Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sedap Malam: Ketika Ogoh-Ogoh Tidak Lagi Sekadar Dibakar, Tapi Mengingatkan Luka yang Belum Selesai

by jeje
Maret 22, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id : Deep – Malam itu seharusnya menjadi momen pengusiran energi negatif. Bhuta Kala diarak, lalu masyarakat membakarnya agar dunia kembali seimbang.

Namun di Tampaksiring, satu ogoh-ogoh justru menghadirkan rasa yang berbeda.

Namanya Sedap Malam.

Ia tidak berhenti sebagai karya seni. Ia juga tidak sekadar patung raksasa.

Sebaliknya, ia memaksa ingatan yang lama terkubur untuk muncul kembali.

Ini Belum Selesai

TABOOO Cultural Production: Dari Budaya Menjadi Karya

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

Wajah yang Tidak Asing, Tapi Kita Pilih Lupakan

Di bawah cahaya malam Pangerupukan, Sedap Malam tampil dengan detail yang hampir terlalu nyata.

Sorot matanya menusuk. Ekspresinya tidak hanya menyeramkan, tetapi juga terasa hidup.

Gus Man merancang karya ini dengan taksu yang kuat. Namun kali ini, auranya melampaui sekadar nuansa mistis.

Ada beban yang terasa lebih dalam.

Sebab, Sedap Malam tidak lahir dari imajinasi.

Ia muncul dari sebuah tragedi nyata.

Ketika Ogoh-Ogoh Mengangkat Luka Nyata

Karya ini berangkat dari kisah Engeline.

Seorang anak yang seharusnya tumbuh, tetapi justru kehilangan hidupnya di tempat yang disebut rumah.

Pada 2015, publik sempat mencari keberadaannya setelah laporan kehilangan muncul di Sanur. Namun kemudian, fakta yang terungkap jauh lebih gelap.

Seseorang menemukan tubuhnya terkubur di halaman rumah ibu angkatnya sendiri.

Rumah yang seharusnya melindungi, justru mengakhiri hidupnya.

Sejak saat itu, satu pertanyaan terus menghantui.

Bagaimana kekerasan bisa terjadi begitu dekat, namun luput dari perhatian?

Tabu yang Kita Diamkan Terlalu Lama

Selama ini, banyak orang memandang kejahatan sebagai sesuatu yang jauh.

Mereka membayangkan ancaman datang dari luar.

Namun kasus Engeline mematahkan anggapan itu.

Ia menunjukkan bahwa kekerasan bisa muncul dari ruang paling dekat.

Dari keluarga.

Dari hubungan yang terlihat baik-baik saja.

Bahkan dari diam yang terus dibiarkan.

Dalam perspektif Tabooology, masyarakat tidak perlu menutup hal-hal seperti ini. Sebaliknya, mereka perlu membongkarnya untuk memahami kebenaran yang selama ini tersembunyi.

Dan Sedap Malam menghadirkan itu secara langsung.

Tanpa penjelasan panjang.

Tanpa narasi bertele-tele.

Hanya melalui visual yang sulit diabaikan.

Antara Ritual dan Realitas

Secara tradisi, masyarakat mengarak ogoh-ogoh untuk menetralisir energi negatif.

Mereka membawa Bhuta Kala keluar, lalu menghancurkannya.

Namun Sedap Malam justru mengajukan pertanyaan yang berbeda.

Apakah energi negatif benar-benar berada di luar sana?

Atau justru tumbuh di dalam diri manusia sendiri?

Karena ketika kekerasan terjadi di dalam rumah, masalahnya tidak lagi sesederhana “energi jahat”.

Masalahnya muncul dari pilihan manusia.

Pilihan untuk diam.

Atau pilihan untuk tidak peduli.

Seni yang Tidak Lagi Netral

Saat ogoh-ogoh ini melintas di Catus Pata Tampaksiring, banyak orang mungkin hanya melihat visual yang menyeramkan.

Memang, detailnya kuat. Tata cahayanya membuatnya tampak hidup.

Namun di balik itu, ada lapisan makna yang lebih dalam.

Sedap Malam tidak sekadar hadir untuk ditonton.

Ia hadir untuk diingat.

Ia juga hadir untuk mengganggu kenyamanan.

Dan justru dari rasa tidak nyaman itu, kesadaran mulai muncul.

Malam Pangerupukan akan berakhir.

Ogoh-ogoh akan terbakar.

Keramaian perlahan hilang.

Namun pertanyaannya tetap tinggal.

Jika kita terus menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang jauh,
berapa banyak Engeline lain yang harus jadi korban sebelum kita benar-benar melihat?

Dan jika kita masih memilih diam,
apakah yang sebenarnya kita bersihkan itu Bhuta Kala, atau justru rasa bersalah kita sendiri? @jeje

Tags: balidenpasar

Kamu Melewatkan Ini

NIK Bocor, OTP Jebol: Salah Hacker atau Negara Terlambat?

NIK Bocor, OTP Jebol: Salah Hacker atau Negara Terlambat?

by teguh
Mei 17, 2026

Pernah tiba-tiba dapat OTP padahal kamu tidak login apa-apa? Atau mendadak muncul SMS pinjaman yang tidak pernah kamu ajukan? Kalau...

NIK Kamu Sudah Dijual, Negara Baru Sibuk di Hilir

NIK Kamu Sudah Dijual, Negara Baru Sibuk di Hilir

by teguh
Mei 16, 2026

Bayangkan NIK Kamu sudah dijual seseorang? mereka memakai identitasmu untuk membuka akses digital, membeli nomor telepon, lalu melewati sistem keamanan...

Bali Tidak Kotor, Kita yang Menunda Masalah Sampai Jadi Gunung

Gunung Sampah di Bali: Surga Wisata yang Diam-Diam Tenggelam oleh Limbah?

by dimas
Mei 5, 2026

Sampah Bali kini tak lagi sekadar persoalan kebersihan kota, melainkan sinyal krisis pengelolaan destinasi wisata. Lonjakan volume limbah dari rumah...

Next Post
Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id