Tabooo.id: Regional – Tragedi mengguncang Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. STN (14), siswa kelas 8 SMP, tewas setelah kakak kelasnya, FRG, diduga menyerangnya dengan parang. Polisi kini menahan tersangka dan mendalami motif pembunuhan tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko, menyampaikan duka mendalam. Ia menilai dunia pendidikan kehilangan sosok muda berbakat.
“Kami sangat prihatin. Dari sisi pendidikan, kami merasa kehilangan,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Berawal dari Gitar, Berakhir Tragis
Pada Jumat (20/2/2026), STN pergi ke rumah kerabatnya untuk mengambil gitar. Namun hingga sore hari, ia tak kembali. Keluarga lalu mencari ke sejumlah lokasi, tetapi tidak menemukan jejaknya.
Dua hari kemudian, keluarga melapor ke Polsek Kewapante. Mereka menyisir kawasan Sungai Watuwogat. Saat pencarian berlangsung, keluarga mencium bau menyengat dari semak-semak. Seorang saksi, EM (46), menemukan jasad STN di atas tumpukan rumput dan bambu. Warga segera menghubungi aparat.
Perselisihan Memicu Kekerasan
Kasat Reskrim Polres Sikka, Iptu Reinhard Dionisius Siga, menjelaskan bahwa penyidik menemukan indikasi kuat pembunuhan. Menurutnya, perselisihan antara korban dan tersangka memicu amarah.
Korban diduga menolak tindakan tidak pantas yang dilakukan tersangka dan mengancam akan melaporkannya. Situasi memanas ketika tersangka merebut ponsel korban. Keduanya terlibat kontak fisik.
Dalam kondisi emosi, FRG mengambil parang dan menyerang korban berkali-kali. “Tersangka melukai leher dan kepala korban hingga korban meninggal dunia,” tegas Reinhard.
Setelah itu, tersangka menyeret jasad korban ke belakang rumah dan menutupinya dengan daun talas serta bambu. Ia lalu melarikan diri ke Kabupaten Ende. Polisi memburunya dan berhasil menangkapnya.
Dinas Pendidikan Dorong Penegakan Hukum Tegas
Dinas Pendidikan Kabupaten Sikka meminta aparat memproses kasus ini secara profesional dan cepat. Patrisius menegaskan pentingnya keadilan bagi keluarga korban. Ia juga mendorong sekolah memperkuat pengawasan dan pendidikan karakter agar kekerasan tidak tumbuh di lingkungan belajar.
Menurutnya, tragedi ini harus menjadi peringatan serius. Sekolah tidak boleh hanya fokus pada akademik, tetapi juga pada pembinaan moral dan pengendalian emosi remaja.
Dampak bagi Keluarga dan Lingkungan Sekolah
Keluarga korban menanggung luka terdalam. Namun sekolah dan teman-teman korban juga merasakan guncangan psikologis. Rasa aman di lingkungan pendidikan ikut terkikis.
Kasus ini menunjukkan betapa cepat konflik remaja berubah menjadi tragedi. Ketika pengawasan longgar dan emosi tak terkendali, satu nyawa melayang dan banyak mimpi terhenti.
Di ruang kelas seharusnya lahir harapan. Namun kali ini, ruang itu menyisakan duka dan masyarakat menunggu hukum berbicara tegas. @dimas





