Tabooo.id: Nasional – Pemerintah mengklaim telah mengerahkan lebih dari 50 helikopter dari TNI, Polri, dan BNPB untuk menembus wilayah terisolir akibat banjir bandang dan longsor di Sumatera. Langkah ini disebut sebagai upaya percepatan distribusi bantuan di tengah bencana yang telah menelan 753 korban jiwa dan memaksa 3,3 juta warga terdampak mengungsi maupun kehilangan rumah.
Menko PMK Pratikno menyampaikan bahwa helikopter tersebut menyasar daerah-daerah yang benar-benar terputus dari jalur darat. “Lebih dari 50 helikopter digunakan untuk menjangkau wilayah terisolir,” ujarnya dalam jumpa pers di Lanud Halim Perdanakusuma.
Tak hanya heli, pemerintah juga menerjunkan alutsista berskala besar. Pesawat angkut Airbus A400 dikerahkan untuk memobilisasi logistik berat. Sementara itu, wilayah seperti Aceh Tamiang dan Langsa mendapat suplai darurat lewat airdrop menggunakan CN-295, A-2904, dan C-130J Super Hercules.
Di lapangan, instansi pemerintah membangun posko logistik, posko kesehatan, hingga dapur lapangan. Pratikno menegaskan dapur umum termasuk dapur SPPG bergerak cepat untuk distribusi makanan hangat bagi para penyintas.
Skala kerusakan pun mengerikan: 3.600 rumah rusak berat, 2.100 rusak sedang, 3.700 rusak ringan, plus kerusakan fasilitas umum dari jembatan, sekolah, fasilitas ibadah, hingga pusat kesehatan. Data BNPB pada Rabu pagi memperlihatkan bahwa 650 warga masih hilang dan 2.600 lainnya luka-luka.
Jumlah pengungsi membengkak: 1,5 juta di Aceh, 538 ribu di Sumut, dan lebih dari 106 ribu di Sumbar. Angka ini terus bergerak, menunjukkan betapa masifnya dampak bencana yang dipicu hujan ekstrem berhari-hari.
Karena bencana sebesar ini bukan hanya soal angka ini soal apakah sistem negara mampu menyelamatkan warganya ketika alam mengamuk. Informasi soal helikopter, posko, dan alutsista memberi gambaran apakah bantuan benar-benar bergerak atau hanya sekadar janji di podium. Ini relevan bagi siapa pun yang ingin tahu: seberapa siap kita menghadapi cuaca ekstrem yang makin jadi “normal baru”?
Ketika jutaan warga menggantungkan harapan pada langit yang kian tak bersahabat, pertanyaannya kembali pada kita: seberapa cepat sebuah negara bisa berlari ketika rakyatnya sedang tenggelam? (red)




