Selasa, Agustus 25, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Wisata Alam Guci Diterjang Banjir: Salah Cuaca atau Salah Kelola?

by dimas
Desember 23, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Talk – Jujur saja, siapa yang tidak suka Guci? Pemandian air panas di lereng Gunung Slamet itu seperti paket lengkap dingin, hangat, alami, dan Instagramable. Tapi Sabtu sore itu, 20 Desember 2025, Guci seolah berkata, “Cukup.” Air yang biasanya menenangkan justru datang sebagai banjir bandang, merusak kolam Pancuran 13, menyeret jembatan, dan memaksa kawasan wisata ditutup sementara.

Pertanyaannya bukan cuma apa yang terjadi, tapi mengapa ini terus terjadi.

BNPB menyebut hujan deras sebagai pemicu utama. Debit Sungai Gung meningkat, meluap, dan membawa lumpur, batu, serta kayu ke kawasan wisata. Secara teknis, penjelasan itu masuk akal. Namun, apakah kita mau berhenti di situ? Atau justru perlu bertanya lebih jauh apakah banjir bandang ini murni bencana alam, atau hasil dari cara kita memperlakukan ruang wisata?

Wisata Alam, Tapi Lupa Alam Punya Batas

Mari kita jujur sebentar. Wisata alam di Indonesia sering kali tumbuh lebih cepat daripada kesadaran mitigasinya. Infrastruktur dibangun, jalur diperluas, penginapan menjamur, tetapi sistem peringatan dini, tata ruang berbasis risiko, dan edukasi pengunjung kerap tertinggal.

Di Guci, pipa air panas hanyut. Jembatan rawan bencana hilang. Kolam tergerus arus. Semua itu bukan sekadar “rusak,” melainkan tanda bahwa kawasan tersebut memang berada di zona yang sensitif. Lereng gunung, sungai aktif, dan curah hujan tinggi bukan kombinasi yang bisa diperlakukan santai.

Ini Belum Selesai

Motor Boleh Beda, Solidaritas Jangan Hilang

Karhutla Terus Berulang, Mengapa Negara Tak Belajar?

Masalahnya, kita sering terlalu percaya diri. Seolah-olah alam akan selalu ramah selama tiket masuk terjual dan akhir pekan ramai. Padahal, alam tidak pernah menandatangani kontrak kerja sama pariwisata.

“Korban Nihil” Tapi Apa Itu Sudah Cukup?

BNPB memastikan tidak ada korban jiwa. Syukurlah. Tapi di era bencana berulang, apakah standar kita hanya berhenti di “tidak ada yang meninggal”?

Kerusakan fasilitas vital berarti kerugian ekonomi bagi warga lokal, penutupan usaha sementara, dan ketidakpastian bagi pekerja wisata. Belum lagi rasa aman pengunjung yang terganggu. Wisata bukan cuma soal liburan ia menyangkut ekosistem sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.

Di sisi lain, penutupan sementara Pancuran 13 adalah langkah tepat. Lebih baik wisatawan kecewa karena batal berendam daripada keluarga kehilangan anggota karena lalai mitigasi. Namun penutupan saja tidak cukup jika setelahnya semua kembali seperti semula, tanpa evaluasi serius.

Perspektif Lain: Tidak Semua Bisa Disalahkan ke Pengelola

Adil juga kalau kita melihat sisi lain. Curah hujan ekstrem memang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Pola cuaca makin sulit diprediksi, dan kawasan pegunungan menjadi semakin rentan. Bahkan dengan perencanaan terbaik pun, risiko tidak bisa dihapus sepenuhnya.

Selain itu, pengelola lokal sering berada di posisi sulit. Tekanan ekonomi, tuntutan wisatawan, dan keterbatasan anggaran membuat mitigasi sering kalah prioritas. Dalam banyak kasus, mereka bekerja dengan sumber daya minim, sementara ekspektasi publik terus meningkat.

Namun justru di situlah peran negara dan pemerintah daerah seharusnya lebih hadir, bukan sekadar datang setelah banjir, lalu pergi setelah konferensi pers.

Sikap Tabooo: Jangan Tunggu Air Datang Baru Bergerak

Tabooo melihat banjir bandang di Guci bukan sebagai kejadian tunggal, melainkan alarm keras. Alarm bahwa wisata alam tidak bisa lagi dikelola dengan pola lama. Mitigasi harus menjadi bagian dari pengalaman wisata, bukan catatan kaki di laporan bencana.

Peta risiko harus jelas. Informasi harus transparan. Pengunjung perlu tahu kapan aman dan kapan harus pulang. Dan yang paling penting, pembangunan harus berani berkata “tidak” pada lokasi-lokasi yang terlalu berisiko.

Wisata yang aman mungkin tidak selalu spektakuler. Tapi wisata yang abai hampir selalu berakhir tragis.

Jadi, Kita Mau di Kubu Mana?

Apakah kita tetap di kubu “yang penting ramai dulu,” atau mulai berpihak pada wisata yang sadar risiko? Apakah kita puas dengan label “korban nihil,” atau ingin memastikan bencana tidak terus berulang dengan pola yang sama?

Guci sudah memberi peringatan. Alam sudah bicara, tanpa konferensi pers, tanpa rilis resmi. Tinggal kita yang memilih: mau mendengar, atau menunggu banjir berikutnya untuk kembali terkejut.

Lalu, kamu di kubu mana? @dimas

Tags: Banjir BandangbencanaIsuLingkungan

Kamu Melewatkan Ini

BEM Undip Tagih Pemerintah: Mengapa Karhutla Terus Berulang?

BEM Undip Tagih Pemerintah: Mengapa Karhutla Terus Berulang?

by dimas
Agustus 25, 2026

BEM Undip menagih keseriusan pemerintah menangani karhutla yang terus berulang, dari pencegahan, pengawasan, hingga penegakan hukum. Tabooo.id - Api kembali...

Karhutla Kalimantan Berulang: Kenapa Selalu Datang Setelah Api Membesar?

Karhutla Kalimantan Berulang: Kenapa Selalu Datang Setelah Api Membesar?

by teguh
Agustus 21, 2026

Musim kering belum selesai, tetapi asap kembali menjadi cerita Karhutla Kalimantan. Per 19/08/2026, data BNPB yang disampaikan Wakil Ketua Komisi...

17 Agustus Mode Darurat: HUT 81 RI, Bendera Naik, Data Korban Mengejar

17 Agustus Mode Darurat: HUT 81 RI, Bendera Naik, Data Korban Mengejar

by teguh
Agustus 17, 2026

Merah Putih tetap naik di Lapangan Motang Rua, Ruteng, Senin, 17 Agustus 2026. Upacara HUT ke-81 RI dimulai pukul 09.00...

Next Post
Kapal Karam di Portugal, Dua Nelayan Indonesia Ditemukan Meninggal

KBRI Lisabon Konfirmasi Dua Jenazah Diduga Nelayan Indonesia

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id