Tabooo.id: Talk – Pernahkah kamu berpikir, aparat yang seharusnya melindungi justru menjadi ancaman? Di Tual, Maluku, tragedi ini nyata helm baja yang dipukul oleh anggota Brimob menewaskan AT, 14 tahun. Anak berprestasi dan hafiz Al-Quran itu tewas saat hendak menikmati hari biasa. Ironis, bukan?
Kehidupan yang Terhenti dalam Sekejap
Bayangkan pagi itu: AT dan kakaknya NKT keluar rumah untuk berjalan-jalan di kota. Mereka bukan konvoi liar, bukan pelaku kejahatan hanya anak-anak yang sedang libur sekolah. Pukulan mendadak di kepala AT menghentikan semuanya. Helm yang seharusnya melindungi justru menjadi alat kekerasan.
Ayah mereka, Rijik Tawakal, berlari dari rumah ke lokasi kejadian dan ke rumah sakit, berharap menemukan anaknya selamat. Yang ia temukan hanyalah wajah anaknya penuh darah dan kesedihan yang tak terperi. Dalam enam jam, AT pergi selamanya.
Keluarga menuntut keadilan, meminta pelaku dipecat tidak dengan hormat, dan dihukum seberat-beratnya. Semua itu wajar. Tidak ada alasan sah bagi aparat untuk menimbulkan kematian anak-anak.
Perspektif Lain: Aturan dan Proses Hukum
Tentu saja, ada yang bilang “Sabar dulu, hukum harus berjalan, jangan main hakim sendiri.” Benar. Bripda MS kini ditahan dan sedang diperiksa, menghadapi ancaman hukum maksimal 15 tahun sesuai UU Perlindungan Anak. Proses kode etik juga berjalan paralel.
Tapi, mari kita pikir sejenak: apakah masyarakat masih percaya pada aparat ketika alat negara bisa membunuh anak? AT bukan korban tunggal, YLBHI menyoroti pola sistemik, mulai dari Affan Kurniawan di Jakarta hingga kasus Gijik di Kalimantan Tengah. Bukankah ini menunjukkan struktur dan mekanisme pengawasan polisi masih bermasalah?
Kekerasan Aparat: Masalah Sistemik
Kalau kita hanya menganggap tragedi ini insiden tunggal, kita menipu diri sendiri. Polri bisa menahan pelaku, tapi jika reformasi struktural tidak dilakukan evaluasi peran Brimob, mekanisme pengawasan, dan pelatihan humanis korban berikutnya tinggal menunggu waktu.
Kritik ini bukan untuk menghina, tetapi untuk menyadarkan. Ketika aparat berkuasa tanpa batas, masyarakat menjadi rentan. Anak-anak, remaja, bahkan pengemudi ojek daring bisa kehilangan nyawa. Sistem harus melindungi, bukan menjadi ancaman.
Tabooo Mengajak Berpikir
Tragedi AT mengingatkan kita dua hal. Pertama, anak-anak berhak aman dari kekerasan. Kedua, institusi yang menjalankan kekuasaan harus transparan dan akuntabel. Tanpa kedua hal itu, hukum hanyalah teks kosong, dan aparat menjadi simbol ketakutan, bukan perlindungan.
Selain itu, kita harus menuntut proses hukum yang tegas sekaligus edukatif agar pelaku dihukum, sistem diperbaiki, dan masyarakat belajar bahwa hak hidup anak tidak bisa digadaikan.
Lalu, Kamu di Kubu Mana?
Apakah kamu berada di kubu yang menuntut reformasi polisi segera, atau di kubu yang bilang “biarkan proses hukum berjalan dulu”? Bisa juga berada di tengah, marah tapi berharap sistem tetap adil. Yang jelas, tragedi AT menuntut kita memilih sikap tidak ada jalan tengah untuk ketidakadilan.
Pertanyaannya sederhana: apakah kita membiarkan tragedi ini menjadi statistik, atau menjadikannya momentum untuk berubah? Helm baja itu mungkin sudah tidak memukul lagi, tetapi luka sistemik yang ia ungkap harus segera ditambal. @dimas




