Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketika Keterbatasan Tak Menghalangi Cahaya Alquran

by eko
Februari 23, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Suara itu meluncur pelan, jernih, seperti air yang menetes dari sela batu. Di sudut musala Sekolah Luar Biasa Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis), dua anak muda duduk bersila. Jari-jemari mereka bergerak cekatan di atas titik-titik timbul. Bukan layar ponsel yang mereka sentuh, melainkan lembaran Alquran braille.

Sementara Yogyakarta bersolek menyambut Ramadan dengan lampu warna-warni dan promo sirup di etalase minimarket, di ruangan sederhana itu suasana terasa lebih hening. Egi Jordi (22), asal Muara Enim, Sumatera Selatan, membaca ayat dengan pelafalan mantap. “Kalau Ramadan enggak pernah mudik karena jauh,” katanya pelan, Sabtu (23/2/2026). Sudah tiga tahun ia menempuh pendidikan di kota ini. Artinya, selama tiga kali Ramadan pula ia menahan rindu pada keluarga.

Meski demikian, nada suaranya tak menyiratkan keluhan. Justru sebaliknya, ada keteguhan yang terdengar.

Titik-Titik yang Menjadi Cahaya

Secara nasional, akses pendidikan bagi penyandang disabilitas netra masih menghadapi banyak tantangan. Fasilitas braille belum tersedia merata. Selain itu, jumlah tenaga pengajar terlatih juga terbatas. Dalam konteks itulah Yaketunis hadir sebagai ruang yang bukan hanya mendidik, tetapi juga menguatkan.

Alquran braille memiliki bentuk fisik jauh lebih besar dibandingkan Alquran biasa. Setiap juz dicetak terpisah sehingga lebih tebal dan berat. Bahkan, jika seluruh 30 juz dikumpulkan, ukurannya bisa memenuhi satu dus mie instan. Namun bagi Egi, bobot itu tak pernah menjadi beban. Sebaliknya, setiap jilid justru terasa seperti pintu yang membuka pemahaman baru.

Ini Belum Selesai

Persaudaraan sebagai Modal Sosial di Tengah Masyarakat Modern

Piagam Ada, Kursi Hilang: Siapa yang Kalah di Jalur Prestasi SMP Mojokerto?

Awalnya, ia sempat terlambat masuk sekolah luar biasa. Akan tetapi, keterlambatan itu tidak membuatnya mundur. Ia mengejar pelajaran, mempelajari huruf braille dari dasar, lalu berlatih menyimak dengan disiplin. Seiring waktu, kemampuannya berkembang pesat. Hingga akhirnya, tongkat estafet pengajaran berpindah ke tangannya.

Dulu, alumni yang memimpin kelas mengaji. Kini, kepercayaan itu jatuh kepada Egi dan beberapa temannya.

Mengajar Tanpa Melihat, Memimpin dengan Keyakinan

Mengajar Alquran braille menuntut konsentrasi berlapis. Egi menggunakan dua pendekatan: menulis dan menyimak. Dalam satu waktu, ia bisa menghadapi belasan siswa dengan tingkat iqro berbeda. Ada yang baru mengenal huruf, ada pula yang sudah memasuki jilid lebih tinggi.

Pada awalnya, situasi itu membuatnya kewalahan. Tanpa guru pendamping, ia harus menyiapkan berbagai jilid sekaligus sambil memastikan setiap siswa tetap fokus. Jika satu anak maju ke iqro 3, maka ia harus segera menyesuaikan materi. Sementara itu, siswa lain mungkin masih berada di tahap awal.

Namun perlahan, ia belajar mengatur ritme. Ia membagi perhatian dengan cermat. Ia mengandalkan pendengaran untuk menangkap kesalahan bacaan. Bahkan lebih dari itu, ia memimpin kelas dengan ketenangan yang jarang dimiliki orang seusianya.

Di sinilah letak paradoksnya. Masyarakat kerap memosisikan tunanetra sebagai pihak yang perlu dibimbing terus-menerus. Akan tetapi, di ruang kecil tersebut, Egi justru menjadi pembimbing.

Fajar Kustiyono hadir sebagai guru pendamping. Ia fokus membimbing siswa yang benar-benar awam, mulai dari iqro 1 hingga 6. Dengan sabar, ia memastikan fondasi huruf braille kuat sebelum siswa naik tingkat. Menurutnya, setiap anak memiliki tempo belajar berbeda. Oleh karena itu, pendekatan personal menjadi kunci.

Di tengah dunia yang serba cepat, mereka memilih proses yang perlahan namun pasti. Dan justru karena itu, maknanya terasa lebih dalam.

Ramadan Tanpa Mudik, Mimpi Tanpa Batas

Bagi sebagian orang, Ramadan identik dengan perjalanan pulang kampung, meja makan penuh hidangan, serta tawa keluarga. Namun bagi Egi, bulan suci berarti bertahan di perantauan. Jarak dan biaya membuatnya tetap di Yogyakarta. Meski demikian, ia tidak menjadikan kondisi itu alasan untuk berhenti berkembang.

Sebaliknya, ia mengisi hari-harinya dengan belajar dan mengajar. Di sela-sela aktivitas tersebut, ia menanam mimpi yang jauh lebih besar dari ruang musala tempatnya duduk.

Kini, ia dan Fajar yang duduk di kelas 12 tengah bersiap melanjutkan studi. Menariknya, keduanya mengincar kampus yang sama: Universitas Brawijaya di Malang. Egi ingin mendalami ilmu hukum atau politik. Ia ingin memahami sistem yang membentuk masyarakat. Sementara itu, Fajar membidik jurusan sosiologi agar dapat membaca dinamika sosial dengan perspektif kritis.

Pilihan mereka bukan kebetulan. Kota Malang bagi keduanya melambangkan kemungkinan sebuah ruang baru untuk membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan tidak membatasi cakrawala berpikir.

Kita yang Melihat, Mereka yang Memahami

Di era digital, standar keberhasilan sering kali diukur dari apa yang tampak. Feed media sosial menampilkan definisi bahagia versi visual: senyum, perjalanan, pencapaian. Namun kisah Egi dan Fajar menghadirkan perspektif berbeda. Mereka mungkin tidak melihat warna langit senja, tetapi mereka memahami makna kesabaran dengan sangat konkret.

Tentu saja, cerita ini bukan untuk meromantisasi disabilitas. Akses pendidikan yang belum merata tetap menjadi pekerjaan rumah besar. Fasilitas terbatas dan kebijakan yang belum inklusif masih menjadi realitas. Namun di balik itu semua, ada manusia-manusia yang menolak didefinisikan oleh kekurangan.

Egi tidak ingin dikasihani. Ia ingin berdebat di ruang kuliah tentang hukum dan keadilan. Fajar tidak sekadar ingin disebut sabar. Ia ingin menjadi sosiolog yang mampu menjelaskan ketimpangan sosial secara tajam dan empatik.

Akhirnya, Ramadan akan berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya. Takbir akan menggema. Orang-orang akan mudik dan kembali ke rutinitas. Akan tetapi, di musala kecil Yaketunis, dua anak muda tetap duduk bersila, meraba ayat demi ayat, menyusun masa depan mereka dengan keyakinan.

Maka, pertanyaannya sederhana namun menggelitik: di tengah dunia yang begitu visual, apakah kita sungguh-sungguh melihat? @eko

Tags: Life

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

by teguh
Juni 16, 2026

Lampu toko kelontong itu tetap menyala seperti biasa. Aktivitas warga berjalan normal. Namun di balik malam yang tampak tenang, seorang...

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

by teguh
Juni 15, 2026

Seorang ayah Langkahnya pelan ketika memasuki halaman rumah pemilik toko. Di sampingnya berdiri dua anak laki-laki yang terus menunduk. Tak...

Tubuhmu Sebenarnya Kuat atau Cuma Bertahan Karena Kafein?

Tubuhmu Sebenarnya Kuat atau Cuma Bertahan Karena Kafein?

by teguh
Mei 26, 2026

Ada orang yang tidak bisa memulai pagi tanpa kopi. Ada juga yang merasa hidupnya “mati gaya” kalau belum menyeruput Americano...

Next Post
DPR Siapkan RUU Perampasan Aset untuk Perkuat Pemulihan Kerugian Negara

DPR Siapkan RUU Perampasan Aset untuk Perkuat Pemulihan Kerugian Negara

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id