Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ogoh-Ogoh: Saat Manusia Mengarak Ketakutannya Sendiri di Tengah Jalan

by jeje
Maret 19, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Asap dupa naik, api bergetar, dan malam langsung terasa tegang. Di tengah jalan, ogoh-ogoh berdiri tinggi, bukan sekadar patung, tapi sesuatu yang terasa hidup. Orang-orang mengelilinginya, berteriak, tertawa, dan mengabadikan momen itu.

Tapi malam itu bukan cuma soal perayaan.
Malam itu tentang sesuatu yang lebih jujur: manusia sedang memperlihatkan sisi gelapnya sendiri.

Ritual yang Berubah Arah

Secara tradisi, masyarakat Bali membuat ogoh-ogoh untuk merepresentasikan Bhuta Kala, energi negatif yang harus dilepaskan. Mereka lalu mengaraknya keliling desa, kemudian membakarnya sebagai simbol penyucian.

Namun sekarang, maknanya mulai bergeser.

Ogoh-ogoh tidak lagi sekadar simbol spiritual. Ia berubah jadi panggung. Komunitas berlomba membuat bentuk paling besar, paling detail, paling mencolok. Kamera menyala di mana-mana. Sorak-sorai menggantikan keheningan.

Ini Belum Selesai

Reformasi 1998: Luka yang Masih Menunggu Keadilan

Kebangkitan Aktivis Perempuan: Apa Artinya Bagi Demokrasi Indonesia?

Akibatnya, ritual perlahan berubah jadi pertunjukan.

Dari Mengusir, Menjadi Menikmati

Dulu, masyarakat mengarak ogoh-ogoh untuk menyingkirkan energi buruk.
Sekarang, banyak orang justru menikmatinya.

Ironisnya, kita tidak lagi terburu-buru membakar kegelapan. Kita malah memotretnya, merekamnya, lalu menyebarkannya.

Fenomena ini terasa familiar, kan?

Kemarahan jadi konten.
Kesedihan jadi estetika.
Kekacauan jadi tontonan.

Kita tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Kita hanya mengemasnya supaya terlihat menarik.

Di Balik Keramaian, Ada Manusia

Meski begitu, kita tidak bisa mengabaikan satu hal: ogoh-ogoh tetap lahir dari kerja keras manusia.

Anak-anak muda begadang berbulan-bulan. Komunitas banjar bergotong royong. Seniman lokal menuangkan imajinasi mereka tanpa batas.

Di titik ini, ogoh-ogoh bukan cuma simbol gelap. Ia juga jadi simbol kreativitas dan identitas.

Namun pertanyaannya tetap menggantung:
apakah kita masih memahami maknanya, atau hanya menikmati prosesnya?

Kita Adalah Ogoh-Ogoh Itu

Kalau kita jujur, ogoh-ogoh sebenarnya bukan tentang makhluk mitologi.

Ia tentang kita.

Tentang ego yang sulit dikendalikan, amarah yang terus dipelihara dan ketakutan yang tidak pernah benar-benar kita hadapi.

Kita membentuknya, mengaraknya, dan kita rayakan.

Lalu, kita berharap api bisa menyelesaikan semuanya.

Padahal, yang terbakar hanya bentuknya, bukan sifatnya.

Antara Budaya dan Tontonan

Hari ini, ogoh-ogoh berdiri di dua dunia sekaligus.

Di satu sisi, ia tetap menjadi bagian dari ritual sakral.
Namun di sisi lain, ia masuk ke ruang publik digital, menjadi konten, menjadi hiburan, bahkan menjadi identitas visual Bali di mata dunia.

Masalahnya bukan pada perubahan. Budaya memang selalu bergerak.

Tapi yang perlu kita tanyakan:
apakah makna masih ikut bergerak, atau justru tertinggal?

Lalu, Apa yang Sebenarnya Kita Bakar?

Setiap tahun, api melahap ogoh-ogoh sampai jadi abu. Orang-orang bersorak. Ritual selesai.

Namun setelah itu, hidup kembali berjalan seperti biasa.

Amarah tetap ada.
Ego tetap tumbuh.
Ketakutan tetap tinggal.

Jadi, apa yang sebenarnya kita bakar?

Ogoh-ogoh mungkin hilang dalam semalam.
Tapi sisi gelap manusia tidak pernah benar-benar pergi.

Dan mungkin, di situlah letak kejujurannya.

Karena yang paling tabu bukanlah monster yang kita arak di jalan,
melainkan yang kita simpan diam-diam di dalam diri sendiri. @jeje

Tags: balibanjar legian kuloddenpasarLegianNyepi

Kamu Melewatkan Ini

Bali Tidak Kotor, Kita yang Menunda Masalah Sampai Jadi Gunung

Gunung Sampah di Bali: Surga Wisata yang Diam-Diam Tenggelam oleh Limbah?

by dimas
Mei 5, 2026

Sampah Bali kini tak lagi sekadar persoalan kebersihan kota, melainkan sinyal krisis pengelolaan destinasi wisata. Lonjakan volume limbah dari rumah...

Bali Macet Parah, Taksi Air Jadi Harapan Baru atau Sekadar Wacana Mahal?

Bali Macet Parah, Taksi Air Jadi Harapan Baru atau Sekadar Wacana Mahal?

by dimas
April 20, 2026

Di tengah wacana pembangunan taksi air sebagai solusi mengurai kemacetan di Bali yang kian parah, satu pertanyaan besar muncul: jika...

AI Bisa Tambah PDB, Tapi Siapa yang Tertinggal?

AI Bisa Tambah PDB, Tapi Siapa yang Tertinggal?

by teguh
April 20, 2026

Sabtu, 18 April 2026, Bali menjadi panggung optimisme digital. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyebut adopsi kecerdasan buatan atau...

Next Post
Nyepi: Kita Tidak Takut Sepi, Kita Takut Diri Sendiri

Nyepi: Kita Tidak Takut Sepi, Kita Takut Diri Sendiri

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id