Tabooo.id: Global – Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dikonfirmasi tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) dini hari waktu Teheran. Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Khamenei gugur di kantornya saat masih menjalankan tugas kenegaraan.
“Diumumkan kepada rakyat Iran bahwa Yang Mulia Ayatollah Agung Imam Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, telah gugur sebagai syahid dalam serangan gabungan yang dilancarkan oleh AS dan rezim Zionis pada pagi hari Sabtu, 28 Februari,” tulis Tasnim dalam pernyataan resminya.
Citra satelit yang beredar beberapa jam setelah serangan memperlihatkan kompleks kediaman dan kantor Khamenei hancur total. Ledakan menghantam jantung kekuasaan politik Iran. Selain Khamenei, media Iran menyebut anak, menantu, dan cucunya turut menjadi korban.
Serangan ini bukan sekadar operasi militer. Dunia kini menyaksikan momen paling genting dalam sejarah Republik Islam sejak Revolusi 1979.
Arsitek Pertahanan yang Membentuk Iran Modern
Kematian Khamenei menutup bab panjang kepemimpinan yang berlangsung sejak 1989. Ia menggantikan Ruhollah Khomeini setelah wafatnya tokoh Revolusi Islam tersebut. Jika Khomeini menjadi motor ideologis revolusi, Khamenei membangun fondasi pertahanan dan konsolidasi kekuasaan negara.
Pengalaman memimpin Iran sebagai presiden saat perang Iran–Irak pada 1980-an membentuk cara pandangnya terhadap Barat. Dukungan Amerika Serikat dan sekutunya kepada Saddam Hussein memperdalam rasa curiga Teheran terhadap Washington. Sejak itu, Khamenei mengarahkan Iran pada doktrin kemandirian militer dan politik.
Di bawah kendalinya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berkembang menjadi kekuatan dominan, bukan hanya dalam bidang keamanan, tetapi juga ekonomi dan politik. IRGC menguasai proyek infrastruktur besar, sektor energi, hingga jaringan bisnis strategis. Dengan kata lain, Khamenei tidak hanya memimpin negara ia membentuk ulang struktur kekuasaan di dalamnya.
Ia juga menggagas konsep “ekonomi perlawanan”, strategi untuk menghadapi sanksi internasional dengan memperkuat produksi domestik dan mengurangi ketergantungan pada Barat. Kebijakan ini menjaga rezim tetap bertahan, tetapi juga membebani rakyat dengan inflasi tinggi dan keterbatasan akses barang impor.
Dari Mashhad ke Puncak Kekuasaan
Khamenei lahir pada 1939 di Mashhad, kota suci di timur laut Iran. Ia tumbuh dalam keluarga ulama terpandang dan menempuh pendidikan agama di Najaf serta Qom. Di Qom, ia menjalin kedekatan dengan Khomeini dan terlibat aktif dalam gerakan melawan monarki Shah Pahlavi.
Polisi rahasia SAVAK berulang kali menangkapnya. Ia pernah diasingkan ke wilayah terpencil. Namun tekanan itu tidak mematahkan langkahnya. Pada 1978, ia kembali ke Teheran dan ikut memimpin gelombang protes yang menjatuhkan dinasti Pahlavi setahun kemudian.
Sejak revolusi itu, karier politiknya menanjak cepat. Ia menjabat presiden sebelum akhirnya dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi posisi dengan kewenangan tertinggi atas militer, peradilan, media negara, dan kebijakan luar negeri.
Pragmatis di Balik Retorika Keras
Meski sering tampil dengan retorika keras terhadap Amerika Serikat dan Israel, Khamenei dikenal pragmatis dalam momen krisis. Pada 2015, ketika sanksi ekonomi menghantam keras perekonomian Iran, ia memberi lampu hijau kepada Presiden Hassan Rouhani untuk bernegosiasi dengan kekuatan dunia.
Hasilnya adalah kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang menukar pembatasan program nuklir Iran dengan pencabutan sanksi. Langkah itu menunjukkan bahwa Khamenei mampu berkompromi ketika stabilitas domestik dipertaruhkan.
Namun dinamika geopolitik berubah. Penarikan Amerika Serikat dari JCPOA beberapa tahun kemudian kembali memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran. Inflasi melonjak, nilai mata uang merosot, dan kelas menengah tergerus.
Siapa yang Paling Terdampak?
Kematian Khamenei langsung mengguncang pasar regional. Harga minyak melonjak tajam dalam hitungan jam. Ketegangan militer di Teluk Persia meningkat. Risiko konflik terbuka antara Iran dan Israel kini semakin nyata.
Di dalam negeri, rakyat Iran menjadi pihak yang paling terdampak. Ketidakpastian politik dapat memicu perebutan kekuasaan di lingkar elite, sementara masyarakat sipil menghadapi ancaman instabilitas ekonomi dan potensi represi keamanan yang lebih keras.
Di kawasan, negara-negara Timur Tengah bersiap menghadapi eskalasi. Jalur perdagangan energi global terancam. Negara-negara dengan ketergantungan tinggi pada impor minyak termasuk banyak negara berkembang harus bersiap menghadapi lonjakan harga dan tekanan inflasi baru.
Babak Baru Timur Tengah
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Washington maupun Tel Aviv terkait detail operasi tersebut. Namun satu hal jelas kematian seorang Pemimpin Tertinggi bukan sekadar pergantian figur. Ia membuka ruang ketidakpastian strategis yang bisa mengubah peta kekuatan kawasan.
Iran memasuki masa berkabung nasional. Dunia memasuki fase menunggu menunggu respons militer, menunggu transisi kekuasaan, menunggu apakah diplomasi masih punya ruang.
Dan di tengah ketegangan itu, rakyat biasa kembali menjadi penonton sekaligus korban dari pertarungan geopolitik para raksasa. Karena dalam sejarah Timur Tengah, setiap ledakan besar di pucuk kekuasaan hampir selalu bergetar paling keras di dapur-dapur rakyat kecil. @dimas




