Jumat, Mei 15, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Valuasi Rp14,6 Triliun: Kenapa Fiber Indosat Jadi Rebutan

by teguh
Mei 8, 2026
in Reality, Teknologi
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Teknologi – Pernah nggak sih kamu kesel gara-gara WiFi lemot, padahal cuma mau kirim file kerjaan atau streaming satu episode sebelum tidur? Atau kamu merasa hidup sekarang serba dikejar notifikasi, meeting online, dan deadline digital yang nggak ada habisnya? Nah, di balik semua drama sinyal itu, ada satu pemain sunyi yang jarang kita pikirkan tapi punya kuasa besar fiber optik. Dan pekan ini, fiber itu naik level jadi headline besar.

PT Indosat Tbk. (ISAT) resmi menggandeng Arsari Group dan Northstar membentuk perusahaan patungan penyedia koneksi fiber optik dengan valuasi fantastis Rp14,6 triliun. Indosat mengalihkan aset serat optiknya ke entitas baru dan menukar jaringan fisik itu dengan kepemilikan saham 45 persen. Arsari Group juga memegang 45 persen, sementara sisanya dipegang mitra lain dalam konsorsium. Kedengarannya teknis? Iya. Tapi dampaknya sangat lifestyle.

Fiber Bukan Cuma Kabel, Tapi Gaya Hidup Baru

Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, bicara lugas. Ia menegaskan bahwa hampir semua riset besar dari Bank Dunia sampai McKinsey sepakat soal satu hal fiber adalah tulang punggung infrastruktur digital.

Dengan kata lain, sebelum kita bicara AI, startup, konten kreator, atau kerja remote dari kafe estetik, semuanya butuh satu fondasi yang sama: koneksi stabil dan cepat.

Karena itu, Indosat memilih memonetisasi aset fiber, bukan menjualnya putus. Mereka ingin tetap ikut mengendalikan arah, sambil membuka ruang kolaborasi yang lebih besar. Vikram bahkan menyebut kolaborasi ini sebagai bagian dari dorongan menuju target pertumbuhan ekonomi Indonesia 8 persen.

Ini Belum Selesai

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Buat Gen Z dan Milenial, ini bukan cuma soal angka makro. Ini soal akses. Soal siapa yang bisa ikut ekonomi digital dan siapa yang tertinggal.

AI, Ambisi Besar, dan Infrastruktur yang Jarang Disorot

Deputy CEO dan COO Arsari Group, Aryo P.S. Djojohadikusumo, membawa diskusi ke level yang lebih futuristik. Ia menyebut AI sebagai tantangan sekaligus peluang terbesar abad ini. Mengutip CEO NVIDIA Jensen Huang, Aryo mengingatkan bahwa AI tidak berdiri sendiri.

Ada lima komponen utama: energi, chip, infrastruktur digital (fiber dan data center), model AI, dan aplikasi.

Masalahnya, kita sering lompat langsung ke aplikasi chatbot, generator gambar, rekomendasi algoritma tanpa peduli fondasinya. Padahal, tanpa fiber yang kuat, semua mimpi AI cuma wacana.

Aryo bahkan menggambarkan visi yang terdengar ambisius tapi relevan AI karya anak bangsa yang berjalan di atas infrastruktur fiber Indosat dan Arsari, ditenagai energi bersih. Ini bukan cuma narasi bisnis, tapi juga soal kedaulatan digital dan arah masa depan.

Kenapa Ini Penting Buat Hidup Sehari-hari?

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menambahkan konteks penting. Menurutnya, pemisahan antara perusahaan infrastruktur (infraco) dan penyedia layanan (servco) sudah jadi tren global. Banyak negara memilih model ini supaya pembangunan jaringan lebih fokus, efisien, dan cepat.

Buat masyarakat, efeknya terasa pelan tapi nyata. Internet yang lebih stabil berarti kerja remote lebih manusiawi. UMKM digital bisa tumbuh tanpa takut koneksi putus. Kreator konten bisa bersaing tanpa harus pindah kota besar.

Secara psikologis, koneksi yang andal juga mengurangi stres digital. Kita sering lupa bahwa rasa cemas saat Zoom freeze atau upload gagal itu nyata. Infrastruktur yang baik tidak bikin hidup sempurna, tapi setidaknya mengurangi satu sumber frustrasi harian.

Siapa Diuntungkan, Siapa Perlu Waspada?

Yang jelas diuntungkan: ekosistem digital, pelaku bisnis teknologi, dan generasi kerja fleksibel. Indonesia dapat fondasi lebih kuat untuk bersaing di era AI.

Namun, ada catatan penting. Konsolidasi infrastruktur besar selalu membawa risiko ketimpangan jika akses tidak merata. Fiber supercepat di kota besar tidak banyak berarti kalau daerah lain tetap tertinggal. Di sinilah peran kebijakan publik dan pengawasan jadi krusial.

Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?

Mungkin kamu tidak akan langsung merasakan perubahan besok pagi. Tapi pelan-pelan, keputusan seperti ini menentukan apakah hidup digital kita ke depan akan lebih inklusif atau makin eksklusif.

Karena pada akhirnya, fiber bukan cuma soal kabel di bawah tanah. Ia menentukan seberapa jauh mimpi digital bisa berjalan. Dan pertanyaannya sekarang apakah kita cuma jadi pengguna, atau ikut menuntut arah pembangunan yang lebih adil?. @teguh

Tags: DigitalEkosistemIndosatMonetisasiStarup

Kamu Melewatkan Ini

Kenapa Mahasiswa Ramai Cari Ruang Tumbuh di Luar Kampus?

Kenapa Mahasiswa Ramai Cari Ruang Tumbuh di Luar Kampus?

by teguh
April 30, 2026

Sabtu, 25 April 2026, lebih dari 176.000 mahasiswa dari Sabang sampai Merauke memulai perjalanan di Novo Club Batch 4. Angka...

The Longest Wait: Negara Sibuk Ribut, Timnas Malah Sibuk Menyatukan Kita

The Longest Wait: Negara Sibuk Ribut, Timnas Malah Sibuk Menyatukan Kita

by teguh
April 29, 2026

Di negeri yang sering lebih cepat panas karena politik daripada dingin karena solusi, sepak bola kembali datang sebagai penawar. Sementara...

UMKM Dipuji di Pidato, Ditolak di Sistem: Negara Kemana?

UMKM Dipuji di Pidato, Ditolak di Sistem: Negara Kemana?

by teguh
April 28, 2026

Pemerintah mendorong bank membiayai rumah rakyat, koperasi desa, dan program makan bergizi. Pada saat yang sama, bank digital memilih jalur...

Next Post
Rangking 400 ke 53 Dunia, Janice Tjen Target Tembus Olimpiade 2028

Rangking 400 ke 53 Dunia, Janice Tjen Target Tembus Olimpiade 2028

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Sepatu Kekecilan Itu Membunuh? Tragedi Siswa SMK Samarinda Bikin Publik Tersentak

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

Judol Memburu Anak-anak: 80 Ribu Bocah di Bawah 10 Tahun Terpapar

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

Pemerintah Tak Melarang Pesta Babi, Tapi Mengapa Nobar Mahasiswa Tetap Dihentikan?

Mei 14, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id