Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dubes Perempuan Pertama RI: Kisah Laili Roesad yang Tak Banyak Diceritakan

by dimas
April 20, 2026
in Figures
A A
Home Figures
Share on FacebookShare on Twitter
Di tengah perjalanan sejarah diplomasi Indonesia yang sejak awal didominasi oleh wajah laki-laki dan struktur kekuasaan yang kaku, satu pertanyaan besar muncul: ketika seorang perempuan pertama berhasil menembus ruang hukum kolonial, kursi peradilan yang tertutup, hingga panggung diplomasi dunia, seberapa siap sebenarnya sebuah bangsa menerima perubahan yang lahir dari keberanian untuk melawan batas yang sudah lama dianggap “normal”?

Tabooo.id: Figures – Laili Roesad menjadi salah satu nama penting dalam sejarah diplomasi Indonesia yang kerap luput dari sorotan publik. Lahir di Padang, Sumatra Barat, pada 1916, ia menempuh pendidikan hukum hingga meraih gelar Meester in de Rechten dan tercatat sebagai salah satu perempuan pertama di Indonesia dengan capaian akademik tersebut. Namun di balik prestasi itu, ia sempat berhadapan dengan tembok besar bernama gender. Peluang menjadi hakim tertutup hanya karena ia seorang perempuan. Situasi itu justru menggesernya ke jalur lain yang kelak jauh lebih berpengaruh diplomasi.

Dari ruang hukum kolonial hingga meja perundingan internasional, Laili Roesad kemudian mencatat sejarah sebagai Duta Besar perempuan pertama Republik Indonesia. Ia ditempatkan di Belgia dan Luksemburg pada 1959, sebelum melanjutkan tugas diplomatik di Austria. Di tengah situasi politik global pasca-kemerdekaan, ia menjadi bagian dari wajah Indonesia yang sedang membangun legitimasi di mata dunia, sekaligus membuka jalan bagi generasi perempuan diplomat setelahnya.

Persimpangan Dua Dunia

Laili Roesad lahir di Padang, Sumatra Barat, pada 19 September 1916. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan birokrasi kolonial. Ayahnya, Roesad Datuk Perpatih Baringek, pernah menduduki posisi penting dalam struktur pemerintahan Hindia Belanda, sementara ibunya, Hasnah Manan, dikenal sebagai salah satu perempuan awal yang mengakses pendidikan modern di Padang.

Sejak kecil, Laili hidup di persimpangan dua dunia tradisi Minangkabau yang kuat dan modernitas kolonial yang membatasi ruang gerak perempuan.

Pendidikan yang Menembus Batas Zaman

Laili menempuh pendidikan di Madrasah Adabiah, salah satu lembaga pendidikan Islam modern pertama di Indonesia. Dari sana, ia melanjutkan studi ke Rechtshoogeschool di Batavia dan meraih gelar Meester in de Rechten (Mr.), gelar hukum bergengsi dalam sistem pendidikan Belanda.

Ini Belum Selesai

D.N. Aidit: Dari Muazin Belitung ke Ketua PKI

Umi Sardjono: Dari Pendiri Gerwani ke Penjara Tanpa Pengadilan

Di titik ini, Laili mencatat sejarah ia menjadi salah satu perempuan pertama Indonesia dengan gelar hukum tingkat tinggi tersebut.

Namun sejarah tidak selalu bergerak lurus.

Citra vs Realita: Saat Gelar Tak Menjamin Ruang

Secara akademis, Laili berada di puncak. Tapi realitas sosial berbicara sebaliknya.

Ia sempat bekerja di Dewan Kehakiman Padang. Namun ada batas yang tidak bisa ia tembus perempuan belum diizinkan menjadi hakim.

Di sinilah narasi besar itu retak.

Citra publik: perempuan terdidik, simbol kemajuan zaman
Realita sosial: sistem hukum masih menutup pintu bagi perempuan

Kegagalan itu bukan akhir. Justru menjadi titik balik.

Dari Hukum ke Diplomasi: Jalan yang Tak Direncanakan

Pada 1949, Laili masuk Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Ia kemudian menjadi bagian dari delegasi Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saat Indonesia masih memperjuangkan pengakuan kedaulatan di panggung internasional.

Di ruang diplomasi global, Laili bukan sekadar “perempuan dalam tim”. Ia adalah bagian dari suara negara yang sedang mencari tempatnya di dunia.

Untuk memperdalam kapasitasnya, ia melanjutkan studi Hukum Internasional di London pada 1950–1952.

Narasi pun bergeser:

Narasi publik: diplomat perempuan pertama
Fakta lebih dalam: bagian dari arsitek awal diplomasi Indonesia di masa paling krusial

Puncak Karier: Dubes Perempuan Pertama RI

Tahun 1959 menjadi tonggak sejarah.

Laili Roesad diangkat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Belgia dan Luksemburg oleh Presiden Soekarno. Ia resmi menjadi perempuan pertama Indonesia yang memegang jabatan tersebut.

Dalam momen pelantikan, Soekarno menegaskan beban simbolik yang ia pikul:

“Seluruh pandangan bangsa Indonesia dan wanita Indonesia ditujukan kepada saudara…”

Sebuah penghormatan, sekaligus tekanan sejarah.

Ia menjabat selama delapan tahun, salah satu periode terpanjang dalam karier diplomatiknya.

Fase Naik, Fase Sunyi

Setelah Belgia dan Luksemburg, Laili melanjutkan tugas sebagai Duta Besar RI untuk Austria (1967-1970). Ia juga terlibat dalam peristiwa diplomatik penting, termasuk penandatanganan Konferensi Atomik dunia.

Namun seperti banyak tokoh besar lainnya, fase akhir kariernya tidak lagi berada di pusat perhatian publik.

Setelah pensiun, namanya perlahan menghilang dari percakapan utama sejarah diplomasi Indonesia.

Bukan Sekadar Pertama, Tapi Pembuka Jalan

Laili Roesad bukan hanya “yang pertama”. Ia adalah pembuka jalur.

Setelahnya, muncul generasi diplomat perempuan Indonesia, Supeni Pudjobuntoro, Esti Andayani, Niniek Kun Naryatie, hingga Retno Marsudi yang kemudian menjadi Menteri Luar Negeri perempuan pertama RI.

Namun satu hal sering terlewat, tanpa langkah awal Laili, jalur itu mungkin tidak terbuka secepat itu.

Jejak yang Tidak Selalu Tercatat

Laili Roesad wafat pada 2003. Tapi jejaknya tidak hanya hidup dalam arsip diplomasi.

Ia adalah bukti bahwa perempuan Indonesia pernah berdiri di meja perundingan dunia, di saat ruang itu masih sangat maskulin dan eksklusif.

Dan mungkin pertanyaan paling jujurnya bukan lagi tentang apa yang ia capai, melainkan:

berapa banyak pintu yang masih tertutup, jika tidak pernah ada yang berani mengetuknya lebih dulu?

Sejarah sering mengingat nama besar, tapi lupa siapa yang pertama kali membuat pintu itu bisa dibuka. @dimas

Tags: Diplomasi IndonesiaInspirasi PerempuanMinangkabauPerempuan IndonesiaSejarah Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Gerwani: Saat Propaganda Mengalahkan Fakta

Gerwani: Saat Propaganda Mengalahkan Fakta

by dimas
Juli 21, 2026

Gerwani pernah menjadi organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Namun, propaganda politik pasca-1965 membentuk citranya selama puluhan tahun. Bagaimana fakta sejarah...

Gerakan Perempuan Indonesia: Perlawanan di Bawah Bayang Penindasan

Gerakan Perempuan Indonesia: Perlawanan di Bawah Bayang Penindasan

by dimas
Juli 21, 2026

Gerakan Perempuan Indonesia, perlawanan di bawah bayang Penindasan mengulas sejarah panjang pembungkaman gerakan perempuan, dari kolonialisme, Gerwani, Orde Baru, hingga...

Rasisme Tidak Lahir dari Kebencian, tetapi dari Kekuasaan

Rasisme Tidak Lahir dari Kebencian, tetapi dari Kekuasaan

by dimas
Juli 20, 2026

Rasisme tidak lahir dari kebencian semata, tetapi dari sistem kekuasaan yang membangun hierarki manusia. Mengapa warisan itu masih bertahan di...

Next Post
Mini Cooper S 2014: Kencang di Jalan, Mahal di Bengkel?

Mini Cooper S 2014: Kencang di Jalan, Mahal di Bengkel?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id