Jumat, Mei 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme: Tiga Api yang Ingin Disatukan Soekarno

by Tabooo
Mei 19, 2026
in Ideology, Pattern
A A
Home Pattern
Share on FacebookShare on Twitter
Soekarno pernah membaca nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme bukan sebagai tiga musuh mutlak, melainkan tiga tenaga yang bisa bertemu di medan anti-kolonial. Ia tahu ketiganya berbeda, bahkan mudah saling curiga. Tapi di hadapan penjajahan, pertanyaan paling penting bukan siapa paling murni, melainkan siapa berani berdiri bersama rakyat.

Tabooo.id – Pernah ada masa ketika orang tidak melihat ideologi sebagai pagar. Mereka melihatnya sebagai tenaga.

Soekarno pernah berdiri di titik itu. Ia melihat nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme bukan sebagai tiga kubu yang harus saling menyingkirkan. Dalam pikirannya, ketiganya bisa menjadi bahan bakar untuk satu tujuan besar, yaitu melawan kolonialisme dan membuka jalan menuju Indonesia merdeka.

Gagasan itu muncul dalam tulisan “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”, yang menempatkan tiga arus besar itu sebagai roh penting gerakan rakyat di Indonesia dan Asia.

Saat Ideologi Belum Jadi Tembok

Hari ini, tiga kata itu sering langsung membuat orang mengambil jarak.

Nasionalisme terdengar seperti bendera, negara, dan batas wilayah. Banyak orang membaca Islamisme sebagai politik agama. Sementara itu, ingatan publik sering menyeret Marxisme ke komunisme, konflik ideologi, dan luka sejarah yang belum selesai.

Ini Belum Selesai

Tabooology Melawan Pikiran yang Masih Berlutut

Pembubaran Nobar Pesta Babi: Pola Lama Membungkam Kritik?

Tapi Soekarno tidak memulainya dari ketakutan seperti itu.

Ia hidup di masa ketika penjajahan bukan teori. Kolonialisme hadir lewat pajak, kerja paksa, penghinaan rasial, perampasan tanah, dan perlakuan yang membuat rakyat merasa kecil di negerinya sendiri.

Di titik itu, pertanyaannya bukan sekadar ideologi mana yang paling benar.

Pertanyaannya lebih kasar: tenaga apa yang bisa membangunkan rakyat?

Soekarno Melihat Musuh yang Sama

Soekarno membaca kolonialisme sebagai masalah utama. Ia melihat rakyat Asia, termasuk Indonesia, hidup dalam tekanan panjang karena kekuasaan asing menguasai ekonomi, politik, dan harga diri mereka.

Karena itu, ia tidak ingin energi perlawanan terpecah terlalu cepat.

Nasionalisme punya kekuatan membangkitkan rasa sebagai bangsa. Islamisme punya akar sosial yang kuat di masyarakat. Marxisme memberi bahasa untuk membaca penindasan ekonomi dan hubungan kelas.

Tiga-tiganya berbeda. Bahkan bisa bertabrakan.

Namun, di mata Soekarno, perbedaan itu tidak otomatis berarti permusuhan abadi.

Ia mencari titik temu. Bukan karena ia naif, tapi karena ia paham satu hal: kolonialisme terlalu kuat jika rakyat hanya sibuk saling curiga.

Nasionalisme yang Tidak Sekadar Cinta Bendera

Nasionalisme dalam pikiran Soekarno bukan nasionalisme pajangan.

Ia bukan sekadar upacara, lagu, slogan, atau dada yang mendadak hangat saat melihat merah putih. Bagi Soekarno, nasionalisme lahir dari pengalaman bersama sebagai rakyat yang mengalami penindasan.

Rasa senasib tumbuh dari pengalaman hidup di bawah penjajahan. Luka yang sama membuat rakyat mulai merasa bahwa nasib mereka saling terhubung dalam satu perjuangan politik. Dari sana, muncul kehendak untuk berdiri tanpa tunduk pada kuasa bangsa lain.

Namun, nasionalisme juga punya bahaya.

Kalau ia berubah menjadi kebanggaan sempit, ia bisa jatuh ke chauvinisme. Kalau ia hanya memuja bangsa sendiri tanpa membaca ketidakadilan di dalamnya, ia bisa menjadi topeng baru bagi elite lokal.

Soekarno tampaknya sadar soal itu.

Maka nasionalisme harus bergerak ke arah pembebasan, bukan sekadar kebanggaan kosong.

Bendera bisa berkibar tinggi. Tapi kalau rakyat masih lapar, perayaan itu sebenarnya untuk apa?

Islamisme sebagai Tenaga Sosial

Islam punya tempat besar dalam masyarakat Indonesia. Soekarno tahu itu.

Ia tidak membaca Islam hanya sebagai urusan ritual pribadi. Ia melihat Islam sebagai kekuatan sosial yang mampu menggerakkan orang banyak, terutama di tengah rakyat yang lama hidup dalam tekanan kolonial.

Dalam sejarah perlawanan, agama sering menjadi bahasa yang paling dekat dengan rakyat. Ia memberi makna, keberanian, dan rasa bahwa penindasan bukan cuma salah secara politik, tapi juga tidak adil secara moral.

Namun, Soekarno juga tidak ingin Islam berhenti sebagai identitas yang menutup diri.

Di sinilah ketegangannya.

Islam bisa menjadi tenaga pembebasan. Tapi jika ia terkunci dalam fanatisme sempit, ia bisa kehilangan daya historisnya. Ia bisa sibuk menjaga batas, sementara penjajahan tetap berjalan.

Soekarno ingin Islam bergerak bersama arus pembebasan yang lebih luas.

Bukan menjadi pagar. Menjadi api.

Marxisme dan Bahasa Penindasan Ekonomi

Marxisme memberi Soekarno alat baca yang berbeda.

Melalui Marxisme, Soekarno tidak hanya melihat penindasan sebagai benturan bangsa asing melawan bangsa terjajah. Ia juga membaca soal modal, kelas, buruh, tani, pemilik kekayaan, dan rakyat yang tenaganya terperas.

Ini penting.

Sebab kolonialisme tidak hanya datang dengan tentara. Ia juga datang lewat perkebunan, perusahaan, perdagangan, sistem upah, dan struktur ekonomi yang membuat rakyat bekerja keras tanpa pernah benar-benar berkuasa atas hasilnya.

Marxisme membantu menjelaskan kenapa kemerdekaan politik saja tidak cukup.

Sebuah negeri bisa punya bendera sendiri, tapi hanya segelintir orang yang mengendalikan ekonominya. Nama penguasanya berubah. Nasib rakyat belum tentu ikut berubah.

Bagian ini masih terasa tidak nyaman sampai sekarang.

Karena kita suka menyebut diri merdeka, tapi sering gugup saat membahas siapa yang menguasai tanah, modal, kerja, dan harga hidup.

Tiga Api, Satu Medan Perang

Soekarno tidak sedang mengatakan bahwa nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme sama.

Tidak.

Ia justru tahu ketiganya punya akar, bahasa, dan tujuan yang berbeda. Tapi ia sedang mencari persaudaraan taktis dalam satu medan sejarah: perlawanan terhadap kolonialisme.

Itu yang membuat gagasannya menarik.

Ia tidak memulai dari kemurnian ideologi. Ia memulai dari realitas rakyat.

Apa gunanya ideologi terlihat bersih di atas kertas kalau gagal membebaskan manusia dari ketakutan, kemiskinan, dan penghinaan?

Di sinilah Soekarno terasa berbeda dari banyak pembaca ideologi hari ini.

Sekarang, orang sering memakai ideologi sebagai label untuk menyerang. Nasionalis menuduh yang lain tidak cinta bangsa. Kelompok agama menuduh yang lain kehilangan moral. Kaum kiri menuduh yang lain menjadi alat kapital.

Akhirnya semua merasa paling sadar.

Rakyat tetap capek.

Gagasan yang Terlalu Berani Hingga Saat Ini

Gagasan Soekarno menolak cara berpikir yang terlalu rapi.

Ia tidak memisahkan dunia ke dalam kotak-kotak steril. Ia melihat politik sebagai sesuatu yang bergerak, kotor, penuh kompromi, dan membutuhkan keberanian untuk menyusun kekuatan.

Masalahnya, warisan sejarah Indonesia membuat banyak orang sulit membaca tiga ideologi itu dengan kepala dingin.

Sebagian pihak memakai nasionalisme untuk membungkam kritik. Sebagian orang mencurigai Islamisme sebagai ancaman negara. Sementara itu, ingatan politik lama mengubah Marxisme menjadi hantu yang membuat ruang diskusi mendadak tegang.

Padahal, kalau kita membacanya lebih jujur, Soekarno sedang mengajukan pertanyaan yang masih relevan, yaitu bisakah kekuatan yang berbeda bergerak bersama melawan ketidakadilan yang sama?

Pertanyaan itu belum selesai. Mungkin justru makin berat.

Ideologi Sering Dipakai untuk Menghindari Realitas

Di Indonesia modern, ideologi sering berubah menjadi identitas cepat saji.

Orang memakai label untuk merasa punya posisi. Nasionalis. Religius. Progresif. Kiri. Moderat. Pancasilais. Radikal. Konservatif.

Label itu kadang membantu. Tapi sering juga menipu.

Sebab setelah label dipasang, orang merasa tidak perlu lagi berpikir. Cukup pilih kubu, ulangi kalimat kelompok sendiri, lalu anggap semua yang berbeda sebagai musuh.

Anehya, banyak orang merasa makin sadar justru ketika pikirannya makin sempit.

Soekarno, dengan segala kontradiksinya, pernah mencoba hal yang lebih sulit: mempertemukan energi yang saling curiga.

Bukan untuk membuat semuanya sama.

Tapi agar perlawanan tidak habis di meja debat.

Ideologi Bukan Cuma Urusan Masa Lalu

Kamu mungkin merasa pembahasan ini terlalu jauh dari hidup sehari-hari.

Tapi sebenarnya tidak.

Setiap hari kamu melihat akibat dari ideologi yang dipakai secara sempit. Politik jadi saling tuduh. Agama jadi alat identitas. Nasionalisme jadi tameng kekuasaan. Kritik ekonomi cepat dicap berbahaya.

Akhirnya, banyak masalah nyata tidak pernah dibahas sampai akar.

Harga hidup naik, tapi debatnya soal siapa paling cinta negara. Buruh ditekan, tapi diskusinya dipelintir jadi anti-investasi. Ketimpangan melebar, tapi orang yang bertanya soal struktur ekonomi langsung dianggap membawa ideologi terlarang.

Pelan-pelan, publik dilatih takut pada kata-kata.

Bukan pada ketidakadilan itu sendiri.

Dan itu berbahaya.

Karena ketika orang lebih takut pada istilah daripada pada penderitaan nyata, kekuasaan selalu punya ruang untuk bermain.

Pola di Balik Ideologi

Soekarno mencoba menyatukan nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme karena ia membaca satu pola besar, bahwa rakyat terjajah butuh persatuan tenaga.

Bukan persatuan palsu yang memaksa semua orang diam.

Bukan pula persatuan yang menghapus perbedaan.

Persatuan yang ia bayangkan lebih keras dari itu. Persatuan yang lahir karena ada musuh historis yang sama, ada kepentingan rakyat yang harus dibela, dan ada keberanian untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan menyerah.

Tentu saja, gagasan itu tidak sederhana.

Di kemudian hari, sejarah Indonesia menunjukkan betapa sulitnya menjaga keseimbangan antara ideologi, kekuasaan, dan konflik politik. Banyak hal kemudian pecah. Luka lama tetap terbuka, sementara sejumlah nama pelan-pelan dibekukan dalam ingatan nasional. Sejarah tidak hanya mencatat peristiwa, tapi juga memilih siapa yang boleh dikenang dengan aman.

Tapi justru di situlah nilai membacanya hari ini.

Bukan untuk mengulang mentah-mentah gagasan lama.

Melainkan untuk bertanya: kenapa kita begitu mudah memisahkan, tapi begitu sulit memperjuangkan hal yang sama?

Api Bisa Menghangatkan, Bisa Membakar

Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme adalah tiga api besar.

Soekarno pernah membayangkan ketiganya bisa menerangi jalan kemerdekaan. Namun, api yang sama juga bisa membakar kalau manusia hanya memakainya untuk membela ego kelompok.

Itulah ironi ideologi.

Ia bisa membebaskan pikiran. Ia juga bisa mengurung manusia dalam fanatisme baru.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan apakah seseorang nasionalis, Islamis, atau Marxis.

Pertanyaannya lebih telanjang: apakah ideologi itu membuatnya lebih berani membela manusia, atau hanya membuatnya lebih pintar membenci orang lain?

Karena ideologi yang tidak menyentuh penderitaan rakyat hanya akan menjadi bendera kecil di kepala orang yang ingin terlihat benar. @tabooo

Tags: anti-kolonialIdeologiIslamismeKolonialismeMarhaenismeMarxismeNasionalismeSejarah IndonesiaSoekarnoTabooo Pattern

Kamu Melewatkan Ini

Tabooology Melawan Pikiran yang Masih Berlutut

Tabooology Melawan Pikiran yang Masih Berlutut

by Tabooo
Mei 21, 2026

Tabooology melihat feodalisme bukan sebagai masa lalu, tapi sebagai pola pikir yang masih hidup di kepala manusia modern. Masalahnya bukan...

Pembubaran Nobar Pesta Babi: Pola Lama Membungkam Kritik?

Pembubaran Nobar Pesta Babi: Pola Lama Membungkam Kritik?

by Tabooo
Mei 20, 2026

Pembubaran nobar Pesta Babi bukan sekadar polemik film. Ia memperlihatkan bagaimana hukum, izin, dan dalih keamanan bisa dipakai untuk membatasi...

Marhaenisme: Saat Soekarno Mencari Bahasa Politik untuk Rakyat

Marhaenisme: Saat Soekarno Mencari Bahasa Politik untuk Rakyat

by Tabooo
Mei 20, 2026

Marhaenisme Soekarno lahir sebagai bahasa politik untuk rakyat kecil. Bukan sekadar soal miskin, tapi tentang manusia yang terus bekerja, punya...

Next Post
Fitur Minim, Harga Tinggi: Kenapa Suzuki Jimny Tetap Dipuja?

Fitur Minim, Harga Tinggi: Kenapa Suzuki Jimny Tetap Dipuja?

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

Februari 4, 2026

Inbox Lebih Kalem: Saat Gmail Pakai AI Buat Ngurangin Drama Email

Mei 8, 2026

Wacana Beras Satu Harga, Bulog Buka Kartu Soal Rugi

Desember 30, 2025

Kota Sehat, Papua Sekarat: Ironi Layanan Kesehatan Indonesia

November 27, 2025
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id