Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Salib, Politik, dan Ketakutan yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

by dimas
April 3, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernah nggak kamu kepikiran, kenapa kata salib selalu bikin orang langsung masuk mode serius? Padahal kalau kita tarik sedikit keluar dari ruang ibadah ke politik, ke ruang publik, ke kehidupan sehari-hari salib itu bukan cuma simbol agama. Ia juga simbol tentang ketakutan, kekuasaan, dan cara manusia mengatur manusia lain.

Dan pertanyaannya sederhana tapi agak mengganggu, kalau dulu orang disalibkan untuk ditakuti, hari ini kita masih “disalibkan” oleh ketakutan dalam bentuk lain nggak sih?

Salib Itu Alat Teror Publik?

Kalau kita mundur ke sejarah, hukuman salib di zaman Romawi bukan sekadar hukuman. Itu show of power. Menurut John Peet dalam The Politics of the Crucified (2021), salib adalah alat politik untuk meredam pemberontakan. Intinya jelas: jangan macam-macam sama penguasa, atau kamu akan jadi contoh.

Yang menarik, hukuman ini bukan cuma untuk menghukum individu, tapi untuk “mendidik” publik lewat rasa takut. Brutal, tapi efektif.

Tapi di titik ini, Yesus justru membalik makna itu. Salib yang awalnya simbol kehinaan berubah jadi simbol kemuliaan. Ini bukan cuma cerita teologis, tapi semacam pembalikan makna kekuasaan dari alat menundukkan manusia menjadi simbol pembebasan.

Ini Belum Selesai

Kompetensi atau Koneksi? Jalan Menuju Indonesia Emas

Masihkah Pemimpin Indonesia Percaya Laku Sebelum Bertahta?

Nah, pertanyaannya, kalau simbol bisa berubah, apakah cara kita menciptakan ketakutan juga ikut berubah?

Dari Roma ke Realitas Kita

Oke, kita lompat ke sekarang. Nggak ada lagi salib sebagai hukuman publik. Tapi apakah ketakutan publik benar-benar hilang?

Di banyak ruang sosial-politik, kekerasan terhadap kelompok kritis masih muncul sebagai bentuk lain dari kontrol. Hannah Arendt dalam On Violence (1970) bahkan bilang, kekerasan sering dipakai untuk memperluas kekuasaan, bukan sekadar menjaga stabilitas.

Contohnya bisa kita lihat dari berbagai kasus intimidasi terhadap aktivis atau tekanan pada suara-suara kritis. Polanya bukan selalu terang-terangan, tapi efeknya sama: orang jadi lebih hati-hati untuk bicara.

Dan di titik ini muncul pertanyaan yang agak tidak nyaman, ini demokrasi yang sehat, atau demokrasi yang takut sama dirinya sendiri?

Politik, Ketakutan, dan Ruang Aman yang Menyempit

Kalau Aristoteles bilang politik itu harus berbasis akal sehat dan demi kebaikan bersama, maka logikanya sederhana: politik seharusnya bikin orang merasa aman.

Tapi kenyataannya, rasa aman itu sering terasa rapuh.

Ketika ketakutan jadi bagian dari cara mengelola ruang publik, orang mulai menghitung risiko sebelum bicara. Kritik jadi pelan. Suara jadi terfilter. Bahkan diam jadi strategi bertahan.

Dan kita perlu jujur di sini, kalau orang lebih takut bicara daripada salah bicara, siapa yang sebenarnya sedang mengatur ruang publik kita?

Salib Sebagai Kritik, Bukan Kepatuhan

Jürgen Moltmann dalam The Crucified God (1973) melihat salib sebagai kritik permanen terhadap ketidakadilan. Salib berdiri di sisi yang tertindas, bukan di sisi yang nyaman dengan kekuasaan.

Kalau ditarik ke konteks sekarang, ini jadi refleksi yang cukup tajam: agama, moralitas, dan politik seharusnya tidak diam ketika ketakutan diproduksi sebagai sistem.

Moltmann menekankan keberpihakan. Tapi tentu ada perspektif lain sebagian orang akan bilang stabilitas butuh ketegasan. Itu argumen yang valid sampai titik tertentu.

Tapi pertanyaan lanjutannya tetap sama, stabilitas atau ketakutan yang dibungkus rapi?

Refleksi Tabooo: ketika manusia masih “tersalibkan”

Kalau dulu salib dipakai untuk menghina manusia, lalu diubah menjadi simbol kemuliaan, maka pertanyaan pentingnya sekarang adalah apakah manusia sudah benar-benar bebas dari bentuk “salib modern”?

Salib modern itu bisa berupa ketakutan berbicara, tekanan sosial, atau ruang publik yang tidak ramah pada kritik. Bentuknya berubah, tapi efeknya mirip manusia jadi menahan diri.

Dan di titik ini, politik seharusnya tidak berhenti sebagai alat kekuasaan, tapi menjadi ruang untuk memuliakan manusia.

Lalu, kita mau di kubu mana?

Kalau kamu baca sampai sini, kita mungkin sepakat satu hal ketakutan selalu punya bentuk baru.

Tapi pertanyaannya bukan cuma soal apa yang salah.
Pertanyaannya lebih sederhana tapi lebih berat, kita mau hidup di sistem yang mengatur lewat rasa takut, atau yang membebaskan lewat keberanian?

Lalu, kamu di kubu mana? @dimas

Tags: DemokrasifilsafatIsu SosialkekuasaanNasionalPolitik IndonesiaRefleksiRuangSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

D.N. Aidit: Dari Muazin Belitung ke Ketua PKI

D.N. Aidit: Dari Muazin Belitung ke Ketua PKI

by Tabooo
Juli 18, 2026

D.N. Aidit tumbuh dalam keluarga Muslim terpandang di Belitung. Perjalanannya membawanya dari surau, gerakan pemuda, hingga puncak kepemimpinan PKI dan...

Kipas Anginnya Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

Kipas Angin Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

by teguh
Juli 17, 2026

Di era media sosial, satu tangkapan layar bisa memicu kegaduhan nasional sebelum pemerintah sempat membuka konferensi pers. Itulah yang terjadi...

Demo Mahasiswa Kepung Jakarta, Jalanan Uji Kepercayaan Publik

Demo Mahasiswa Kepung Jakarta, Jalanan Uji Kepercayaan Publik

by dimas
Juli 17, 2026

Ratusan mahasiswa menggelar demonstrasi di Jakarta. Polisi mengerahkan 3.728 personel untuk mengamankan aksi di tengah upaya menjaga ketertiban dan kepercayaan...

Next Post
Yahoo Jual Kunci Jempol: Solusi Absurd untuk Masalah yang Terlalu Nyata?

Yahoo Jual Kunci Jempol: Solusi Absurd untuk Masalah yang Terlalu Nyata?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id