Tabooo.id: Deep – Ramadan selalu menghadirkan ritme yang sama berbagi, percaya, dan menyambung yang putus. Namun kini, ritme itu terganggu oleh sesuatu yang tak terlihat rasa curiga yang tumbuh diam-diam.
Kampanye IM3 dari Indosat Ooredoo Hutchison mencoba memberi perlindungan. Mereka ingin mengingatkan pengguna tentang lonjakan penipuan digital yang makin rapi dan makin meyakinkan.
Namun, satu kalimat justru memicu kegelisahan yang lebih luas dari sekadar iklan.
“Telpon ngajak zakat? Jangan diangkat.” Kalimat ini tidak berhenti sebagai imbauan. Ia berubah menjadi tanda dari pergeseran besar ketika kepercayaan mulai kalah cepat dari ketakutan.
Scam Itu Nyata, Tapi Rasa Curiga Juga Nyata
Indosat menyajikan data yang kuat. Penipuan digital selama Ramadan 2025 naik 34,7%. Selain itu, pelaku memanfaatkan WhatsApp (89%) dan telepon (64%) sebagai jalur utama.
Artinya jelas scammer sedang panen.
Namun, pada saat yang sama, zakat juga bergerak lewat jalur yang sama komunikasi dan kepercayaan. Zakat hidup karena orang saling percaya, bukan karena sistem verifikasi berlapis.
Di titik ini, benturan tidak terhindarkan. Teknologi mendorong kewaspadaan, sementara nilai sosial menuntut kepercayaan.
Pesan Jelas, Tapi Rasa Tidak Sampai
Indosat tidak berniat menyinggung. Mereka langsung meminta maaf dan menghentikan kampanye. Namun, masalah utama tidak berhenti pada niat.
“Kami sampaikan bahwa tidak memiliki niat untuk menyinggung nilai-nilai keagamaan maupun kelompok/organisasi manapun. Hal ini dilakukan seiring dengan meningkatnya temuan potensi penipuan yang mengatasnamakan aktivitas zakat di bulan Ramadhan, dan Sebagai bentuk tanggung jawab, seluruh materi komunikasi terkait kampanye ini telah ditarik dan dihentikan dari semua kanal,” kata Ovidia Naomi SVP Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison Ovidia Nomia dalam keterangan resminya, melansir Antara, Sabtu (04/04/2026).
Masalah muncul ketika pesan kehilangan konteks. Di ruang digital, orang membaca cepat dan bereaksi lebih cepat. Setiap orang menafsirkan pesan berdasarkan pengalaman masing-masing.
Sebagian melihat peringatan. Sebagian lain menangkap ajakan untuk mencurigai.
POROZ pun melihat risiko ini. Mereka menilai narasi tersebut berpotensi mengganggu kepercayaan publik terhadap lembaga zakat resmi yang selama ini mereka bangun secara konsisten.
Dan kekhawatiran itu masuk akal. Karena kepercayaan tidak tumbuh instan, dan tidak pulih hanya dengan klarifikasi.
Teknologi Membentuk Cara Kita Melihat Orang Lain
Kita sering menyebut teknologi sebagai alat bantu. Namun sebenarnya, teknologi ikut membentuk cara kita berpikir.
Ketika spam meningkat, kita belajar mengabaikan. Ketika penipuan marak, kita belajar mencurigai. Lalu kebiasaan itu meluas ke interaksi lain.
Akibatnya, kita tidak lagi melihat pesan sebagai niat baik. Kita melihatnya sebagai potensi risiko. Di sinilah perubahan besar terjadi.
Teknologi tidak hanya melindungi, tetapi juga menggeser cara kita mempercayai orang lain.
Trust Fatigue: Ketika Percaya Terasa Melelahkan
Fenomena ini menunjukkan satu hal kita mulai lelah untuk percaya.
Kita menghadapi terlalu banyak penipuan Kita terus diminta waspada. Akhirnya, kita memilih langkah paling aman tidak percaya dulu. Namun, pilihan ini membawa konsekuensi.
Ketika rasa curiga menjadi default, kebaikan harus bekerja lebih keras untuk membuktikan dirinya. Tidak semua kebaikan mampu melewati ujian itu.
Perlindungan atau Kehilangan Makna?
Indosat sudah mengambil langkah cepat. Mereka meminta maaf, mengevaluasi, dan menarik kampanye.
Selain itu, mereka membuka peluang kolaborasi dengan lembaga zakat resmi.
Namun, pertanyaan yang tersisa lebih dalam dari sekadar siapa yang benar. Apa yang sebenarnya berubah dalam cara kita mempercayai?
Karena jika setiap ajakan kebaikan harus melewati filter kecurigaan, kita tidak hanya melindungi diri dari penipuan kita juga perlahan menjauh dari makna kebaikan itu sendiri.
Punchline Tabooo
Hari ini, iman bertemu algoritma. Dan di tengah pertemuan itu, manusia terus menimbang percaya atau curiga.
Namun mungkin pertanyaan paling jujur bukan itu. Ketika semua harus diverifikasi, apakah kita masih benar-benar percaya atau hanya sedang menghindari tertipu?. @teguh






