Tabooo.id : Deep – Malam itu seharusnya menjadi momen pengusiran energi negatif. Bhuta Kala diarak, lalu masyarakat membakarnya agar dunia kembali seimbang.
Namun di Tampaksiring, satu ogoh-ogoh justru menghadirkan rasa yang berbeda.
Namanya Sedap Malam.
Ia tidak berhenti sebagai karya seni. Ia juga tidak sekadar patung raksasa.
Sebaliknya, ia memaksa ingatan yang lama terkubur untuk muncul kembali.
Wajah yang Tidak Asing, Tapi Kita Pilih Lupakan
Di bawah cahaya malam Pangerupukan, Sedap Malam tampil dengan detail yang hampir terlalu nyata.
Sorot matanya menusuk. Ekspresinya tidak hanya menyeramkan, tetapi juga terasa hidup.
Gus Man merancang karya ini dengan taksu yang kuat. Namun kali ini, auranya melampaui sekadar nuansa mistis.
Ada beban yang terasa lebih dalam.
Sebab, Sedap Malam tidak lahir dari imajinasi.
Ia muncul dari sebuah tragedi nyata.
Ketika Ogoh-Ogoh Mengangkat Luka Nyata
Karya ini berangkat dari kisah Engeline.
Seorang anak yang seharusnya tumbuh, tetapi justru kehilangan hidupnya di tempat yang disebut rumah.
Pada 2015, publik sempat mencari keberadaannya setelah laporan kehilangan muncul di Sanur. Namun kemudian, fakta yang terungkap jauh lebih gelap.
Seseorang menemukan tubuhnya terkubur di halaman rumah ibu angkatnya sendiri.
Rumah yang seharusnya melindungi, justru mengakhiri hidupnya.
Sejak saat itu, satu pertanyaan terus menghantui.
Bagaimana kekerasan bisa terjadi begitu dekat, namun luput dari perhatian?
Tabu yang Kita Diamkan Terlalu Lama
Selama ini, banyak orang memandang kejahatan sebagai sesuatu yang jauh.
Mereka membayangkan ancaman datang dari luar.
Namun kasus Engeline mematahkan anggapan itu.
Ia menunjukkan bahwa kekerasan bisa muncul dari ruang paling dekat.
Dari keluarga.
Dari hubungan yang terlihat baik-baik saja.
Bahkan dari diam yang terus dibiarkan.
Dalam perspektif Tabooology, masyarakat tidak perlu menutup hal-hal seperti ini. Sebaliknya, mereka perlu membongkarnya untuk memahami kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Dan Sedap Malam menghadirkan itu secara langsung.
Tanpa penjelasan panjang.
Tanpa narasi bertele-tele.
Hanya melalui visual yang sulit diabaikan.
Antara Ritual dan Realitas
Secara tradisi, masyarakat mengarak ogoh-ogoh untuk menetralisir energi negatif.
Mereka membawa Bhuta Kala keluar, lalu menghancurkannya.
Namun Sedap Malam justru mengajukan pertanyaan yang berbeda.
Apakah energi negatif benar-benar berada di luar sana?
Atau justru tumbuh di dalam diri manusia sendiri?
Karena ketika kekerasan terjadi di dalam rumah, masalahnya tidak lagi sesederhana “energi jahat”.
Masalahnya muncul dari pilihan manusia.
Pilihan untuk diam.
Atau pilihan untuk tidak peduli.
Seni yang Tidak Lagi Netral
Saat ogoh-ogoh ini melintas di Catus Pata Tampaksiring, banyak orang mungkin hanya melihat visual yang menyeramkan.
Memang, detailnya kuat. Tata cahayanya membuatnya tampak hidup.
Namun di balik itu, ada lapisan makna yang lebih dalam.
Sedap Malam tidak sekadar hadir untuk ditonton.
Ia hadir untuk diingat.
Ia juga hadir untuk mengganggu kenyamanan.
Dan justru dari rasa tidak nyaman itu, kesadaran mulai muncul.
Malam Pangerupukan akan berakhir.
Ogoh-ogoh akan terbakar.
Keramaian perlahan hilang.
Namun pertanyaannya tetap tinggal.
Jika kita terus menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang jauh,
berapa banyak Engeline lain yang harus jadi korban sebelum kita benar-benar melihat?
Dan jika kita masih memilih diam,
apakah yang sebenarnya kita bersihkan itu Bhuta Kala, atau justru rasa bersalah kita sendiri? @jeje



