Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Wiwitan, Cara Dusun Kweden Menjaga Akar di Tengah Modernisasi

by Anisa
Agustus 3, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter
Wiwitan kembali menghidupkan sawah Dusun Kweden, Kalurahan Trirenggo, Bantul, pada Minggu (2/8/2026). Ratusan warga berkumpul dengan busana petani Jawa tempo dulu untuk membuka rangkaian Merti Dusun Kweden ke-8. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa syukur, gotong royong, dan kedekatan dengan alam tetap hidup di tengah modernisasi.

Tabooo.id – Hamparan sawah Dusun Kweden, Kalurahan Trirenggo, Bantul, kembali dipenuhi langkah warga pada Minggu sore, 2 Agustus 2026. Mereka berkumpul mengikuti wiwitan, tradisi yang membuka seluruh rangkaian Merti Dusun Kweden ke-8.

Suasana sore itu terasa berbeda. Warga mengenakan pakaian petani Jawa tempo dulu. Para laki-laki memakai lurik, ikat kepala, dan jarik. Sementara itu, kaum perempuan tampil sederhana dengan kebaya dan kain batik. Pemandangan tersebut membuat hamparan sawah seolah kembali ke masa ketika pertanian menjadi denyut utama kehidupan masyarakat Jawa.

Tidak ada panggung megah maupun dekorasi berlebihan. Sebaliknya, warga menghadirkan kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur. Mereka memulai tradisi dengan doa agar musim panen membawa hasil yang melimpah serta memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Bagi masyarakat agraris, wiwitan bukan sekadar ritual pembuka. Tradisi ini menghubungkan manusia dengan alam sekaligus mengingatkan bahwa setiap bulir padi lahir dari kerja keras, air, tanah, dan doa yang berjalan bersama.

Meski perkembangan teknologi mengubah cara bertani, masyarakat Dusun Kweden tetap menjaga tradisi ini. Mereka tidak sekadar melestarikan sebuah upacara. Mereka merawat ingatan kolektif yang telah hidup selama bergenerasi.

Selain masyarakat Dusun Kweden, Lurah Trirenggo Ernawati Kusumaningsih, juga hadir dalam prosesi tersebut. Kehadiran pemerintah kalurahan memperlihatkan dukungan terhadap pelestarian budaya lokal yang masih tumbuh di tengah masyarakat.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Wiwitan Menjadi Gerbang Merti Dusun

Ketua Panitia Merti Dusun ke-8, Sedyo Asih Agus Utomo, menjelaskan bahwa wiwitan menjadi awal seluruh rangkaian kegiatan yang akan berlangsung hingga Oktober mendatang.

“Wiwitan merupakan awalan dari seluruh rangkaian Merti Dusun. Setelah ini ada pinuwunan, pinuwuan, nyekar di tiga makam leluhur, doa bersama, pengajian, dan misa bagi umat Kristiani. Puncaknya nanti pada 3 Oktober dengan pawai jodhang siang hari dan pagelaran wayang kulit oleh Ki Kiswan pada malam harinya,” ujarnya.

Menurut Sedyo Asih Agus Utomo, penyelenggaraan tahun ini menjadi Merti Dusun Kweden ke-8. Seluruh warga ikut mengambil bagian. Mereka menyumbangkan tenaga, pikiran, hingga kemampuan finansial secara sukarela. Karena itu, Merti Dusun tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong masyarakat.

Ia berharap tradisi tersebut terus berlangsung setiap tiga tahun sekali.

“Harapan kami, Merti Dusun ini terus terselenggara setiap tiga tahun sekali agar bisa menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda di Dusun Kweden,” katanya.

Harapan tersebut menunjukkan bahwa warga tidak ingin mewariskan prosesi semata. Mereka ingin mewariskan nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan kecintaan terhadap budaya desa.

Sego Wiwit, Layangan, dan Kebersamaan

Usai prosesi doa, panitia mengajak seluruh warga menikmati 300 porsi sego wiwit yang mereka siapkan secara gotong royong. Anak-anak, orang tua, hingga para sesepuh duduk berdampingan tanpa memandang usia maupun latar belakang. Mereka menikmati hidangan sederhana sambil berbincang dan mempererat hubungan antartetangga.

Sego wiwit bukan sekadar makanan. Hidangan tersebut melambangkan rasa syukur atas hasil bumi sekaligus mempertegas bahwa panen selalu menjadi kebahagiaan bersama.

Di sisi lain, langit Dusun Kweden mulai dipenuhi warna-warni layangan. Panitia menggelar parade layangan anak untuk memberi ruang bagi generasi muda menikmati permainan tradisional yang kini mulai jarang ditemukan.

Puluhan layangan menari mengikuti arah angin di atas hamparan sawah. Anak-anak berlarian sambil tertawa. Orang tua menyaksikan mereka dengan wajah penuh senyum. Pemandangan itu menghadirkan suasana yang sederhana, tetapi sulit tergantikan oleh permainan digital.

Karena itulah, parade layangan tidak hanya menjadi hiburan. Kegiatan tersebut juga mempertemukan kembali dua generasi melalui permainan yang pernah mengisi masa kecil masyarakat desa.

Tradisi yang Menolak Dilupakan

Lurah Trirenggo, Ernawati Kusumaningsih, menutup prosesi dengan doa dan harapan bagi masyarakat Kweden.

“Mugi-mugi panen wilayah sabin Kweden hasilipun sae, katah, lan mugi-mugi banyu mili saengga damel kemanfaatan lan kesejahteraan kagem kulo panjenengan sedoyo,” tuturnya.

Doa tersebut mencerminkan harapan masyarakat agraris. Panen yang baik akan menghidupi keluarga. Air yang terus mengalir akan menjaga sawah tetap subur. Sementara itu, tradisi yang terus diwariskan akan menjaga jati diri sebuah kampung.

Berbagai kajian budaya Jawa menjelaskan bahwa wiwitan berasal dari kata wiwit yang berarti “memulai”. Masyarakat Jawa sejak lama menggunakan tradisi ini sebagai penanda dimulainya panen padi sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang mereka terima. Seiring waktu, wiwitan berkembang menjadi ruang silaturahmi, gotong royong, dan pewarisan nilai budaya antargenerasi.

Dusun Kweden menunjukkan bahwa modernisasi tidak selalu harus menghapus tradisi. Sebaliknya, masyarakat justru membuktikan bahwa kemajuan dapat berjalan berdampingan dengan budaya. Selama warga masih berkumpul di sawah, menikmati sego wiwit, menerbangkan layangan, dan memanjatkan doa bersama, wiwitan akan tetap hidup sebagai pengingat bahwa sebuah desa tidak hanya dibangun oleh bangunan dan jalan, tetapi juga oleh ingatan, kebersamaan, dan rasa syukur yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. @anisa

Tags: Budaya JawaGotong RoyongKearifan LokalKebersamaan WargaTradisi Jawa

Kamu Melewatkan Ini

Gotong Royong, Modal Pembangunan yang Sering Dilupakan

Gotong Royong, Modal Pembangunan yang Sering Dilupakan

by dimas
September 11, 2026

Gotong royong bukan sekadar kerja bakti, tetapi modal sosial untuk membangun dan merawat infrastruktur. Saatnya menghitung potensi selain uang. Tabooo.id...

Karhutla Kalimantan: Saat Api, Adat dan Hukum Beradu

Karhutla Kalimantan: Saat Api, Adat dan Hukum Beradu

by dimas
September 7, 2026

Karhutla Kalimantan mempertemukan persoalan kebakaran, tradisi masyarakat adat, penegakan hukum, dan konflik penguasaan lahan dalam satu dilema. Tabooo.id - Kabut...

Tradisi Ma’nene: Cara Toraja Menjaga Ingatan Leluhur

Tradisi Ma’nene: Cara Toraja Menjaga Ingatan Leluhur

by teguh
September 4, 2026

Bagi sebagian orang, kematian menandai akhir sebuah hubungan. Setelah pemakaman, keluarga biasanya menyimpan kenangan melalui foto, cerita, atau benda peninggalan....

Next Post
Gugatan Nama Pakubuwana XIV Tak Diterima, Gusti Moeng Siapkan Banding

Gugatan Nama Pakubuwana XIV Tak Diterima, Gusti Moeng Siapkan Banding

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id