yang terjadi di masa lalu, tetapi apakah kita masih hidup dalam pola yang sama, hanya dengan nama yang berbeda. @tabooo



