Tabooo.id: Deep – Seandainya Syarifah menikah dengan Tan Malaka, apakah Indonesia akan tetap sama? Ini bukan pertanyaan romantis, tapi pertanyaan tentang takdir bangsa. Hanya sebuah sejarah Alternatif yang tidak pernah terjadi… Tapi andaikata terjadi, mungkin mengubah banyak hal dalam perjalanan bangsa.
Bukan Sekadar “Bagaimana Jika”, Ini Tentang Struktur Takdir Sejarah
Pertanyaan ini bukan romantisme kosong. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam: hubungan antara pengalaman personal dan konstruksi sejarah.
Dalam banyak kasus, sejarah memang dibangun oleh sistem, kolonialisme, ekonomi, politik. Namun, sejarah juga sering dipicu oleh sesuatu yang jauh lebih subtil, yakni pengalaman manusia yang sangat personal.
Sosok Tan Malaka selama ini dipahami sebagai produk pemikiran Marxist-Leninist yang rasional. Tapi penelitian sejarawan seperti Harry A. Poeze menunjukkan bahwa ada dimensi lain, sebuah pengalaman emosional yang membentuk intensitas ideologinya.
Dan di titik itulah, nama Syarifah Nawawi menjadi relevan, bukan sebagai pelengkap cerita, tapi sebagai variabel yang berpotensi mengubah arah sejarah.
Bukittinggi: Titik Nol yang Tidak Pernah Dianggap Penting
Pertemuan Tan Malaka dan Syarifah Nawawi terjadi di Kweekschool Bukittinggi, sebuah institusi yang menjadi pusat pembentukan elite pribumi dalam era Politik Etis Belanda.
Syarifah bukan sekadar siswi biasa. Ia adalah satu-satunya perempuan di antara puluhan laki-laki, lulusan Europeesche Lagere School (ELS), dan anak dari pendidik terkemuka Engku Nawawi Sutan Makmur. Ini menempatkannya dalam kategori “Perempuan Baru”: terdidik secara Eropa namun tetap berakar pada budaya lokal.
Sementara Tan Malaka, yang saat itu masih dikenal sebagai Ibrahim, adalah murid cerdas namun keras kepala, sering mendapat hukuman karena sikapnya yang melawan otoritas.
Dalam ruang ini, keduanya bertemu bukan hanya sebagai dua individu, tetapi sebagai dua representasi, modernitas yang sedang tumbuh dan kesadaran intelektual yang mulai melawan sistem kolonial.
Namun hubungan mereka tidak pernah berkembang secara terbuka, karena terjebak dalam norma sosial yang kaku, komunikasi terbatas, dan jarak yang segera memisahkan.
Kepergian ke Belanda: Awal Ketidakseimbangan yang Tidak Bisa Diperbaiki
Tahun 1913, Tan Malaka berangkat ke Belanda. Secara historis, ini adalah titik penting dalam pembentukan ideologinya. Namun secara personal, ini adalah awal dari ketidakseimbangan relasi.
Tan Malaka tetap menulis surat kepada Syarifah dari Haarlem, sebuah bentuk keterikatan emosional yang ia pertahankan di tengah radikalisasi politiknya.
Namun sumber sejarah menunjukkan bahwa surat-surat itu tidak mendapatkan respons yang seimbang. Syarifah, yang kemudian melanjutkan pendidikan di Batavia, bergerak dalam orbit sosial yang berbeda, lebih dekat dengan pusat kekuasaan kolonial.
Ketimpangan ini menciptakan jarak yang bukan hanya geografis, tapi juga psikologis.
Masuknya Feodalisme: Ketika Sistem Mengambil Alih Kehidupan Personal
Ketika Tan Malaka masih di Eropa, Syarifah bertemu dengan Wiranatakusumah V, seorang bupati dalam struktur feodal kolonial.
Pernikahan mereka pada 1916 bukan sekadar peristiwa personal. Ia adalah representasi bagaimana sistem bekerja, status sosial menentukan pilihan, kekuasaan mengalahkan relasi emosional, dan perempuan ditempatkan dalam struktur, bukan sebagai subjek bebas
Dalam konteks ini, Syarifah menjadi bagian dari sistem yang secara ideologis akan dilawan oleh Tan Malaka.
Perceraian 1924: Titik Ledakan yang Mengubah Cara Pandang
Peristiwa perceraian melalui telegram pada 1924 adalah salah satu momen paling simbolik dalam cerita ini.
Wiranatakusumah menceraikan Syarifah secara sepihak dari perjalanan haji. Tidak hanya melukai secara personal, tindakan ini juga memicu kritik luas, termasuk dari tokoh seperti Agus Salim. Dalam perspektif sosial, apa yang dilakukan Wiranatakusumah ini menunjukkan adanya dominasi absolut laki-laki dalam struktur feodal, posisi perempuan yang rentan dalam sistem poligami, serta ketidakadilan yang dilegalkan oleh adat dan kekuasaan.
Bagi Tan Malaka, yang mengetahui peristiwa ini dari kejauhan, ini bukan sekadar tragedi pribadi, tapi adalah bukti empiris.
Dari Pengalaman Personal ke Ideologi Radikal
Dalam karya Madilog (1943), Tan Malaka mengkritik keras feodalisme sebagai struktur yang melanggengkan kebodohan dan ketundukan. Namun jika ditelusuri lebih dalam, kritik ini tidak lahir dalam ruang kosong.
Kritika Tan Malaka ini lahir dari pengalaman. Ia melihat bagaimana sistem menentukan nasib manusia. Tan Malaka menyaksikan bagaimana perempuan diperlakukan sebagai objek, dan ia pun merasakan kehilangan akibat ketimpangan sosial
Dalam hal ini, ideologi Tan Malaka tidak hanya bersifat teoritis. Ia bersifat eksistensial.
Seandainya Syarifah Memilih Tan Malaka
Jika Syarifah tidak menikah dengan Wiranatakoesoemah, maka beberapa kemungkinan terbuka:
- Tan Malaka memiliki stabilitas emosional yang lebih kuat
- Ia tidak mengalami trauma personal yang memperkuat kebencian ideologisnya
- Pendekatan politiknya mungkin lebih moderat dan strategis
- Relasi sosialnya dengan tokoh lain bisa lebih fleksibel
Namun di sisi lain, ada kemungkinan bahwa:
- Tanpa tekanan emosional, intensitas perjuangannya berkurang
- Tanpa pengalaman konkret, kritik terhadap feodalisme tidak sekuat itu
Artinya, perubahan personal berpotensi mengubah arah ideologi.
Syarifah sebagai Subjek Sejarah, Bukan Sekadar “Cinta yang Hilang”
Penting untuk menempatkan Syarifah sebagai tokoh independen. Setelah perceraiannya, ia membangun Yayasan Panti Wanita. Syarifah pun terlibat dalam organisasi perempuan (PERWARI) dan berkontribusi besar dalam pendidikan perempuan.
Ini menunjukkan bahwa Syarifah bukan korban pasif, melainkan aktor aktif dalam sejarah sosial Indonesia. Jika ia bersama Tan Malaka, maka kemungkinan besar akan terbentuk aliansi intelektual yang kuat antara dua individu progresif
Sejarah Dibentuk oleh Apa yang Tidak Terjadi
Pertanyaan “Seandainya Syarifah menikah dengan Tan Malaka, apakah Indonesia akan tetap sama?” ini tidak memiliki jawaban pasti. Namun dari analisa historis, satu hal dapat disimpulkan, bahwa pengalaman personal memiliki pengaruh nyata terhadap pembentukan ideologi.
Tan Malaka yang kita kenal hari ini, keras, radikal, anti-feodal, tidak hanya dibentuk oleh buku, tetapi juga oleh pengalaman hidupnya.
Jika kala itu Syarifah memilih jalan yang berbeda, maka Tan Malaka mungkin menjadi individu yang berbeda, dan Indonesia mungkin mengalami dinamika sejarah yang berbeda
Namun justru karena hal itu tidak terjadi, sejarah berjalan seperti yang kita kenal hari ini. @tabooo
Rujukan:
- Harry A. Poeze – Pergulatan Menuju Republik: http://103.44.149.34/elib/halaman/unduhv2/1026
- Kumparan – Mereka yang Pernah Singgah di Hati Tan Malaka: https://kumparan.com/kumparannews/mereka-yang-pernah-singgah-di-hati-tan-malaka
- Wikipedia – Syarifah Nawawi: https://id.wikipedia.org/wiki/Syarifah_Nawawi
- ERA.id – Tan Malaka Sang Jomlo Revolusioner: https://era.id/sejarah/95572
- Bandung Bergerak – Biografi R.A. Sangkaningrat: https://bandungbergerak.id/article/detail/15418



