Tabooo.id: Vibes – Ada satu suara yang dulu akrab di kampung kampung Tek. Bilah bambu bertemu palu kayu dan memecah senja yang baru turun. Anak anak menahan napas. Orang orang tua pura pura santai sambil mengintip peluang menang. Adu kemiri terlihat sederhana, tapi permainan ini memadukan gengsi, keberanian, dan sedikit rasa nekat.
Kini denting itu sering muncul sebagai meme nostalgia di Facebook bapak bapak. Namun, perjalanan adu kemiri jauh lebih tua dari timeline digital siapa pun.
Jejak Sejarah Sultan Agung dan Denting yang Tak Sembarang Denting
Adu kemiri atau ngadu muncang juga dikenal sebagai mirobolani. Sultan Agung penguasa Mataram Islam 1613 sampai 1645 menyukai permainan ini. Ia sering mengajak orang orang untuk bertanding. Aturannya jelas. Jika ada yang curang, Sultan menghukumnya. Ia bahkan memenggal kuda milik pemain yang menipu. Hukuman yang keras, tetapi sesuai dengan karakter kepemimpinan masa itu.
Permainan ini juga terekam dalam kartu pos KITLV sebelum tahun 1902. Kartu pos itu memperlihatkan warga dari berbagai usia yang berkerumun di sekitar pidekan. Adegan itu seperti potret yang masih hidup dalam ingatan masyarakat hingga sekarang.
Cara Main yang Sederhana Tapi Penuh Strategi
Adu kemiri terlihat mudah. Pemain menjepit dua kemiri di antara bilah bambu lalu memukulnya dengan palu kayu. Kemiri yang tetap utuh menang.
Namun, pemain lama jarang bermain tanpa persiapan. Mereka merendam kemiri dalam air cuka selama tiga hari tiga malam. Setelah itu mereka mengeringkan dan menggosoknya dengan kemiri kupas. Beberapa orang menyebutnya trik. Yang lain menyebutnya doa atau janjawokan.
Jenis kemiri pun beragam.
Ada muncang gendul yang berisi satu biji.
Ada muncang dampa yang berisi dua.
Ada muncang gindi atau sanilu yang berisi tiga.
Kini orang juga memberi nama berdasarkan daerah seperti Muncang Cariu atau Muncang Kaliwiro. Ada pula nama berdasarkan pemilik pohon misalnya Muncang Yanti atau Muncang Yakob.
Adu Kemiri di Era Digital Denting yang Berpindah Tempat
Permainan ini tidak hilang. Ia hanya berpindah ruang. Dari teras rumah ke layar TikTok. Dari tanah lapang ke konten ASMR berupa benturan benda keras.
Di beberapa daerah adu kemiri hidup lagi. Ia muncul dalam lomba kampung festival budaya atau acara kumpul bapak bapak setelah panen. Tradisinya tidak utuh seperti dulu tetapi napasnya masih terasa.
Namun permainan ini juga punya sisi gelap. Sejak dulu orang sering menggunakannya untuk berjudi. Catatan Padmasusastra tahun 1911 menggambarkan praktik taruhan itu dengan jelas. Fenomena itu masih terjadi. Pada tahun 2024 polisi di Sumedang menangkap 17 orang yang bermain adu muncang dengan taruhan uang.
Refleksi Tabooo Tradisi Kecil dengan Nafas Besar
Adu kemiri tidak sekadar permainan. Ia menjadi metafora hidup Indonesia. Sederhana tapi penuh strategi. Meriah tapi rawan konflik kecil. Tradisional tetapi tetap bertahan di dunia yang berubah cepat.
Dua kemiri yang saling menguji kekuatan mengingatkan kita pada keberanian. Kemiri yang pecah bukan tragedi. Itu bagian dari permainan. Permainan ini juga mengajarkan kejujuran. Dari era Sultan Agung hingga hari ini orang tetap menghargai pemain yang bermain bersih.
Adu kemiri menunjukkan bahwa tradisi tidak harus megah untuk bermakna. Permainan ini lahir dari benda yang sangat sederhana buah kemiri bilah bambu dan sedikit tenaga. Namun denting kecilnya mampu memanggil tawa orang kampung. Di tengah dunia yang serba cepat permainan seperti ini menjadi pengingat untuk memperlambat langkah sejenak.
Penutup Denting Bambu yang Mengajak Kita Pulang
Adu kemiri adalah jejak kecil dari masa lalu tetapi suaranya masih bergema. Ia mengingatkan kita bahwa banyak hal indah datang dari kesederhanaan.
Di era ketika notifikasi bisa menghapus perhatian kita hanya dalam hitungan detik adu kemiri mengajak kita kembali ke ruang yang lebih pelan. Ruang yang berisi tawa riuh dan kompetisi ringan. Ruang yang tidak membutuhkan layar.
Mungkin itu pesan dari kemiri yang saling beradu sejak masa Sultan Agung. Bahwa manusia selalu menemukan caranya merayakan hidup meski hanya lewat satu denting kecil
Tek suara yang sederhana tetapi cukup untuk membawa kita pulang. @dimas







