Sebanyak 11 desa binaan BCA (PT Bank Central Asia Tbk) membidik pasar wisatawan mancanegara melalui Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO), Kemayoran, Jakarta. Ajang tersebut menghasilkan peluang kunjungan sekitar 124 orang dengan potensi pendapatan Rp242 juta. Namun, angka itu masih berupa potensi, bukan pendapatan yang sudah diterima desa.
Tabooo.id: Jakarta – Dalam kegiatan tersebut, BCA mencatat 64 pelaku industri pariwisata mengikuti diskusi mengenai peluang kerja sama dengan desa-desa binaan. Pertemuan itu membuka kesempatan bagi desa wisata untuk memperluas jaringan bisnis dan menjangkau pasar internasional seperti 11 Desa binaan BCA yang sudah ada.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyebut perluasan akses pasar sebagai salah satu kunci pengembangan desa wisata. Ia menyampaikan pernyataan tersebut melalui keterangan tertulis pada Kamis 29/10/2026.
“Akses pasar menjadi satu hal penting yang perlu didorong dalam mengembangkan Desa Bakti BCA. Kami menyadari akses pasar yang luas dapat menjadi pintu gerbang untuk meningkatkan pertumbuhan sektor wisata di Indonesia,” ujar Hera.
Ia menambahkan, partisipasi BCA dalam WITF 2026 bertujuan membuka peluang kerja sama bisnis yang nyata dan berkelanjutan melalui interaksi langsung dengan puluhan pembeli mancanegara.
11 Desa Binaan BCA dan Beragam Potensi Wisata
BCA membawa desa binaan dari berbagai daerah untuk mempromosikan paket wisata, kekayaan budaya, dan daya tarik alam setempat. Mereka meliputi Kampung Adat Sijunjung di Sumatera Barat, Desa Wisata Dayun di Riau, serta Desa Wisata Limbongan dan Bukit Peramun di Belitung.
Daftar peserta juga mencakup Wisata Wayang Desa Wukirsari di Yogyakarta, Desa Wisata Edelweiss Wonokitri dan Desa Wisata Tamansari, Desa Wisata Taro di Bali, Desa Wisata Bilebante di Nusa Tenggara Barat, Kampung Adat Prai Ijing/Tebara di Nusa Tenggara Timur, serta Desa Wisata Pulau Derawan di Kalimantan Timur.
Menurut Hera, paket wisata tersebut menawarkan pengalaman budaya dan keindahan alam pedesaan kepada wisatawan mancanegara.
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang tercantum dalam materi BCA, Indonesia memiliki 6.396 desa wisata hingga September 2026. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya ruang pengembangan pariwisata berbasis desa, meski setiap destinasi tetap membutuhkan akses pasar dan pengelolaan yang memadai.
Rp536 Juta Sudah Tercatat, Rp1,9 Miliar Masih Potensial dari 11 Desa Binaan BCA
BCA mencatat pendapatan desa binaan melalui perluasan akses pasar luar negeri mencapai Rp536 juta sepanjang 2024–2025. Angka ini berbeda dari potensi pendapatan Rp242 juta yang muncul dalam kegiatan WITF 2026.
Pada 2026, BCA juga membawa upaya promosi ke ajang ITB Berlin dengan mencatatkan potential value sebesar Rp1,9 miliar. Nilai tersebut masih berstatus potensi, sehingga tidak dapat disamakan dengan pendapatan yang sudah terealisasi.
Sementara itu, BCA melaporkan kontribusi terhadap pendapatan desa wisata dan UMKM sebesar Rp2,22 miliar pada semester I-2026. Rinciannya terdiri atas Rp1,92 miliar dari sektor UMKM dan Rp301 juta dari paket wisata.
Melalui pilar UMKM dan Desa Bakti BCA, perusahaan menjalankan dua program utama peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan (capacity building), serta perluasan akses pasar (market access) melalui promosi dan kemitraan.
Peluang Besar, Ukuran Keberhasilan Tetap Realisasi
Perluasan akses pasar dapat membantu desa wisata menjangkau pembeli internasional. Namun, pertemuan bisnis dan angka potensi belum otomatis menghasilkan kunjungan wisatawan atau pendapatan bagi warga.
Bagi masyarakat desa, keberhasilan program ini perlu terlihat melalui pemesanan paket wisata, transaksi dengan pelaku lokal, peningkatan pendapatan usaha, dan keberlanjutan kemitraan. Indikator tersebut juga penting untuk menilai apakah manfaat promosi benar-benar menjangkau masyarakat, bukan berhenti pada pencatatan peluang bisnis.
BCA menyatakan komitmennya untuk menciptakan nilai bersama melalui program pemberdayaan masyarakat. Tantangan berikutnya ialah membuktikan komitmen tersebut melalui hasil yang terukur.
WITF 2026 telah membuka pintu pasar global. Pertanyaan berikutnya berapa dari 124 potensi kunjungan itu yang benar-benar terjadi, dan berapa nilai kerja sama yang akhirnya masuk ke kantong masyarakat desa?. @teguh







