Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Adu Kemiri Saat Denting Bambu Ego dan Tradisi Bertemu di Satu Titik

by dimas
Desember 5, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Ada satu suara yang dulu akrab di kampung kampung Tek. Bilah bambu bertemu palu kayu dan memecah senja yang baru turun. Anak anak menahan napas. Orang orang tua pura pura santai sambil mengintip peluang menang. Adu kemiri terlihat sederhana, tapi permainan ini memadukan gengsi, keberanian, dan sedikit rasa nekat.

Kini denting itu sering muncul sebagai meme nostalgia di Facebook bapak bapak. Namun, perjalanan adu kemiri jauh lebih tua dari timeline digital siapa pun.

Jejak Sejarah Sultan Agung dan Denting yang Tak Sembarang Denting

Adu kemiri atau ngadu muncang juga dikenal sebagai mirobolani. Sultan Agung penguasa Mataram Islam 1613 sampai 1645 menyukai permainan ini. Ia sering mengajak orang orang untuk bertanding. Aturannya jelas. Jika ada yang curang, Sultan menghukumnya. Ia bahkan memenggal kuda milik pemain yang menipu. Hukuman yang keras, tetapi sesuai dengan karakter kepemimpinan masa itu.

Permainan ini juga terekam dalam kartu pos KITLV sebelum tahun 1902. Kartu pos itu memperlihatkan warga dari berbagai usia yang berkerumun di sekitar pidekan. Adegan itu seperti potret yang masih hidup dalam ingatan masyarakat hingga sekarang.

Cara Main yang Sederhana Tapi Penuh Strategi

Adu kemiri terlihat mudah. Pemain menjepit dua kemiri di antara bilah bambu lalu memukulnya dengan palu kayu. Kemiri yang tetap utuh menang.

Ini Belum Selesai

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

Saat Nyai Setomi Dijamasi, Ingatan Mataram Kembali Hidup

Namun, pemain lama jarang bermain tanpa persiapan. Mereka merendam kemiri dalam air cuka selama tiga hari tiga malam. Setelah itu mereka mengeringkan dan menggosoknya dengan kemiri kupas. Beberapa orang menyebutnya trik. Yang lain menyebutnya doa atau janjawokan.

Jenis kemiri pun beragam.
Ada muncang gendul yang berisi satu biji.
Ada muncang dampa yang berisi dua.
Ada muncang gindi atau sanilu yang berisi tiga.

Kini orang juga memberi nama berdasarkan daerah seperti Muncang Cariu atau Muncang Kaliwiro. Ada pula nama berdasarkan pemilik pohon misalnya Muncang Yanti atau Muncang Yakob.

Adu Kemiri di Era Digital Denting yang Berpindah Tempat

Permainan ini tidak hilang. Ia hanya berpindah ruang. Dari teras rumah ke layar TikTok. Dari tanah lapang ke konten ASMR berupa benturan benda keras.

Di beberapa daerah adu kemiri hidup lagi. Ia muncul dalam lomba kampung festival budaya atau acara kumpul bapak bapak setelah panen. Tradisinya tidak utuh seperti dulu tetapi napasnya masih terasa.

Namun permainan ini juga punya sisi gelap. Sejak dulu orang sering menggunakannya untuk berjudi. Catatan Padmasusastra tahun 1911 menggambarkan praktik taruhan itu dengan jelas. Fenomena itu masih terjadi. Pada tahun 2024 polisi di Sumedang menangkap 17 orang yang bermain adu muncang dengan taruhan uang.

Refleksi Tabooo Tradisi Kecil dengan Nafas Besar

Adu kemiri tidak sekadar permainan. Ia menjadi metafora hidup Indonesia. Sederhana tapi penuh strategi. Meriah tapi rawan konflik kecil. Tradisional tetapi tetap bertahan di dunia yang berubah cepat.

Dua kemiri yang saling menguji kekuatan mengingatkan kita pada keberanian. Kemiri yang pecah bukan tragedi. Itu bagian dari permainan. Permainan ini juga mengajarkan kejujuran. Dari era Sultan Agung hingga hari ini orang tetap menghargai pemain yang bermain bersih.

Adu kemiri menunjukkan bahwa tradisi tidak harus megah untuk bermakna. Permainan ini lahir dari benda yang sangat sederhana buah kemiri bilah bambu dan sedikit tenaga. Namun denting kecilnya mampu memanggil tawa orang kampung. Di tengah dunia yang serba cepat permainan seperti ini menjadi pengingat untuk memperlambat langkah sejenak.

Penutup Denting Bambu yang Mengajak Kita Pulang

Adu kemiri adalah jejak kecil dari masa lalu tetapi suaranya masih bergema. Ia mengingatkan kita bahwa banyak hal indah datang dari kesederhanaan.

Di era ketika notifikasi bisa menghapus perhatian kita hanya dalam hitungan detik adu kemiri mengajak kita kembali ke ruang yang lebih pelan. Ruang yang berisi tawa riuh dan kompetisi ringan. Ruang yang tidak membutuhkan layar.

Mungkin itu pesan dari kemiri yang saling beradu sejak masa Sultan Agung. Bahwa manusia selalu menemukan caranya merayakan hidup meski hanya lewat satu denting kecil

Tek suara yang sederhana tetapi cukup untuk membawa kita pulang. @dimas

Kamu Melewatkan Ini

Di Desa Lauwa, Buku Tak Cuma Mengajari Anak Membaca

Di Desa Lauwa, Buku Tak Cuma Mengajari Anak Membaca

by teguh
Agustus 24, 2026

Sabtu punya cerita sendiri bagi anak-anak Desa Lauwa, Kecamatan Belopa Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Tabooo.id - Pagi atau siang...

Pati Menagih, Bangkalan Membela: Dua Suara Daerah Menuju Jakarta

Pati Menagih, Bangkalan Membela: Dua Suara Daerah Menuju Jakarta

by dimas
Agustus 23, 2026

Pati menagih pengesahan RUU Perampasan Aset, sementara Bangkalan membela program Prabowo. Dua suara daerah bergerak menuju Jakarta dengan tujuan berbeda....

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

by teguh
Agustus 23, 2026

Di balik 1.012 pusaka yang menurut pengelola Museum keris telah teregistrasi, ada pekerjaan sunyi untuk merawat benda, menjaga cerita, dan...

Next Post
Gembong Sabu Rp 5 Triliun: Mami Akhirnya Keok di Kamboja

Gembong Sabu Rp 5 Triliun: Mami Akhirnya Keok di Kamboja

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id