Tabooo.id: Budaya – Di bawah rimbunnya pepohonan Alas Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, suasana hening menyelimuti udara sejak pagi, Senin (20/10/2025). Di tempat yang diselimuti ketenangan itu, Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar Hajad Dalem Wilujengan Nagari Mahesa Lawung, sebuah upacara adat sakral yang telah diwariskan turun temurun sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Upacara tahunan yang dilaksanakan atas titah Sri Susuhunan Paku Buwono XIII ini menjadi momentum spiritual bagi kraton dan masyarakat Jawa untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, serta keseimbangan semesta. Dalam tradisi Jawa, Mahesa Lawung dimaknai sebagai laku batin untuk menundukkan sisi liar manusia dan memulihkan harmoni kehidupan di muka bumi.
“Makna dari tradisi ini adalah pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menjaga keseimbangan alam, melestarikan lingkungan, serta menghormati kehidupan hewan di hutan,” ujar Pengageng Parentah Kraton Surakarta, KGPH Adipati Dipokusumo, di sela prosesi.
Nama “Mahesa Lawung” berasal dari bahasa Jawa mahesa berarti kerbau, lawung berarti liar atau belum dijinakkan. Simbolisme ini merefleksikan niat suci untuk “memendam” kebodohan dan bahaya, serta menundukkan sisi liar manusia agar kembali selaras dengan alam semesta.
Puncak prosesi ditandai dengan penanaman sesaji berupa kepala kerbau di tengah hutan Krendowahono. Sesaji tersebut bukanlah bentuk persembahan berdarah, melainkan simbol doa dan pengorbanan. Dalam keyakinan masyarakat Jawa, kepala kerbau adalah lambang kekuatan alam yang dikembalikan kepada bumi sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada Sang Pencipta.
Bagi masyarakat Jawa, Mahesa Lawung bukan hanya ritual simbolik, tetapi juga doa yang ditanam bukan diucapkan. Ketika kepala kerbau ditanam di tanah, doa itu dipercaya menyatu dengan bumi, menjalar ke akar pepohonan, dan menumbuhkan keseimbangan bagi kehidupan.
Dalam upacara yang digelar di tengah hutan tersebut, hadir sejumlah tokoh penting dari lingkungan Kraton Surakarta, di antaranya Permaisuri Kraton Surakarta GKR Pakoe Boewono, GKR Alit selaku Pengageng Keputren Kraton, GRAy Koes Raspiyah, GRAy Koes Rahmaniyah, Sentono Dalem dan ratusan Abdi Dalem Kraton. Mereka mengenakan busana adat lengkap, membawa sesaji, dan melantunkan kidung Jawa yang menggema lembut di antara desir angin.
Suasana prosesi terasa sakral dan menenangkan. Di tengah doa yang mengalun pelan, hutan seolah ikut berpartisipasi. Daun daun bergoyang lirih, angin berembus lembut, seakan turut menyampaikan restu kepada manusia yang datang dengan niat tulus.
Menurut catatan sejarah Kraton Kasunanan, tradisi Mahesa Lawung sudah berlangsung sejak masa Sri Susuhunan Paku Buwono II pada abad ke 18. Kala itu, ritual ini dilaksanakan di hutan kerajaan sebagai wujud permohonan keselamatan raja dan rakyatnya. Seiring perjalanan waktu, makna upacara ini semakin meluas, menjadi simbol hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Kini, di tengah modernitas dan kehidupan yang serba cepat, Mahesa Lawung hadir sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kebesaran budaya Jawa bukan sekadar warisan sejarah, melainkan juga kesadaran ekologis dan spiritual yang terus relevan hingga hari ini.
“Seluruh jajaran kraton berkomitmen menjaga nilai nilai luhur yang terkandung dalam setiap tradisi. Mahesa Lawung bukan sekadar ritual adat, melainkan bentuk nyata dari rasa syukur dan doa untuk kelestarian bumi,” tambah Gusti Dipo.
Dengan dilaksanakannya Hajad Dalem Mahesa Lawung, Kraton Surakarta menegaskan bahwa pelestarian budaya juga berarti menjaga keberlanjutan alam. Doa yang dipanjatkan di bawah rindang pepohonan Krendowahono bukan hanya untuk keselamatan raja dan rakyat, tetapi juga untuk bumi yang menjadi rumah bersama.
Saat kepala kerbau ditanam, angin hutan mengalun seperti bisikan doa. Di sanalah, antara tanah dan langit, manusia kembali belajar satu hal penting yang sering terlupa: bahwa kehidupan tidak akan pernah seimbang tanpa rasa hormat terhadap alam. @yudi




