Tabooo.id: Deep – Instruksi Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk “berburu minyak” ke berbagai negara mungkin terdengar seperti langkah cepat. Responsif. Bahkan strategis.
Tapi di balik itu, ada pertanyaan yang mungkin lebih jujur, kenapa negara sebesar Indonesia masih harus berburu? Karena di dunia yang makin tidak stabil, satu hal jadi jelas, yang tidak punya energi sendiri, akan selalu hidup dalam kecemasan.
Dunia Sedang Panas, Tapi Kita Ikut Panik?
Konflik di Timur Tengah bukan hal baru. Tapi setiap kali eskalasi terjadi, reaksi negara-negara seperti Indonesia hampir selalu sama, yaitu mencari alternatif impor. Masalahnya bukan pada reaksinya, melainkan pada pola yang terus berulang.
Setiap konflik global → pasokan terganggu → harga naik → pemerintah bergerak cepat → publik diminta tenang.
Siklus ini bukan strategi. Ini ketergantungan yang terus ditunda penyelesaiannya.
Fakta yang Tidak Nyaman: Kita Belum Mandiri
Mari jujur.
- Sekitar 50% kebutuhan bensin masih impor
- Sekitar 70% LPG masih datang dari luar negeri
Artinya, sebagian besar energi yang kita gunakan setiap hari untuk masak, berkendara, bahkan bekerja, tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita. Kalau jalur global terganggu, kita tidak punya banyak pilihan selain… menunggu. Atau berburu.
Selat Hormuz: Titik Kecil, Dampak Besar
Dua kapal Pertamina yang tertahan di kawasan Teluk Arab bukan sekadar berita teknis. Itu simbol bahwa energi global bergantung pada jalur-jalur sempit yang bisa berubah menjadi titik krisis kapan saja.
Selat Hormuz mungkin hanya garis kecil di peta. Tapi bagi negara yang masih impor energi, itu seperti urat nadi.
Kalau tersumbat, seluruh tubuh ikut terasa.
Diversifikasi: Solusi atau Sekadar Adaptasi?
Pemerintah kini mendorong diversifikasi sumber impor. Tidak hanya bergantung pada Timur Tengah. Secara strategi, ini langkah yang masuk akal, yakni mengurangi risiko dan menyebar ketergantungan. Tapi tetap saja, itu masih ketergantungan.
Mengganti satu sumber dengan banyak sumber tidak otomatis berarti mandiri. Itu hanya membuat risiko lebih tersebar, bukan hilang.
Pertanyaan yang Jarang Dibahas
Kita sering bicara soal harga BBM. Kita sering ribut soal subsidi. Tapi jarang sekali kita benar-benar bertanya:
- Kenapa negara dengan sumber daya alam besar masih belum bisa mandiri energi?
- Apa yang membuat ketergantungan ini bertahan puluhan tahun?
- Siapa yang sebenarnya diuntungkan dari kondisi ini?
Karena mungkin jawabannya tidak sederhana. Dan mungkin juga… tidak nyaman.
Antisipasi atau Alarm?
Langkah Prabowo bisa dilihat sebagai bentuk kepemimpinan yang responsif. Ia tidak menunggu krisis datang, tapi bergerak lebih dulu. Tapi di saat yang sama, langkah ini juga membuka realita, bahwa Indonesia belum sepenuhnya siap menghadapi dunia yang tidak stabil.
Kita cepat dalam bereaksi. Tapi belum tentu cepat dalam bertransformasi.
Energi Bukan Sekadar Minyak
Energi adalah soal kedaulatan. Soal seberapa besar kontrol kita atas kehidupan sehari-hari.
Ketika energi masih bergantung pada luar, maka stabilitas kita juga ikut bergantung. Dan ketika dunia mulai tidak bisa diprediksi, ketergantungan berubah jadi risiko.
Jadi, Kita Sedang Berburu… atau Mengejar Ketertinggalan?
Instruksi “berburu minyak” bisa dibaca dua cara, yang pertama sebagai strategi adaptif di tengah krisis global atau kedua sebagai tanda bahwa kita belum selesai dengan masalah lama. Mungkin, jawabannya adalah keduanya, karena di balik setiap kebijakan energi selalu ada satu pertanyaan yang tidak pernah benar-benar hilang, Sebenarnya kita ingin aman atau benar-benar mandiri? @tabooo



