Tabooo.id: Regional – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Solo memilih cara yang tidak biasa menjelang perayaan Imlek 2026. Lembaga negara itu turun langsung ke ruang publik melalui kampanye bertajuk “Tukar Sampah dengan Kue Keranjang” di kawasan Pasar Gedhe, Solo. Program ini akan berlangsung di Bundaran Jam Pasar Gedhe pada Sabtu (14/2/2026) mulai pukul 19.00 WIB.
BNN tidak bergerak sendiri. Mereka menggandeng empat komunitas lokal, termasuk Pemuda Agama Khonghucu Indonesia Solo (PAKIN Solo). Kolaborasi ini sengaja menyasar pusat keramaian perayaan lampion, titik yang setiap tahun dipadati warga dan wisatawan.
Melalui program ini, masyarakat dapat menukarkan sampah yang mereka kumpulkan di area lampion dengan kue keranjang gratis. Penawaran ini berlaku selama persediaan masih tersedia.
BNN Kota Surakarta mengumumkan program tersebut melalui akun Instagram resminya. Mereka mengajak warga menikmati perayaan tanpa meninggalkan sampah.
“Ayo bersama jaga kebersihan dan keindahan area lampion. Setelah menikmati jajanan, silakan bawa sampahmu dan tukarkan dengan Kue Keranjang, GRATISSSS,” tulis BNN dalam unggahannya, pada Kamis (12/2/2026).
Sampah Jadi Pintu Masuk Edukasi, Bukan Sekadar Soal Kebersihan
Program ini tidak sekadar membagikan kue. Sebaliknya, BNN memanfaatkan momentum budaya untuk menyisipkan pesan sosial yang lebih luas, mulai dari kesadaran lingkungan hingga kampanye hidup sehat.
Panitia secara khusus mengatur mekanisme penukaran. Peserta hanya boleh menukarkan sampah yang mereka kumpulkan di area lampion Pasar Gedhe. Mereka tidak boleh membawa sampah dari rumah. Untuk mendukung kegiatan, panitia menyediakan kantong sampah di lokasi.
Aturan ini menunjukkan tujuan utama program tersebut. BNN ingin mendorong tanggung jawab langsung dari pengunjung, bukan sekadar memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain.
Dengan kata lain, pengunjung tidak hanya datang untuk merayakan Imlek. Mereka juga diajak terlibat menjaga ruang publik.
Strategi Halus BNN Menjangkau Generasi Muda
Di balik konsep sederhana itu, BNN sebenarnya menjalankan strategi komunikasi yang lebih besar. Mereka memanfaatkan kegiatan budaya untuk memperkuat kampanye nasional Bersinar (Bersih dari Narkoba).
Alih-alih menggunakan pendekatan formal yang sering terasa jauh dari masyarakat, BNN memilih pendekatan kultural yang lebih dekat dan mudah diterima, terutama oleh generasi muda.
Keramaian perayaan Imlek menjadi momentum strategis. Ribuan orang berkumpul di satu titik. Interaksi sosial terjadi secara alami. Pesan pun bisa masuk tanpa terasa seperti ceramah.
Kelompok yang paling terdampak dari pendekatan ini adalah generasi muda perkotaan kelompok yang sekaligus menjadi target utama pencegahan narkoba, tetapi juga paling sering sulit dijangkau melalui pendekatan formal.
Ekonomi Rakyat, Budaya, dan Kampanye Negara Bertemu di Satu Titik
Pasar Gedhe bukan hanya ruang budaya. Kawasan ini juga menjadi pusat ekonomi rakyat. Pedagang kaki lima, penjual makanan, dan pelaku usaha kecil bergantung pada keramaian perayaan seperti Imlek.
Karena itu, menjaga kebersihan kawasan bukan hanya soal estetika. Kebersihan menentukan kenyamanan pengunjung. Kenyamanan menentukan jumlah pembeli. Dan jumlah pembeli menentukan penghasilan pedagang kecil.
Dalam konteks ini, program tukar sampah membawa dampak nyata. Ia membantu menjaga ekosistem ekonomi informal tetap hidup.
Negara, budaya, dan ekonomi rakyat akhirnya bertemu dalam satu aktivitas sederhana memungut sampah.
Negara Hadir Lewat Cara yang Tidak Menggurui
Program ini menunjukkan perubahan cara lembaga negara mendekati masyarakat. BNN tidak lagi hanya muncul lewat razia, konferensi pers, atau penangkapan. Mereka mulai masuk lewat pendekatan sosial.
Pendekatan ini terasa lebih manusiawi. Lebih halus. Dan mungkin lebih efektif.
Namun, di balik kue keranjang gratis itu, ada pesan yang lebih serius negara sedang mencari cara baru untuk tetap relevan di tengah masyarakat.
Sebab, pada akhirnya, menjaga kota dari sampah mungkin lebih mudah daripada menjaga generasi muda dari godaan yang tidak terlihat. @dimas




