• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Bayang-Bayang Riza Chalid dan Pidana 18 Tahun untuk Sang Anak

Februari 14, 2026
in Deep
A A
Bayang-Bayang Riza Chalid dan Pidana 18 Tahun untuk Sang Anak

Pengusaha minyak Mohamad Riza Chalid disebut jaksa menggunakan pengaruhnya untuk menekan pejabat Pertamina dalam kasus dugaan korupsi penyewaan terminal BBM Merak. (Foto istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Ruang sidang itu terasa dingin, tetapi hawa yang menyelimuti ruangan jauh lebih berat dari sekadar pendingin udara. Seorang jaksa berdiri tegak, membuka berkas tebal, lalu mengucapkan satu kalimat yang segera mengubah suasana.

“Muhamad Kerry menggunakan pengaruh Mohamad Riza Chalid untuk menekan pejabat Pertamina.”

Nada suaranya datar, tetapi maknanya menghantam keras dan mengguncang ruang yang sebelumnya sunyi.

Di kursi terdakwa, Muhamad Kerry Adrianto Riza menatap lurus ke depan. Ia tidak banyak bergerak, seolah berusaha menjaga ketenangan yang rapuh. Sesekali, napasnya terlihat berat. Nama ayahnya terus bergema di ruang sidang, seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Publik telah lama mengenal Mohamad Riza Chalid sebagai figur kuat di bisnis minyak Indonesia. Reputasi itu tidak lahir dalam semalam, melainkan terbentuk melalui jaringan panjang, kedekatan, dan pengaruh yang melintasi banyak rezim.

Hari itu, jaksa menuntut Kerry 18 tahun penjara. Persidangan tersebut tidak sekadar mengadili tindakan pidana, melainkan membuka lapisan hubungan antara kekuasaan dan bisnis. Dari sana, publik mulai melihat bagaimana pengaruh bisa bekerja tanpa harus tampil di permukaan. Negara, dalam konteks ini, tampak seperti aktor yang tidak sepenuhnya bebas menentukan langkahnya sendiri.

Kepentingan yang Datang Sebelum Kebutuhan

Rencana penyewaan terminal bahan bakar minyak di Merak pada awalnya tampak seperti keputusan bisnis biasa. Dokumen disiapkan. Proposal diajukan. Pembahasan berlangsung melalui jalur resmi.

Namun, jaksa menghadirkan gambaran yang berbeda.

Pertamina ternyata tidak memiliki kebutuhan mendesak atas terminal tersebut. Distribusi berjalan stabil. Operasional tidak mengalami gangguan. Situasi juga tidak menunjukkan adanya krisis yang memerlukan tambahan fasilitas segera.

Meski kondisi normal, proyek tetap bergerak maju.

Menurut jaksa, Kerry memanfaatkan jalur tidak resmi melalui orang kepercayaan ayahnya, Irawan Prakoso. Ia mendekati Hanung Budya Yuktyanta, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, lalu mendorong percepatan kerja sama.

Tekanan itu tidak hadir dalam bentuk ancaman terbuka. Sebaliknya, pengaruh bekerja melalui pemahaman diam-diam. Di industri minyak, nama Mohamad Riza Chalid membawa arti khusus. Banyak pihak memahami bahwa nama tersebut sering membuka akses yang tertutup bagi orang lain.

Situasi itu membuat keputusan berubah arah, bahkan tanpa perintah langsung.

Kontrak yang Mendahului Kepemilikan

Keanehan berikutnya muncul pada waktu penandatanganan kerja sama.

Saat kontrak diteken, terminal BBM Merak belum berada di tangan Kerry. Kepemilikan aset masih tercatat atas nama PT Oil Tanking Merak. Walaupun demikian, perjanjian tetap berjalan tanpa penundaan.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Kerry mengajukan pinjaman bank untuk membeli terminal tersebut. Ia membutuhkan jaminan kuat agar kredit dapat disetujui.

Kontrak dengan Pertamina kemudian menjadi alat yang sangat menentukan.

Jaksa menjelaskan bahwa perjanjian tersebut meningkatkan kepercayaan pihak bank. Selain itu, dukungan personal dari Riza Chalid memperkuat keyakinan kreditur terhadap rencana akuisisi tersebut.

Rangkaian ini menciptakan situasi yang tidak lazim. Negara memberikan kontrak kepada pihak yang bahkan belum memiliki aset sepenuhnya. Dengan demikian, kontrak itu membantu mewujudkan kepemilikan yang sebelumnya belum ada.

Realitas bisnis dan keputusan negara saling mendahului.

Jalur Sunyi yang Menggeser Sistem

Rangkaian peristiwa berikutnya tidak berlangsung di ruang terbuka. Komunikasi terjadi melalui jalur yang tidak selalu tercatat secara formal. Irawan Prakoso meminta percepatan. Setelah itu, Hanung Budya dan Alfian Nasution menyampaikan permintaan kepada Direktur Utama Pertamina saat itu, Karen Galaila.

Tujuan akhirnya adalah penunjukan langsung PT Oil Tanking Merak.

Padahal, perusahaan tersebut tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan aturan.

Meski syarat tidak terpenuhi, proses tetap berjalan.

Perubahan tidak terjadi secara dramatis. Sistem masih terlihat utuh. Prosedur masih tampak berjalan. Namun, arah keputusan telah bergeser.

Di titik itulah, negara mulai kehilangan sesuatu yang lebih penting dari sekadar uang.

Ia kehilangan ketegasan.

Luka yang Tercatat dalam Angka

Dampak finansial dari keputusan tersebut sangat besar. Penyewaan terminal menyebabkan kerugian Rp 2,9 triliun.

Selain itu, pengadaan kapal milik Kerry menambah kerugian tambahan. Nilainya mencapai hampir 10 juta dollar AS dan lebih dari Rp 1 miliar.

Ketika seluruh komponen digabungkan, jumlahnya melonjak drastis.

Total kerugian negara mencapai Rp 285,1 triliun.

Besarnya angka itu sulit dipahami secara langsung. Dana sebesar itu dapat membangun fasilitas kesehatan, memperbaiki infrastruktur desa, dan membuka peluang pendidikan bagi jutaan orang.

Namun, dalam kasus ini, angka tersebut berubah menjadi simbol kehilangan.

Sosok yang Hadir dan Sosok yang Hilang

Kerry kini menghadapi proses hukum secara langsung. Ia duduk di kursi terdakwa, mendengar tuntutan, dan menunggu putusan.

Sementara itu, nama Mohamad Riza Chalid terus disebut dalam persidangan.

Jaksa menjelaskan keterlibatannya. Pengaruhnya juga digambarkan secara rinci. Perannya disebut sebagai faktor penting dalam proses yang terjadi.

Namun, sosok itu belum hadir di ruang sidang.

Kondisi tersebut menciptakan kontras yang tajam. Satu orang menghadapi hukum secara langsung, sementara figur lain masih berada di luar jangkauan.

RelatedPosts

Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

Ogoh-Ogoh: Saat Manusia Mengarak Ketakutannya Sendiri di Tengah Jalan

Situasi ini memunculkan pertanyaan yang sulit dihindari.

Apakah keadilan selalu menjangkau semua pihak dengan kekuatan yang sama?

Negara, Sistem, dan Pengaruh

Kasus ini memperlihatkan bagaimana pengaruh dapat membentuk keputusan tanpa terlihat secara kasat mata. Sistem tetap berdiri. Aturan tetap tertulis. Prosedur tetap dijalankan.

Namun, kepentingan tertentu mampu mengubah arah keputusan.

Fenomena tersebut tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui jaringan, hubungan, dan kedekatan yang berlangsung lama.

Dalam kondisi seperti itu, negara menghadapi tantangan yang tidak selalu terlihat.

Bukan ancaman dari luar, melainkan tekanan dari dalam.

Tangki yang Membisu, Pertanyaan yang Hidup

Terminal BBM Merak masih berdiri kokoh hingga hari ini. Struktur baja itu tetap diam. Tidak ada suara yang keluar dari sana.

Namun, kasus ini meninggalkan pertanyaan yang terus hidup.

Seberapa kuat negara mempertahankan independensinya?

Sampai di mana pengaruh pribadi dapat mengubah keputusan publik?

Pada akhirnya, satu pertanyaan paling mendasar terus muncul, Apakah negara benar-benar memegang kendali penuh, atau justru berjalan di bawah bayang-bayang kekuatan lain yang tidak terlihat? @dimas

Tags: EnergihukumKasusKeadilan OligarkikekuasaanKerry AdriantokorupsiminyakPengaruhPertaminaRiza ChalidSkandalTerminal
Next Post
Hoaks LPG 3 Kg Jelang Ramadhan Yang Bikin Warga Panik

Hoaks LPG 3 Kg Jelang Ramadhan Yang Bikin Warga Panik

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi dalam Dua Gelombang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gelar Griya di Istana, Prabowo Satukan Elite Politik dalam Suasana Lebaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Karaton ke Masjid Agung, Gunungan Garebeg Pasa Jadi Rebutan Ratusan Warga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.