Tabooo.id: Talk – Jujur saja, siapa yang tidak suka Guci? Pemandian air panas di lereng Gunung Slamet itu seperti paket lengkap dingin, hangat, alami, dan Instagramable. Tapi Sabtu sore itu, 20 Desember 2025, Guci seolah berkata, “Cukup.” Air yang biasanya menenangkan justru datang sebagai banjir bandang, merusak kolam Pancuran 13, menyeret jembatan, dan memaksa kawasan wisata ditutup sementara.
Pertanyaannya bukan cuma apa yang terjadi, tapi mengapa ini terus terjadi.
BNPB menyebut hujan deras sebagai pemicu utama. Debit Sungai Gung meningkat, meluap, dan membawa lumpur, batu, serta kayu ke kawasan wisata. Secara teknis, penjelasan itu masuk akal. Namun, apakah kita mau berhenti di situ? Atau justru perlu bertanya lebih jauh apakah banjir bandang ini murni bencana alam, atau hasil dari cara kita memperlakukan ruang wisata?
Wisata Alam, Tapi Lupa Alam Punya Batas
Mari kita jujur sebentar. Wisata alam di Indonesia sering kali tumbuh lebih cepat daripada kesadaran mitigasinya. Infrastruktur dibangun, jalur diperluas, penginapan menjamur, tetapi sistem peringatan dini, tata ruang berbasis risiko, dan edukasi pengunjung kerap tertinggal.
Di Guci, pipa air panas hanyut. Jembatan rawan bencana hilang. Kolam tergerus arus. Semua itu bukan sekadar “rusak,” melainkan tanda bahwa kawasan tersebut memang berada di zona yang sensitif. Lereng gunung, sungai aktif, dan curah hujan tinggi bukan kombinasi yang bisa diperlakukan santai.
Masalahnya, kita sering terlalu percaya diri. Seolah-olah alam akan selalu ramah selama tiket masuk terjual dan akhir pekan ramai. Padahal, alam tidak pernah menandatangani kontrak kerja sama pariwisata.
“Korban Nihil” Tapi Apa Itu Sudah Cukup?
BNPB memastikan tidak ada korban jiwa. Syukurlah. Tapi di era bencana berulang, apakah standar kita hanya berhenti di “tidak ada yang meninggal”?
Kerusakan fasilitas vital berarti kerugian ekonomi bagi warga lokal, penutupan usaha sementara, dan ketidakpastian bagi pekerja wisata. Belum lagi rasa aman pengunjung yang terganggu. Wisata bukan cuma soal liburan ia menyangkut ekosistem sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.
Di sisi lain, penutupan sementara Pancuran 13 adalah langkah tepat. Lebih baik wisatawan kecewa karena batal berendam daripada keluarga kehilangan anggota karena lalai mitigasi. Namun penutupan saja tidak cukup jika setelahnya semua kembali seperti semula, tanpa evaluasi serius.
Perspektif Lain: Tidak Semua Bisa Disalahkan ke Pengelola
Adil juga kalau kita melihat sisi lain. Curah hujan ekstrem memang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Pola cuaca makin sulit diprediksi, dan kawasan pegunungan menjadi semakin rentan. Bahkan dengan perencanaan terbaik pun, risiko tidak bisa dihapus sepenuhnya.
Selain itu, pengelola lokal sering berada di posisi sulit. Tekanan ekonomi, tuntutan wisatawan, dan keterbatasan anggaran membuat mitigasi sering kalah prioritas. Dalam banyak kasus, mereka bekerja dengan sumber daya minim, sementara ekspektasi publik terus meningkat.
Namun justru di situlah peran negara dan pemerintah daerah seharusnya lebih hadir, bukan sekadar datang setelah banjir, lalu pergi setelah konferensi pers.
Sikap Tabooo: Jangan Tunggu Air Datang Baru Bergerak
Tabooo melihat banjir bandang di Guci bukan sebagai kejadian tunggal, melainkan alarm keras. Alarm bahwa wisata alam tidak bisa lagi dikelola dengan pola lama. Mitigasi harus menjadi bagian dari pengalaman wisata, bukan catatan kaki di laporan bencana.
Peta risiko harus jelas. Informasi harus transparan. Pengunjung perlu tahu kapan aman dan kapan harus pulang. Dan yang paling penting, pembangunan harus berani berkata “tidak” pada lokasi-lokasi yang terlalu berisiko.
Wisata yang aman mungkin tidak selalu spektakuler. Tapi wisata yang abai hampir selalu berakhir tragis.
Jadi, Kita Mau di Kubu Mana?
Apakah kita tetap di kubu “yang penting ramai dulu,” atau mulai berpihak pada wisata yang sadar risiko? Apakah kita puas dengan label “korban nihil,” atau ingin memastikan bencana tidak terus berulang dengan pola yang sama?
Guci sudah memberi peringatan. Alam sudah bicara, tanpa konferensi pers, tanpa rilis resmi. Tinggal kita yang memilih: mau mendengar, atau menunggu banjir berikutnya untuk kembali terkejut.
Lalu, kamu di kubu mana? @dimas





