Tabooo.id: Talk – Presiden Prabowo Subianto datang dengan satu janji besar: keadilan sosial. Ia bicara soal melindungi rakyat kecil, melawan korupsi, dan memastikan kekayaan negara tidak dikuasai segelintir elite.
Narasinya tegas. Bahkan keras.
Ia meminta aparat hukum tidak lagi “tumpul ke atas, tajam ke bawah”. Ia juga menegaskan tidak akan mundur dalam perang melawan korupsi.
Kedengarannya ideal. Tapi pertanyaannya sederhana sudah sejauh mana itu terjadi?
Janji yang Terasa Dekat, Tapi Belum Tuntas
Prabowo tidak hanya bicara. Ia juga menjalankan program seperti Makan Bergizi Gratis, yang ia dorong sebagai bentuk kehadiran negara bagi rakyat kecil.
Namun, keadilan sosial bukan sekadar program bantuan. Ia bicara soal struktur, soal sistem, soal siapa yang benar-benar menikmati hasil pembangunan.
Di titik ini, tantangannya mulai terlihat.
Kesenjangan ekonomi masih lebar. Kemiskinan belum benar-benar turun. Bahkan, sejumlah laporan menunjukkan tekanan ekonomi justru meningkat dalam periode awal pemerintahannya.
Hukum Masih Jadi Sorotan
Seruan Prabowo soal aparat hukum yang berkeadilan terdengar kuat. Tapi publik punya ingatan panjang.
Kasus-kasus besar sering kali terasa lambat. Sementara pelanggaran kecil cepat ditindak.
Inilah yang membuat narasi “tumpul ke atas, tajam ke bawah” belum benar-benar hilang dari benak masyarakat.
Kalau hukum belum terasa adil, maka keadilan sosial akan selalu terasa setengah jalan.
Ekonomi: Tumbuh, Tapi Belum Merata
Target pertumbuhan ekonomi 8 persen terdengar ambisius. Tapi para ekonom mengingatkan, angka itu sulit tercapai tanpa industrialisasi yang kuat.
Masalahnya, Indonesia justru menghadapi gejala deindustrialisasi dini.
Kontribusi industri terhadap ekonomi terus menurun. Sementara sektor informal makin meluas.
Di saat yang sama, kelas menengah menyusut. Jutaan orang turun ke kelompok rentan.
Ini bukan sekadar angka. Ini soal daya tahan masyarakat.
Keadilan yang Tertahan Struktur Lama
Kita tidak bisa menutup mata pada fakta lama sebagian besar ekonomi nasional masih dikuasai oleh kelompok kecil.
Fenomena ini bukan baru. Ia terbentuk sejak lama, bahkan sejak era Orde Baru.
Masalahnya, hingga hari ini, distribusi kekayaan belum banyak berubah.
Di sinilah letak ujian terbesar Prabowo. Bukan hanya membangun ekonomi, tapi merombak struktur yang timpang.
Dan itu tidak pernah mudah.
Di Tengah Tarikan Politik dan Global
Prabowo juga tidak bekerja di ruang kosong. Ia menghadapi tekanan politik domestik dan dinamika global yang tidak stabil.
Di satu sisi, ia harus menjaga stabilitas. Di sisi lain, ia dituntut melakukan perubahan besar.
Ini posisi yang rumit.
Salah langkah sedikit saja, dampaknya bisa luas baik secara ekonomi maupun sosial.
Jadi, Keadilan Sosial Itu Masih Jauh?
Jawabannya tidak hitam putih.
Prabowo sudah membawa arah. Ia juga menunjukkan niat.
Tapi keadilan sosial bukan sprint. Ini maraton panjang yang butuh konsistensi, keberanian, dan yang paling sulit keputusan tidak populer.
Seperti kata Bung Hatta, negara sebesar Indonesia hanya bisa dipimpin oleh mereka yang punya jiwa besar.
Dan sekarang, publik sedang menunggu: apakah Prabowo akan menjadi pemimpin dengan jiwa sebesar itu?
Atau justru terjebak dalam sistem yang ingin ia ubah? @dimas



