Tabooo.id: Game – Kabar yang bikin dompet auto meringis akhirnya resmi datang dari Sony. Mereka mengonfirmasi kenaikan harga global untuk PlayStation 5 mulai 2 April 2026.
Bukan cuma satu varian, tapi semuanya kena: Slim, Pro, bahkan PS Portal. Dan yang paling bikin banyak orang menghela napas panjang? Versi digital-only yang dulu dianggap “lebih ramah kantong” sekarang ikut naik, tembus sekitar $599 atau 519 GBP.
Angkanya? Diperkirakan naik sekitar 100 USD atau 100 Euro. Yes, angka yang cukup buat mikir dua kali antara beli game baru… atau bayar listrik.
Alasan Klasik: Teknologi Mahal, Konsumen Mengalah?
Alasan dari Sony terdengar klasik tapi masuk akal: biaya komponen naik. SSD makin mahal, RAM ikut melambung, GPU apalagi semuanya kayak ikut lomba siapa paling bikin pusing produsen.
Demi tetap menghadirkan pengalaman gaming “inovatif dan berkualitas tinggi”, harga akhirnya disesuaikan. Bahasa halusnya: kalau mau tetap canggih, ya siap-siap bayar lebih.
Dari Hiburan Rakyat ke Hobi Premium
Dulu, gaming itu pelarian murah meriah. Sekali beli konsol, bisa bertahun-tahun santai. Sekarang? Konsol naik, game naik, langganan online ikut merangkak.
Tanpa sadar, gaming berubah kasta. Dari hiburan rakyat… jadi hobi premium.
Ironisnya, di saat industri game makin inklusif dari sisi cerita dan karakter, aksesnya justru makin eksklusif dari sisi harga.
Pertanyaannya: ini soal kualitas… atau soal siapa yang masih mampu bertahan di dalam ekosistemnya?
Efek Domino: Siapa Menyusul?
Langkah Sony ini bukan kejadian tunggal. Ini sinyal.
Raksasa lain seperti Microsoft dan Nintendo kemungkinan besar akan menghadapi tekanan yang sama. Kalau biaya produksi naik untuk satu pemain, hampir pasti yang lain juga ikut terdampak.
Artinya? Kenaikan harga konsol lain mungkin bukan “jika” tapi “kapan”.
Jadi Gamer di Era Inflasi
Di titik ini, gaming bukan lagi sekadar hiburan. Ia berubah jadi refleksi kondisi ekonomi global—bahkan dunia virtual pun nggak kebal inflasi.
Ketika harga PlayStation 5 naik, mungkin pertanyaannya bukan cuma “masih worth it nggak?”
Tapi: seberapa jauh kita rela bayar untuk tetap merasa “terhubung” dengan dunia yang kita nikmati?
Jadi, kamu tim mana: tetap beli, nunggu diskon, atau mulai cari hobi baru yang lebih ramah dompet?@eko



