Tabooo.id: Deep – Siang di Gang Poppies terasa biasa saja. Turis lalu-lalang, motor parkir, musik samar dari bar yang belum sepenuhnya hidup. Tapi di satu titik, ada kalimat yang menolak untuk jadi “biasa”, “KUTA NOT CRIME.”
Tulisan itu tidak dicetak rapi, tidak juga disetujui siapa pun, tapi justru itu yang membuatnya terasa penting. Tulisan seperti ini tidak muncul tanpa alasan.
Ketika Sebuah Tempat Mulai Diadili
Dalam beberapa tahun terakhir, Kuta, terutama area seperti Gang Poppies, tidak lagi hanya dilihat sebagai destinasi.
Ia juga jadi bahan pembicaraan. Tentang kriminalitas, tentang turis bermasalah, tentang aktivitas ekonomi malam yang dianggap “abu-abu”. Narasi itu pelan-pelan membentuk stigma.
“Sekarang orang sering ngomong Kuta kayak tempat bermasalah,” ujar Raka (nama samaran), salah seorang pekerja bar di Gang Poppies. “Padahal… gak semua yang di sini kayak gitu,” imbuhnya.
Ia berhenti sebentar, lalu menunjuk ke arah tembok itu, “Makanya ada yang nulis itu.”
“Kuta Not Crime” Sebagai Reaksi
Tulisan itu bukan kampanye, bukan juga proyek seni resmi. Mungkin lebih tepat disebut… reaksi spontan.
Ketika sebuah tempat terus diberi label, akan selalu ada yang mencoba melawan—meski dengan cara sederhana.
“Kadang kita ngerasa dihakimi,” kata Raka. “Kayak semua orang di sini sama aja,” keluhnya.
Padahal menurutnya, kenyataan yang ada jauh lebih kompleks. Ada yang kerja jujur, ada yang bertahan hidup, namun tak sedikit pula yang terjebak sistem. Tapi di mata luar, semuanya sering disamaratakan.
Stigma yang Menular ke Orang
Ayu (nama samaran), pernah bekerja di salah satu spa di sekitar Poppies, mengaku pernah merasakan dampaknya langsung.
“Kadang tamu datang udah curiga duluan,” kata Ayu. “Padahal kita cuma kerja biasa,” tambahnya.
Ia menarik napas pelan.
“Cap itu bukan cuma ke tempat. Tapi ke orang-orangnya juga,” terangnya lebih lanjut.
Di titik ini, tulisan di tembok itu berubah makna. Ia bukan lagi soal Kuta, melainkan soal manusia yang hidup di dalamnya.
Kenapa Harus di Tembok?
Karena tidak semua orang punya akses ke media. Tidak semua suara dianggap penting. Tembok pun jadi alternatif. Murah, mudah terlihat, dan tidak butuh izin.
“Kalau ngomong langsung, siapa yang denger?” kata Raka. “Kalau ditulis di situ, semua orang lewat bisa baca,” tegasnya.
Graffiti, dalam konteks ini, bukan sekadar ekspresi, tapi strategi. Sebuah cara sederhana untuk masuk ke ruang publik, tanpa harus diundang.
Gang Poppies: Ruang Kecil, Tekanan Besar
Gang Poppies mungkin hanya lorong sempit di peta wisata Bali. Tapi di dalamnya, banyak hal terjadi bersamaan. Perputaran ekonomi cepat, interaksi lintas budaya, relasi kerja yang tidak selalu setara.
Semua itu menciptakan tekanan yang tidak selalu terlihat. Dan ketika tekanan tidak punya saluran, ia akan keluar dengan cara yang paling mungkin. Salah satunya cat di tembok.
Yang Tidak Pernah Masuk Konten Liburan
Kuta sering dilihat dari sudut yang menyenangkan, pantai, party, kebebasan. Jarang dari sudut yang melelahkan, seperti jam kerja panjang, penghasilan yang tidak pasti, dan stigma yang terus menempel.
“Kita bukan gak tahu sisi gelapnya,” kata Ayu. “Tapi bukan berarti semuanya gelap,” ucapnya lirih.
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk menjelaskan kenapa tulisan itu ada.
Setiap stigma butuh lawan, dan ketika tidak ada ruang untuk membantah, perlawanan pun akan muncul di tempat yang tidak terduga. Seperti Graffiti di tembok.
“KUTA NOT CRIME.”
Kalimat itu mungkin kecil, mungkin seringkali hanya dilewati, atau mungkin dianggap tidak penting. Tapi bagi sebagian orang, itu adalah satu-satunya cara untuk berkata:
“Jangan nilai kami dari cerita yang kamu dengar, tapi dari realita yang kamu belum lihat.”
Dan mungkin pertanyaannya sekarang bukan lagi, “kenapa tulisan itu ada?” melainkan “kenapa sampai harus ada?” @tabooo



