Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Prabowo dan Trump Sepakati Tarif Resiprokal, Arah Baru Ekonomi RI-AS

by dimas
Februari 20, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya mengunci satu kesepakatan yang akan memengaruhi arah perdagangan Indonesia ke depan. Keduanya menandatangani perjanjian tarif timbal balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Washington DC, pada Kamis (19/2/2026) waktu setempat. Pemerintah menyebutnya sebagai tonggak baru. Namun bagi jutaan pekerja, ini bukan sekadar simbol diplomasi ini soal nasib pekerjaan dan harga hidup.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan, kedua pemimpin sepakat mempercepat implementasi kerja sama tersebut. Mereka bahkan memerintahkan para menteri untuk membuka “era keemasan baru” hubungan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat.

Kalimatnya terdengar optimistis. Tetapi di balik jargon itu, ada angka konkret yang langsung menentukan daya saing produk Indonesia.

Tarif Turun, Tapi Negosiasi Panjang dan Mahal

Salah satu poin terpenting dalam kesepakatan ini adalah penurunan tarif impor Amerika Serikat terhadap produk Indonesia menjadi 19 persen. Sebelumnya, Washington menetapkan tarif hingga 32 persen. Artinya, Indonesia berhasil memangkas beban tarif hampir setengahnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, angka 19 persen ini termasuk yang paling rendah di kawasan ASEAN. Pemerintah menganggapnya sebagai kemenangan negosiasi.

Ini Belum Selesai

TABOOO Corner Hadir di Winongo, Buka Ruang Membaca Realitas

Spektra Carnival 2026: Saat Madiun Menyalakan Identitasnya

Namun kemenangan itu tidak datang tiba-tiba. Indonesia mengirim empat surat resmi, datang langsung ke Washington DC empat kali, menjalani tujuh putaran negosiasi, dan melakukan lebih dari sembilan pertemuan lanjutan, baik langsung maupun virtual. Pemerintah bernegosiasi intensif dengan Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR), Kementerian Perdagangan, hingga Kementerian Keuangan AS.

Diplomasi dagang modern memang tidak pernah murah. Ia memakan waktu, tenaga, dan konsesi.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Indonesia juga membuka akses pasar lebih luas bagi produk Amerika. Ini berarti persaingan di pasar domestik akan semakin ketat.

Nol Persen Tarif: Harapan Besar bagi Sawit, Tekstil, dan Elektronik

Di tengah kompromi itu, pemerintah membawa pulang satu kabar baik. Sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia mendapat tarif nol persen.

Produk tersebut mencakup komoditas strategis seperti minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik, semikonduktor, hingga komponen pesawat.

Sektor tekstil dan pakaian jadi juga mendapat perlakuan khusus melalui skema Tariff Rate Quota.

Airlangga menyebut, kebijakan ini langsung berdampak pada sekitar 4 juta pekerja. Jika menghitung anggota keluarga mereka, dampaknya bisa menyentuh 20 juta orang Indonesia.

Bagi buruh pabrik tekstil di Jawa Barat, pekerja sawit di Sumatera, hingga teknisi elektronik di Batam, kesepakatan ini bisa berarti satu hal sederhana: pekerjaan mereka tetap ada.

Atau bahkan bertambah.

Council Baru, Tapi Siapa yang Paling Diuntungkan?

Kesepakatan ini juga melahirkan lembaga baru bernama Council of Trade and Investment. Dewan ini akan menjadi forum utama untuk menyelesaikan sengketa dagang dan investasi.

Di atas kertas, ini terlihat seperti mekanisme pengaman.

Namun dalam praktik global, lembaga semacam ini sering menjadi arena tarik-menarik kepentingan. Negara yang lebih kuat biasanya memiliki daya tawar lebih besar.

Amerika Serikat bukan sekadar mitra dagang biasa. Ia adalah ekonomi terbesar dunia.

Indonesia harus pandai menjaga keseimbangan.

Surplus Besar, Tapi Ketergantungan Nyata

Sepanjang 2025, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar 41,05 miliar dollar AS. Ini adalah surplus ke-68 berturut-turut sejak Mei 2020.

Angka itu terlihat kuat. Tetapi ia juga menunjukkan satu fakta lain: Indonesia sangat bergantung pada ekspor.

Ketika akses ke pasar Amerika membaik, ekonomi Indonesia mendapat napas tambahan.

Namun ketika hubungan dagang terguncang, dampaknya bisa langsung terasa di pabrik, pelabuhan, dan dapur rumah tangga.

Diplomasi Tinggi, Dampak Sampai ke Meja Makan

Bagi investor, perjanjian ini berarti peluang.

Bagi pemerintah, ini berarti stabilitas.

Tetapi bagi masyarakat biasa, dampaknya jauh lebih sederhana.

Kesepakatan ini menentukan apakah pabrik tetap buka, apakah pekerja tetap digaji, dan apakah harga kebutuhan tetap terjangkau.

Di ruang konferensi Washington, kesepakatan ini terlihat seperti dokumen diplomatik.

Namun di Indonesia, hasilnya akan terasa di pasar, di pabrik, dan di meja makan.

Karena pada akhirnya, setiap perjanjian dagang global selalu berakhir pada satu pertanyaan paling lokal: siapa yang benar-benar diuntungkan? @dimas

Tags: BuruhdiplomasiEkonomi IndonesiaEksporGlobalHubunganIndustriInvestasiKebijakanNasionalPerdaganganprabowoTarif

Kamu Melewatkan Ini

Orang Kaya Menikmati Separuh Subsidi BBM, Siapa Sebenarnya Dibantu Negara?

Orang Kaya Menikmati Separuh Subsidi BBM, Siapa Sebenarnya Dibantu Negara?

by teguh
Juni 13, 2026

Bagi banyak orang, subsidi BBM terlihat sebagai bentuk kehadiran negara. Selama harga bahan bakar tetap terjangkau, masyarakat merasa pemerintah masih...

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

by teguh
Juni 13, 2026

Pemerintah selama bertahun-tahun mengandalkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, temuan terbaru Bank Dunia menunjukkan...

Investor Sudah Datang, Tapi Mesin Negara Masih Pemanasan?

Investor Sudah Datang, Tapi Mesin Negara Masih Pemanasan?

by teguh
Juni 12, 2026

"Rakyat tidak membutuhkan narasi kemenangan. Rakyat membutuhkan bukti bahwa negara bekerja." Pernyataan pengamat politik Rocky Gerung itu mungkin terdengar sederhana....

Next Post
Dirut Baru BPJS Kesehatan: Ujian Besar di Tengah Harapan 283 Juta Peserta

Dirut Baru BPJS Kesehatan: Ujian Besar di Tengah Harapan 283 Juta Peserta

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id