Tabooo.id: Bisnis – Nilai tukar rupiah kembali tertekan di awal pekan. Pada perdagangan Senin (6/4/2026) pagi, rupiah berada di level Rp16.995 per dolar AS.
Angka ini turun 15 poin atau sekitar 0,09 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan memang tipis, tapi sinyal tekanan masih jelas terasa.
Faktor eksternal kembali jadi pemicu utama.
Asia Menguat, Rupiah Justru Tertahan
Mayoritas mata uang Asia justru bergerak menguat. Yen Jepang, baht Thailand, yuan China, dan won Korea Selatan mencatat penguatan meski tipis.
Namun, tidak semua mata uang di kawasan bernasib sama. Peso Filipina justru melemah cukup dalam.
Di tengah pergerakan itu, rupiah terlihat belum mampu mengikuti tren penguatan regional.
Hal ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah lebih spesifik dan tidak sekadar mengikuti arah pasar Asia.
Mata Uang Global Kompak Melemah
Di sisi lain, mata uang negara maju justru bergerak di zona merah. Euro, poundsterling, hingga franc Swiss sama-sama melemah terhadap dolar AS.
Dolar Australia dan Kanada juga ikut terkoreksi, meski dalam skala kecil.
Kondisi ini mempertegas posisi dolar AS yang masih dominan di tengah ketidakpastian global.
Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah tidak lepas dari situasi geopolitik yang memanas.
Ia menyoroti konflik di Timur Tengah yang terus meningkat dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi perang di Timur Tengah dan harga minyak mentah yang terus naik,” ujarnya.
Selain itu, data tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan turut memperkuat dolar AS.
Indeks dolar pun ikut naik, menambah tekanan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.950 hingga Rp17.050 per dolar AS.
Rentang ini menunjukkan volatilitas masih tinggi. Pasar akan terus mencermati perkembangan global, terutama konflik geopolitik dan data ekonomi Amerika Serikat.
Penutup: Waspada Tekanan Berlanjut
Pelemahan rupiah kali ini memang belum signifikan. Namun, arah pergerakannya menunjukkan tekanan eksternal masih kuat.
Selama konflik global belum mereda dan dolar AS tetap perkasa, rupiah kemungkinan sulit menguat signifikan.
Pertanyaannya, apakah ini hanya pelemahan sementara, atau awal dari tekanan yang lebih panjang? @dimas



