Tabooo.id: Global – Selat Hormuz kini berubah jadi alat tekanan geopolitik. Iran tidak lagi sekadar menjaga jalur laut ini, mereka memanfaatkannya sebagai senjata ekonomi.
Wakil bidang komunikasi dan informasi Kantor Kepresidenan Iran, Mehdi Tabatabai, menegaskan bahwa negaranya akan membuka kembali selat itu jika pendapatan transit mampu menutup kerugian perang.
“Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali apabila sebagian dari pendapatan transit digunakan untuk mengganti semua kerusakan akibat perang,” ujarnya.
Pernyataan ini menunjukkan satu hal Iran mulai menghitung perang sebagai transaksi.
Perang Jadi Titik Balik
Konflik memanas sejak 28 Februari 2026. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran dan memicu eskalasi besar di kawasan.
Tabatabai tidak menahan kritiknya. Ia menyindir Presiden AS Donald Trump yang terus melontarkan pernyataan keras meski konflik sudah meluas.
Iran tidak hanya bertahan. Mereka merespons dengan strategi yang lebih terukur dan berdampak global.
“Selat Tak Akan Sama Lagi”
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mempertegas posisi itu. Mereka menilai Selat Hormuz sudah memasuki fase baru.
“Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke keadaan semula, terutama bagi AS dan Israel,” tulis IRGC.
Pernyataan ini bukan sekadar ancaman. IRGC mengaku sudah menyiapkan tahap akhir operasional untuk membentuk “tatanan baru” di wilayah tersebut.
Iran jelas ingin mengubah aturan main, bukan sekadar bertahan.
Rencana Tarif dan Larangan Transit
Pemerintah Iran mulai merancang kebijakan konkret. Parlemen menyetujui rancangan undang-undang yang mengatur biaya transit kapal.
Rencana itu memuat beberapa poin penting:
- Kapal wajib membayar biaya transit dengan mata uang nasional Iran
- Iran melarang kapal AS dan Israel melintas
- Iran membatasi akses bagi negara yang ikut sanksi
- Pemerintah memperkuat kontrol atas keamanan dan kedaulatan laut
Langkah ini memperlihatkan ambisi Iran: menguasai jalur strategis sekaligus arus ekonomi global.
Lalu Lintas Anjlok, Dunia Ikut Tertekan
Meski ketegangan tinggi, aktivitas pelayaran belum berhenti total. Dalam 24 jam terakhir, 15 kapal berhasil melintasi Selat Hormuz setelah mengantongi izin dari Iran.
Namun, angka itu masih jauh dari kondisi normal.
Lalu lintas kapal turun lebih dari 90 persen dibandingkan sebelum perang. Jalur vital yang biasanya padat kini nyaris sepi.
Padahal, Selat Hormuz menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Dampaknya Buat Dunia (dan Kamu)
Ketika Selat Hormuz terganggu, efeknya langsung terasa secara global.
Harga minyak berpotensi naik. Biaya logistik ikut terdorong. Tekanan inflasi bisa merembet ke banyak negara, termasuk Indonesia.
Artinya sederhana: konflik di Timur Tengah bisa sampai ke dompet kamu.
Penutup: Siapa Bayar Harga Perang?
Iran kini tidak hanya melawan serangan. Mereka mengubah konflik menjadi alat tawar ekonomi dan politik.
Pertanyaannya, jika jalur laut dijadikan “alat bayar” kerugian perang, siapa yang akhirnya menanggung biaya terbesar?
Jawabannya mungkin bukan Iran. Tapi dunia. @dimas




