Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Lonjakan 81 Ribu Kasus TB di Jabar: Tanda Bahaya Serius

by dimas
November 18, 2025
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Provinsi Jawa Barat kembali memegang rekor yang tidak ingin dirayakan siapa pun 81.864 kasus tuberkulosis (Tb) terdeteksi hanya dalam lima bulan pertama 2025. Angka itu bukan statistik sepi itu adalah tanda bahwa penyakit lama ini masih berjalan seperti hantu yang tidak pernah lelah menghantui provinsi berpenduduk terbesar di Indonesia.

Data Kementerian Kesehatan itu mencuat dalam audiensi antara Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Oktavianus dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Jakarta. Dan fakta ini langsung menyadarkan publik bahwa pandemi mungkin sudah lewat, tetapi wabah Tb tetap menjadi “krisis pelan-pelan” yang jarang masuk headline.

Perburuan Kasus yang Tak Boleh Kendor

Wamenkes Benny menjelaskan bahwa 81 ribu kasus itu hanyalah “permukaan gunung es”. Kemenkes memperkirakan total beban Tb di Jabar mencapai 234 ribu kasus, membuat provinsi ini memikul beban paling berat di seluruh Indonesia.

“Pertemuan ini menyoroti kebutuhan memperkuat penemuan kasus aktif, pemerataan mobile X-ray dan TCM, serta pentingnya penanganan stigma,” kata Benny.

Artinya jelas masalah Jabar bukan hanya angka yang tinggi, tetapi juga kasus-kasus yang belum terdeteksi, terutama di wilayah padat penduduk yang layanan kesehatannya masih timpang.

Ini Belum Selesai

Suran Agung PSHW ke-123: Madiun Mengawal Persaudaraan

TABOOO Corner Hadir di Winongo, Buka Ruang Membaca Realitas

Ketika Target Nasional Masih Terasa Jauh

Di atas kertas nasional, keberhasilan pengobatan Tb punya target 90 persen. Namun Jabar baru menyentuh 80 persen untuk Tb sensitif obat. Lebih buruk lagi, untuk Tb resisten obat (yang jauh lebih sulit ditangani), hanya 1.063 dari target 2.866 kasus yang berhasil ditangani.

Ditambah lagi, beban klinis yang semakin menumpuk:

  1. 4.763 pasien Tb dengan Diabetes Mellitus (DM)
  2. 1.165 pasien Tb dengan HIV
  3. 2.294 kematian hanya dalam periode penghitungan

Angka-angka itu bukan sekadar laporan. Itu adalah potret bahwa Tb tidak berjalan sendirian ia bersinggungan dengan penyakit kronis lain, memperparah risiko, dan menekan sistem kesehatan wilayah.

Siapa Diuntungkan? Siapa Dirugikan?

Dalam situasi seperti ini, jelas siapa yang dirugikan masyarakat kelas pekerja, warga daerah padat, dan mereka yang akses kesehatannya masih sulit. Tb tidak memilih korban. Ia menyerang siapa saja yang tinggal di lingkungan buruk, bekerja dalam kepadatan, atau menunda berobat karena biaya dan stigma.

Lalu siapa yang diuntungkan?
Tentu saja perusahaan farmasi antiseptik atau masker mungkin meningkat penjualannya tapi bagi publik, itu bukan jawaban.

Yang paling diuntungkan sebenarnya adalah pemerintah daerah yang gerak cepat. Jika Jabar bisa menekan angka Tb melalui program agresif dan nyata, reputasi Gubernur dan jajaran kesehatan daerah akan terdongkrak. Sebaliknya, kegagalan akan terasa seperti bom waktu politik.

Dedi Mulyadi Mulai Bergerak

Dedi Mulyadi, yang baru beberapa waktu menjabat sebagai Gubernur Jabar, langsung menyampaikan komitmen untuk menggerakkan seluruh kabupaten/kota.

“Pemprov Jabar menyiapkan pengumuman resmi untuk meningkatkan kewaspadaan, mendorong skrining, dan memperkuat dukungan pengobatan,” ujarnya.

Ia bahkan mengundang Wamenkes turun langsung ke lapangan dalam agenda provinsi, serta berencana melakukan kunjungan incognito ke puskesmas. Langkah yang jarang dilakukan gubernur dan bisa membuka borok layanan primer secara nyata.

Jika benar dilakukan, strategi ini bisa menghasilkan data jujur, bukan laporan yang “sudah rapi di meja”.

Jalan Panjang Menghadapi Penyakit Tertua

Tb bukan penyakit baru. Ia salah satu penyakit tertua yang dikenal manusia. Tapi Jabar, dengan populasi padat dan mobilitas tinggi, menjadi ruang ideal bagi penyebarannya. Karena itu, solusi tidak bisa sekadar seminar, audiensi, atau poster kesehatan.

Yang dibutuhkan adalah:

  1. layanan primer kuat
  2. penemuan kasus agresif
  3. edukasi masyarakat tanpa stigma
  4. dan pengobatan yang tidak putus di tengah jalan

Tanpa itu semua, angka 81 ribu hanya akan jadi pembuka musim.

Pada akhirnya, publik mungkin bertanya lirih:
Pemerintah bisa bergerak cepat mengurus konser, event besar, atau proyek mercusuar. Tapi bisakah bergerak sama cepatnya untuk penyakit yang menggerogoti warganya sendiri setiap hari? @dimas

Tags: Dedi MulyadiKesehatan Publik

Kamu Melewatkan Ini

Plain Packaging dan Perang Baru Industri Rokok

Plain Packaging dan Perang Baru Industri Rokok

by teguh
Juni 14, 2026

Di rak minimarket, perang itu berlangsung tanpa suara. Puluhan bungkus rokok berjejer rapi. Masing-masing berlomba menarik perhatian dalam hitungan detik....

Kemasan Diseragamkan: Pemerintah Persempit Ruang Promosi Industri Rokok

Kemasan Diseragamkan: Pemerintah Persempit Ruang Promosi Industri Rokok

by teguh
Juni 14, 2026

Pemerintah kembali memperketat pengendalian produk tembakau. Kali ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan aturan yang menyasar salah satu aset paling penting...

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

by teguh
Mei 15, 2026

Saat rapat DPRD membahas stunting, kematian ibu, dan layanan kesehatan warga, publik justru melihat video anggota dewan diduga bermain game...

Next Post
Denny Landzaat ke Eropa: Babak Baru yang Dibuka Ajax

Denny Landzaat ke Eropa: Babak Baru yang Dibuka Ajax

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id