Tabooo.id: Global – Johannesburg menyambut pagi dengan aroma diplomasi yang tak biasa. Dari kabin pesawat yang baru mendarat setelah perjalanan 11 jam dari Jakarta, Wakil Presiden Gibran Rakabuming langsung diarahkan ke panggung Indonesia-Africa CEO Forum. Waktu istirahat? Tidak ada. Bahkan secangkir kopi pun tampaknya tak sempat disentuh. Hanya satu jam setelah menapakkan kaki di Bandara Internasional O.R. Tambo, ia sudah berdiri di depan para pemimpin bisnis Afrika.
“Penerbangannya panjang, tetapi saya senang melihat Anda semua,” ujar Gibran, membuka pidatonya dalam bahasa Inggris.
Kalimat yang terdengar sederhana, namun cukup untuk menegaskan bahwa Indonesia tidak datang untuk sekadar formalitas. Ada pesan besar yang ia bawa dari Jakarta, dan ia ingin menyampaikannya secepat mungkin.
Diplomasi Prabowo Lewat Gibran
Ini bukan kunjungan biasa. Gibran hadir sebagai perpanjangan tangan resmi Presiden Prabowo Subianto untuk KTT G20 di Afrika Selatan. Melalui podium itu, ia mengirim salam hangat dari Prabowo sekaligus menyampaikan apresiasi terhadap pemerintah Afrika Selatan. Nada pidatonya tegas namun hangat, menunjukkan hubungan yang semakin dekat antara kedua negara.
Di balik formalitas tersebut, ada satu pesan yang membuat telinga audiens Afrika Selatan terangkat kesepakatan bebas visa yang sebelumnya dibahas antara Prabowo dan Presiden Cyril Ramaphosa saat keduanya bertemu di Jakarta pada Oktober 2025. Ketika Gibran mengatakan, “Tidak ada lagi visa,” ruangan itu terasa berubah. Pernyataan singkat itu membawa implikasi besar terutama bagi pelaku bisnis, investor, dan masyarakat dari kedua negara.
Dengan kebijakan ini, Indonesia tak hanya membuka pintu, tetapi juga menggeser cara lama yang selama ini membatasi mobilitas dan kerja sama lintas benua. Dan seperti biasa, di balik setiap pintu yang dibuka, ada birokrasi yang harus rela kehilangan sebagian kekuasaannya.
Indonesia–Afrika: Dari Basa-Basi ke Bisnis Serius
Gibran menggambarkan Indonesia-Africa CEO Forum sebagai langkah besar menuju kolaborasi strategis antara negara-negara berkembang. Ia menekankan bahwa masa depan global tidak bisa lagi ditentukan oleh negara-negara besar saja. Menurutnya, kekuatan baru justru lahir dari kolaborasi negara berkembang yang saling menopang.
Narasinya mengalir dengan baik saat ia berbicara tentang perlunya pertumbuhan yang adil dan inklusif. Bukan sekadar jargon, tetapi penegasan bahwa kemitraan Indonesia dan Afrika harus dibangun di atas kepentingan bersama. Forum bisnis ini bukan lagi panggung basa-basi diplomatik, melainkan arena negosiasi nyata perdagangan, energi, pertanian, hingga investasi jangka panjang.
Dengan gaya diplomasi yang tenang namun percaya diri, Gibran mencoba menggambarkan bahwa Indonesia kini sedang naik kelas menjadi pemain global yang tidak lagi malu-malu.
Tim Ekonomi Jakarta Ikut Turun Gunung
Kehadiran Gibran di Afrika tak sendirian. Di belakangnya berdiri tim ekonomi Jakarta yang tampak siap bekerja Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Ketua KADIN Anindya Bakrie, Wamenkeu Thomas Djiwandono, hingga Wamenlu Arrmanatha Nasir. Komposisi ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam membawa agenda konkret.
Rombongan ini bukan tipe delegasi yang datang hanya untuk foto bersama. Mereka membawa portofolio dagang, proposal kerja sama, serta peluang investasi yang sedang menunggu mitra. Meski diselimuti bahasa diplomasi yang manis, semua tahu ini adalah misi dagang besar-besaran dan Afrika Selatan adalah pintu masuk strategis ke pasar benua Afrika.
Jika langkah ini berhasil, pelaku usaha Indonesia akan merasakan dampaknya langsung. Namun bagi pasar yang belum siap, persaingan ini bisa menjadi tantangan baru. Diplomasi, pada akhirnya, tidak pernah berjalan tanpa risiko.
Ramaphosa & Prabowo: Chemistry Baru Poros Selatan
Ketika Gibran kembali mengingatkan kunjungan ramah Presiden Cyril Ramaphosa ke Jakarta bulan lalu, ia seolah ingin menegaskan bahwa hubungan kedua negara kini sudah naik level. Kunjungan itu menjadi simbol chemistry baru antara dua pemimpin Global South yang ingin memperbesar suara negara berkembang di panggung global.
Keduanya telah menyepakati kebijakan bebas visa, mempercepat perdagangan, dan memperkuat kerja sama energi dan pertanian. Dengan fondasi itu, Indonesia dan Afrika Selatan tampak ingin membentuk poros baru yang tak lagi bergantung pada negara-negara besar dunia.
Jejak diplomasi ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya akan dirasakan banyak orang wisatawan yang bisa bepergian lebih mudah, pelaku UMKM yang punya pasar baru, dan mahasiswa yang punya kesempatan mobilitas internasional yang lebih murah.
Narasi Besar: Indonesia Meninggalkan Zona Nyaman
Selama bertahun-tahun, diplomasi Indonesia berjalan di jalur aman Asia Tenggara, Timur Tengah, sedikit Eropa, ditambah sambungan sopan ke Jepang dan Amerika. Tapi langkah cepat Gibran di Afrika Selatan memberi tanda bahwa Indonesia mulai berani melangkah ke medan baru.
Apakah ini langkah sempurna? Tentu tidak. Banyak pekerjaan rumah yang menunggu di belakang layar. Tetapi ini adalah langkah penting dan mungkin salah satu yang paling progresif dalam beberapa tahun terakhir.
Meski baru turun dari pesawat satu jam, Gibran telah memberi sinyal bahwa Indonesia siap bergerak lebih cepat. Di dunia diplomasi, kecepatan sering kali berarti pengaruh. Dan jika Indonesia ingin berhenti menjadi penonton, sprint seperti ini mungkin memang diperlukan.
Karena di panggung global, yang bergerak lambat hanya akan jadi catatan pinggir sementara dunia terus berlari. @dimas





