• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Sedap Malam: Ketika Ogoh-Ogoh Tidak Lagi Sekadar Dibakar, Tapi Mengingatkan Luka yang Belum Selesai

Maret 22, 2026
in Deep
A A
Sedap Malam: Ketika Ogoh-Ogoh Tidak Lagi Sekadar Dibakar, Tapi Mengingatkan Luka yang Belum Selesai

Ogoh-Ogoh Sedap Malam Karya maestro Gus Man Surya Banjar Kelodan, Tampaksiring, Gianyar. (Dok. ST. Sentana Luhur)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id : Deep – Malam itu seharusnya menjadi momen pengusiran energi negatif. Bhuta Kala diarak, lalu masyarakat membakarnya agar dunia kembali seimbang.

Namun di Tampaksiring, satu ogoh-ogoh justru menghadirkan rasa yang berbeda.

Namanya Sedap Malam.

Ia tidak berhenti sebagai karya seni. Ia juga tidak sekadar patung raksasa.

Sebaliknya, ia memaksa ingatan yang lama terkubur untuk muncul kembali.

Wajah yang Tidak Asing, Tapi Kita Pilih Lupakan

Di bawah cahaya malam Pangerupukan, Sedap Malam tampil dengan detail yang hampir terlalu nyata.

Sorot matanya menusuk. Ekspresinya tidak hanya menyeramkan, tetapi juga terasa hidup.

Gus Man merancang karya ini dengan taksu yang kuat. Namun kali ini, auranya melampaui sekadar nuansa mistis.

Ada beban yang terasa lebih dalam.

Sebab, Sedap Malam tidak lahir dari imajinasi.

Ia muncul dari sebuah tragedi nyata.

Ketika Ogoh-Ogoh Mengangkat Luka Nyata

Karya ini berangkat dari kisah Engeline.

Seorang anak yang seharusnya tumbuh, tetapi justru kehilangan hidupnya di tempat yang disebut rumah.

Pada 2015, publik sempat mencari keberadaannya setelah laporan kehilangan muncul di Sanur. Namun kemudian, fakta yang terungkap jauh lebih gelap.

Seseorang menemukan tubuhnya terkubur di halaman rumah ibu angkatnya sendiri.

Rumah yang seharusnya melindungi, justru mengakhiri hidupnya.

Sejak saat itu, satu pertanyaan terus menghantui.

Bagaimana kekerasan bisa terjadi begitu dekat, namun luput dari perhatian?

Tabu yang Kita Diamkan Terlalu Lama

Selama ini, banyak orang memandang kejahatan sebagai sesuatu yang jauh.

Mereka membayangkan ancaman datang dari luar.

Namun kasus Engeline mematahkan anggapan itu.

RelatedPosts

Legian: Jalan yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

Kiamat Tidak Menunggu Zona Waktu

Ia menunjukkan bahwa kekerasan bisa muncul dari ruang paling dekat.

Dari keluarga.

Dari hubungan yang terlihat baik-baik saja.

Bahkan dari diam yang terus dibiarkan.

Dalam perspektif Tabooology, masyarakat tidak perlu menutup hal-hal seperti ini. Sebaliknya, mereka perlu membongkarnya untuk memahami kebenaran yang selama ini tersembunyi.

Dan Sedap Malam menghadirkan itu secara langsung.

Tanpa penjelasan panjang.

Tanpa narasi bertele-tele.

Hanya melalui visual yang sulit diabaikan.

Antara Ritual dan Realitas

Secara tradisi, masyarakat mengarak ogoh-ogoh untuk menetralisir energi negatif.

Mereka membawa Bhuta Kala keluar, lalu menghancurkannya.

Namun Sedap Malam justru mengajukan pertanyaan yang berbeda.

Apakah energi negatif benar-benar berada di luar sana?

Atau justru tumbuh di dalam diri manusia sendiri?

Karena ketika kekerasan terjadi di dalam rumah, masalahnya tidak lagi sesederhana “energi jahat”.

Masalahnya muncul dari pilihan manusia.

Pilihan untuk diam.

Atau pilihan untuk tidak peduli.

Seni yang Tidak Lagi Netral

Saat ogoh-ogoh ini melintas di Catus Pata Tampaksiring, banyak orang mungkin hanya melihat visual yang menyeramkan.

Memang, detailnya kuat. Tata cahayanya membuatnya tampak hidup.

Namun di balik itu, ada lapisan makna yang lebih dalam.

Sedap Malam tidak sekadar hadir untuk ditonton.

Ia hadir untuk diingat.

Ia juga hadir untuk mengganggu kenyamanan.

Dan justru dari rasa tidak nyaman itu, kesadaran mulai muncul.

Malam Pangerupukan akan berakhir.

Ogoh-ogoh akan terbakar.

Keramaian perlahan hilang.

Namun pertanyaannya tetap tinggal.

Jika kita terus menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang jauh,
berapa banyak Engeline lain yang harus jadi korban sebelum kita benar-benar melihat?

Dan jika kita masih memilih diam,
apakah yang sebenarnya kita bersihkan itu Bhuta Kala, atau justru rasa bersalah kita sendiri? @jeje

Tags: balidenpasarkasus angelinesedap malamST Sentana Luhurtapaksiring

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Legian: Jalan yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sedap Malam: Ketika Ogoh-Ogoh Tidak Lagi Sekadar Dibakar, Tapi Mengingatkan Luka yang Belum Selesai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiamat Tidak Menunggu Zona Waktu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pantai yang Kita Banggakan, atau yang Kita Abaikan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.