Tabooo.id: Talk – Pernah nggak kamu kepikiran, kenapa kata salib selalu bikin orang langsung masuk mode serius? Padahal kalau kita tarik sedikit keluar dari ruang ibadah ke politik, ke ruang publik, ke kehidupan sehari-hari salib itu bukan cuma simbol agama. Ia juga simbol tentang ketakutan, kekuasaan, dan cara manusia mengatur manusia lain.
Dan pertanyaannya sederhana tapi agak mengganggu, kalau dulu orang disalibkan untuk ditakuti, hari ini kita masih “disalibkan” oleh ketakutan dalam bentuk lain nggak sih?
Salib Itu Alat Teror Publik?
Kalau kita mundur ke sejarah, hukuman salib di zaman Romawi bukan sekadar hukuman. Itu show of power. Menurut John Peet dalam The Politics of the Crucified (2021), salib adalah alat politik untuk meredam pemberontakan. Intinya jelas: jangan macam-macam sama penguasa, atau kamu akan jadi contoh.
Yang menarik, hukuman ini bukan cuma untuk menghukum individu, tapi untuk “mendidik” publik lewat rasa takut. Brutal, tapi efektif.
Tapi di titik ini, Yesus justru membalik makna itu. Salib yang awalnya simbol kehinaan berubah jadi simbol kemuliaan. Ini bukan cuma cerita teologis, tapi semacam pembalikan makna kekuasaan dari alat menundukkan manusia menjadi simbol pembebasan.
Nah, pertanyaannya, kalau simbol bisa berubah, apakah cara kita menciptakan ketakutan juga ikut berubah?
Dari Roma ke Realitas Kita
Oke, kita lompat ke sekarang. Nggak ada lagi salib sebagai hukuman publik. Tapi apakah ketakutan publik benar-benar hilang?
Di banyak ruang sosial-politik, kekerasan terhadap kelompok kritis masih muncul sebagai bentuk lain dari kontrol. Hannah Arendt dalam On Violence (1970) bahkan bilang, kekerasan sering dipakai untuk memperluas kekuasaan, bukan sekadar menjaga stabilitas.
Contohnya bisa kita lihat dari berbagai kasus intimidasi terhadap aktivis atau tekanan pada suara-suara kritis. Polanya bukan selalu terang-terangan, tapi efeknya sama: orang jadi lebih hati-hati untuk bicara.
Dan di titik ini muncul pertanyaan yang agak tidak nyaman, ini demokrasi yang sehat, atau demokrasi yang takut sama dirinya sendiri?
Politik, Ketakutan, dan Ruang Aman yang Menyempit
Kalau Aristoteles bilang politik itu harus berbasis akal sehat dan demi kebaikan bersama, maka logikanya sederhana: politik seharusnya bikin orang merasa aman.
Tapi kenyataannya, rasa aman itu sering terasa rapuh.
Ketika ketakutan jadi bagian dari cara mengelola ruang publik, orang mulai menghitung risiko sebelum bicara. Kritik jadi pelan. Suara jadi terfilter. Bahkan diam jadi strategi bertahan.
Dan kita perlu jujur di sini, kalau orang lebih takut bicara daripada salah bicara, siapa yang sebenarnya sedang mengatur ruang publik kita?
Salib Sebagai Kritik, Bukan Kepatuhan
Jürgen Moltmann dalam The Crucified God (1973) melihat salib sebagai kritik permanen terhadap ketidakadilan. Salib berdiri di sisi yang tertindas, bukan di sisi yang nyaman dengan kekuasaan.
Kalau ditarik ke konteks sekarang, ini jadi refleksi yang cukup tajam: agama, moralitas, dan politik seharusnya tidak diam ketika ketakutan diproduksi sebagai sistem.
Moltmann menekankan keberpihakan. Tapi tentu ada perspektif lain sebagian orang akan bilang stabilitas butuh ketegasan. Itu argumen yang valid sampai titik tertentu.
Tapi pertanyaan lanjutannya tetap sama, stabilitas atau ketakutan yang dibungkus rapi?
Refleksi Tabooo: ketika manusia masih “tersalibkan”
Kalau dulu salib dipakai untuk menghina manusia, lalu diubah menjadi simbol kemuliaan, maka pertanyaan pentingnya sekarang adalah apakah manusia sudah benar-benar bebas dari bentuk “salib modern”?
Salib modern itu bisa berupa ketakutan berbicara, tekanan sosial, atau ruang publik yang tidak ramah pada kritik. Bentuknya berubah, tapi efeknya mirip manusia jadi menahan diri.
Dan di titik ini, politik seharusnya tidak berhenti sebagai alat kekuasaan, tapi menjadi ruang untuk memuliakan manusia.
Lalu, kita mau di kubu mana?
Kalau kamu baca sampai sini, kita mungkin sepakat satu hal ketakutan selalu punya bentuk baru.
Tapi pertanyaannya bukan cuma soal apa yang salah.
Pertanyaannya lebih sederhana tapi lebih berat, kita mau hidup di sistem yang mengatur lewat rasa takut, atau yang membebaskan lewat keberanian?
Lalu, kamu di kubu mana? @dimas



