• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Kamis, Maret 26, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Talk

Helm Baja, Nyawa Anak, dan Pertanyaan untuk Aparat

Februari 21, 2026
in Talk
A A
Helm Baja, Nyawa Anak, dan Pertanyaan untuk Aparat

Ilustrasi tentang tragedi penganiayaan anak di Tual, Maluku, seorang remaja tewas akibat pukulan helm baja anggota Brimob. (Foto ilustrasi Tabooo.id/Dimas P)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernahkah kamu berpikir, aparat yang seharusnya melindungi justru menjadi ancaman? Di Tual, Maluku, tragedi ini nyata helm baja yang dipukul oleh anggota Brimob menewaskan AT, 14 tahun. Anak berprestasi dan hafiz Al-Quran itu tewas saat hendak menikmati hari biasa. Ironis, bukan?

Kehidupan yang Terhenti dalam Sekejap

Bayangkan pagi itu: AT dan kakaknya NKT keluar rumah untuk berjalan-jalan di kota. Mereka bukan konvoi liar, bukan pelaku kejahatan hanya anak-anak yang sedang libur sekolah. Pukulan mendadak di kepala AT menghentikan semuanya. Helm yang seharusnya melindungi justru menjadi alat kekerasan.

Ayah mereka, Rijik Tawakal, berlari dari rumah ke lokasi kejadian dan ke rumah sakit, berharap menemukan anaknya selamat. Yang ia temukan hanyalah wajah anaknya penuh darah dan kesedihan yang tak terperi. Dalam enam jam, AT pergi selamanya.

Keluarga menuntut keadilan, meminta pelaku dipecat tidak dengan hormat, dan dihukum seberat-beratnya. Semua itu wajar. Tidak ada alasan sah bagi aparat untuk menimbulkan kematian anak-anak.

Perspektif Lain: Aturan dan Proses Hukum

Tentu saja, ada yang bilang “Sabar dulu, hukum harus berjalan, jangan main hakim sendiri.” Benar. Bripda MS kini ditahan dan sedang diperiksa, menghadapi ancaman hukum maksimal 15 tahun sesuai UU Perlindungan Anak. Proses kode etik juga berjalan paralel.

Tapi, mari kita pikir sejenak: apakah masyarakat masih percaya pada aparat ketika alat negara bisa membunuh anak? AT bukan korban tunggal, YLBHI menyoroti pola sistemik, mulai dari Affan Kurniawan di Jakarta hingga kasus Gijik di Kalimantan Tengah. Bukankah ini menunjukkan struktur dan mekanisme pengawasan polisi masih bermasalah?

Kekerasan Aparat: Masalah Sistemik

Kalau kita hanya menganggap tragedi ini insiden tunggal, kita menipu diri sendiri. Polri bisa menahan pelaku, tapi jika reformasi struktural tidak dilakukan evaluasi peran Brimob, mekanisme pengawasan, dan pelatihan humanis korban berikutnya tinggal menunggu waktu.

Kritik ini bukan untuk menghina, tetapi untuk menyadarkan. Ketika aparat berkuasa tanpa batas, masyarakat menjadi rentan. Anak-anak, remaja, bahkan pengemudi ojek daring bisa kehilangan nyawa. Sistem harus melindungi, bukan menjadi ancaman.

Tabooo Mengajak Berpikir

Tragedi AT mengingatkan kita dua hal. Pertama, anak-anak berhak aman dari kekerasan. Kedua, institusi yang menjalankan kekuasaan harus transparan dan akuntabel. Tanpa kedua hal itu, hukum hanyalah teks kosong, dan aparat menjadi simbol ketakutan, bukan perlindungan.

RelatedPosts

Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

Sunyi dan Ramai Bertemu: Seberapa Siap Kita Hidup dalam Perbedaan?

Selain itu, kita harus menuntut proses hukum yang tegas sekaligus edukatif agar pelaku dihukum, sistem diperbaiki, dan masyarakat belajar bahwa hak hidup anak tidak bisa digadaikan.

Lalu, Kamu di Kubu Mana?

Apakah kamu berada di kubu yang menuntut reformasi polisi segera, atau di kubu yang bilang “biarkan proses hukum berjalan dulu”? Bisa juga berada di tengah, marah tapi berharap sistem tetap adil. Yang jelas, tragedi AT menuntut kita memilih sikap tidak ada jalan tengah untuk ketidakadilan.

Pertanyaannya sederhana: apakah kita membiarkan tragedi ini menjadi statistik, atau menjadikannya momentum untuk berubah? Helm baja itu mungkin sudah tidak memukul lagi, tetapi luka sistemik yang ia ungkap harus segera ditambal. @dimas

Tags: AnakAparatATBrimobHakhukumKeadilankekerasanMalukuPerlindunganPolriReformasiTegasTragediTualYLBHI
Next Post
Presiden Pulang dari AS Bawa “Diskon Tarif Impor”

Presiden Pulang dari AS Bawa “Diskon Tarif Impor”

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Pakoe Boewono XIV: Raja Gen Z yang Menyelamatkan Ingatan Kraton

    Bersua Sang Raja: No Jeans, No Kaos

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengamen Jalanan: Korban Sistem atau Pilihan yang Dipelihara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Di Balik Kelancaran Mudik Lebaran, Nyawa Petugas Jadi Taruhan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Langkah di Bali Butuh Lebih dari Sekadar Mata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Joget Rp6 Juta Sehari: Program Sosial atau Ladang Cuan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.