Tabooo.id: Sport – Gol tunggal Zidane Iqbal di menit ke-76 dalam laga ronde empat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, Minggu (12/10/2025) dini hari WIB, menjadi pembeda antara harapan dan kenyataan.
Di Stadion King Abdullah, setelah peluit akhir, mimpi 300 juta penduduk Indonesia untuk melihat Garuda di panggung dunia kembali pudar. Dan di tengah kekecewaan itu, satu nama langsung jadi sorotan, Patrick Kluivert.
Gagal Capai Target, Kontrak Dipertanyakan
Kluivert datang ke Indonesia dengan reputasi besar, eks bintang Ajax, Barcelona, dan timnas Belanda, serta misi jelas dari PSSI, yakni membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026.
Kini, setelah target itu gagal, nasibnya pun menggantung.
“Belum ada rencana yang jelas,” ujar Kluivert dikutip dari Aawsat, usai laga melawan Irak.
Pelatih 49 tahun itu mengaku belum tahu apakah akan mundur atau melanjutkan kontrak hingga 2027 mendatang.
“Pertama-tama kita harus merenungkan dengan tenang apa yang telah kita capai,” lanjut Kluivert.“Namun saat ini, saya belum memiliki jawaban yang jelas tentang masa depan, dan saya benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi,” tambahnya.
Nada suaranya datar, tapi dari matanya jelas, ia sadar apa arti kegagalan di negeri yang begitu haus kemenangan.
Dari Janji ke Realita
Patrick Kluivert resmi menangani Timnas Indonesia sejak Januari 2025, menggantikan Shin Tae-yong yang saat itu baru saja membawa Indonesia menang 2–0 atas Arab Saudi.
Penunjukan Kluivert sempat menuai pro-kontra. Sebagian publik menilai pergantian pelatih terlalu mendadak dan berisiko, sementara lainnya berharap darah Eropa Kluivert bisa membawa angin segar.
Namun performa Garuda di bawahnya belum stabil. Beberapa laga impresif di awal tak cukup menutupi kegagalan lolos ke Piala Dunia, target yang jadi tolok ukur utamanya. Kini, bahkan kontrak jangka panjang hingga 2027 itu terasa menggantung di udara.
Kisah Kluivert bukan sekadar drama sepak bola, tapi cermin dari ambisi dan ekspektasi publik yang begitu tinggi terhadap Timnas. Ia datang membawa harapan, tapi realita lapangan menunjukkan, nama besar tak menjamin hasil instan.
Apakah PSSI akan memberinya waktu membangun ulang fondasi tim, atau langsung menutup lembaran singkat ini?
Yang pasti, masa depan Garuda kini sama kaburnya dengan masa depan pelatihnya.
Karena di sepak bola, jarak antara pahlawan dan pesakitan hanya sepanjang satu kekalahan. @tabooo







